Sayangku, Ini Suratku untuk Penggemar Drama Sianida

Sayangku, Ini Suratku untuk Penggemar Drama Sianida

okezone.com

Selain sinetron anak ingusan balapan motor di jalanan, ada drama yang kelewat luar biasa untuk diabaikan dan menarik perhatian semua lapisan masyarakat. Dari ibu saya, tante saya, sepupu saya, hingga pasangan saya sendiri, menyeruput semua berita tentang kopi bersianida dengan lahap.

Berita kopi bersianida dan elegi tentang mirisnya nasib Mirna menjadi jaminan mutu sebuah berita yang menarik. Di majalah dan koran-koran gosip pun, kasus Mirna sudah menjadi tren yang luar biasa.

Tanpa mengurangi rasa belasungkawa, berita pembunuhan itu menjadi jauh luar biasa dari perjuangan ibu-ibu di Rembang dan masyarakat Papua yang lebih membutuhkan guru dan jaminan kesehatan yang mumpuni, dan datangnya peleton demi peleton tentara dari penjuru Indonesia ke tanah surga tersebut.

Bukan lantas saya abai bahwa kasus ini layak diusut dan dituntaskan dengan seadil-adilnya. Tapi, sorot terlalu tajam ke kasus Mirna adalah fenomena yang miris. Bahkan, bapak polisi yang gagah dan sukses menumpas teroris sampai membuka saluran hotline guna menerima masukan dari masyarakat soal penetapan tersangka dalam kasus minum kopi beracun ini.

Bukan apa-apa sayang, tapi ingatkah kamu bahwa Munir yang kita kenang itu juga mati diracun? Pembunuhan itu, sayangku, terencana atau tidak, tetap meninggalkan duka yang mendalam.

Tentu, kesedihan itulah yang ada dalam kasus Mirna. Kopi bersianida membawa masyarakat kita terlena dalam drama yang kelewat panjang dan terkesan didramatisasi dengan efek yang masif.

Saya tidak menutup mata terhadap kasus Mirna hingga kontroversi penetapan tersangka dan teka-teki siapa dalang pembunuhan wanita cantik itu. Tapi ayolah, apakah perlu sedemikian besar porsi yang diperlukan hanya untuk berminggu-minggu tenggelam dalam konspirasi kopi bersianida ini?

Wayan Mirna Salihin dan suami.
Wayan Mirna Salihin dan suami.

Kamu tahu, Munir, yang sudah dibuatkan museum di Malang dan foto wajahnya kerap dipakai untuk semangat menolak lupa, sudah bertahun-tahun diabaikan pemerintah. Entah siapa dalang asli di balik racun arsenik yang merenggut nyawanya.

Gelap sayangku. Gelap…

Kamu tahu Kamisan, sayangku? Kamu tahu derita kaum Syiah dan Ahmadiyah yang dicap kafir oleh sesamanya yang Muslim hingga terusir dari kampung mereka sendiri? Kamu tahu berapa banyak orang hilang ketika Orde Baru dengan gagah mengeliminasi siapapun yang dicap komunis?

Dan, sayangku, demi Tuhan, tahukah kamu tentang Salim Kancil? Yang mati dengan kesyahduan idealisme, lalu dipaksa tenggelam ke dasar samudera hiruk pikuk kopi bersianida ini?

Negara, sayangku. Ya negara kita, Indonesia. Negara tidak pernah benar-benar melindungi rakyatnya.

Saya dan kita semua sebenarnya selalu hidup dalam bayang-bayang perlawanan dan nafas revivalis yang menuntut kita waspada setiap waktu, ketika nasib tidak berpihak dan rakyat bukan lagi sosok penting bagi keberadaan negara.

Ketua DPR kita terjerat kasus. Anggota DPR kita berisi banyak orang bebal dan bodoh. Para menteri kita, tak jarang berubah menjadi komedian di waktu-waktu tertentu. Tahukah kamu hal-hal itu, sayangku?

Tahukah kau untuk sekolah tinggi dan belajar di universitas pun kita harus jatuh bangun memprotes UKT kampus yang sedemikian mencekik? Tahukah kamu kalau untuk masuk mall saja kita harus dibilang kere?

Mari sayang, bacalah buku-buku Milan Kundera. Kalau boleh aku sarankan, yang judulnya ‘The Book of Laughter and Forgetting’. Jangan malas, ah. Kita tidak pernah tahu terhadap hal-hal yang tidak pernah kita cari tahu.

Merawat ingatan adalah satu-satunya bentuk perlawanan kita terhadap perlakuan negara yang acapkali mengabaikan rakyatnya. Dan, di titik itulah, sayangku, kematian Mirna dalam kasus kopi bersianida ini tidak sebanding.

Kau bersimpati sedemikian masif terhadap kasus kematian Mirna, tapi apakah kau berdiri di posisi yang sama ketika saudara kita yang tidak seiman terusir dari rumah mereka sendiri?

Kau mengikuti kasus kopi bersianida dengan menggebu, tapi apakah dengan semangat yang sama kau ikuti perjuangan Suciwati mencari keadilan bagi kematian suaminya?

Kita tidak benar-benar mampu adil dengan ingatan, karena kita tidak pernah benar-benar mau mengingat. Sejarah, selalu tentang siapa pemenangnya. Dan, yang kalah, hanyalah menjadi pecundang.

Mainlah ke Malang dan datangi museum Munir. Beliau tewas dengan banyak kejanggalan dan cerita yang tak kunjung tuntas untuk diusut. Tidak sekarang, tidak dulu. Dan, entah kapan.

Cerita itu mengendap di sana. Di bawah gelas bekas minuman. Menanti untuk dikuak kebenaran dan keadilannya. Tapi kita tidak pernah benar-benar adil dengan ingatan.

Jadi, sayangku, kau mau kuracun dengan apa saat sedang asyik dengan kopimu sembari menikmati berita Mirna berulang-ulang? Atau, kau memilih untuk dimadu?