Saya Rusa Berbulu Merah, Saya Serigala Berbulu Hijau

Saya Rusa Berbulu Merah, Saya Serigala Berbulu Hijau

bukuonlinestore.com

“Ganyang… Ganyang… Ganyang PKI, Ganyang PKI sekarang juga!”

Pekikan itu terdengar dari sekelompok orang saat mendatangi Institut Francais D’Indonesie (IFI) Bandung, Rabu sore, 23 Maret 2016. Mereka begitu bersemangat mendesak pembubaran acara pertunjukan monolog ‘Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah’ yang digelar oleh kelompok teater asal Bandung, Mainteater.

Dengan menggunakan peci putih dan sorban hijau, mereka seperti sekawanan ‘serigala’ yang siap menerkam mangsa ‘rusa berbulu merah’, yang bakal dihadirkan di acara yang hampir bertepatan dengan 53 tahun penetapan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.

Kasus intimidasi dan pelarangan kebebasan berekspresi ini sialnya didiamkan bahkan terkesan didukung oleh negara. Kita ingat, belum lama ini juga terjadi peristiwa serupa di Jakarta, dimana sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam bersama polisi membatalkan acara Belok Kiri Fest.

Saya heran dengan sekawanan manusia yang tuna sejarah, yang cuap-cuap layaknya status ngehek Tere Liye. Baper banget. Tan Malaka adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, Bapak Republik Indonesia, filsuf kiri, komunis, pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Tan Malaka memang kiri dan seorang komunis. Tapi apakah pria yang nama aslinya Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka itu anti-Islam seperti yang ditakutkan oleh sekelompok orang yang hobi membawa-bawa nama Islam?

Meski komunis, Tan Malaka yang asli Sumatera Barat ini sebenarnya tidak disukai oleh elit-elit Partai Komunis Indonesia (PKI). Itu sebabnya beliau tidak mendukung pemberontakan PKI pada 1926-1927. Tan Malaka akhirnya mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI).

Pria yang seumur hidupnya tidak menikah itu juga putus hubungan dengan Moskow, karena kecewa terhadap sikap Stalin. Tokoh PKI Muso bahkan sempat berucap akan menggantung Tan Malaka jika bertemu. Jadi urusan Tan Malaka dan PKI sudah kelar.

Lalu, meski komunis, apakah Tan Malaka adalah seorang ateis? Dalam tulisannya yang berjudul ‘Islam dalam Tinjauan Madilog’ tahun 1948, beliau banyak bercerita soal dirinya dan Islam dalam pandangan Madilog.

“Saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Masih kecil sekali saya sudah bisa tafsirkan Al-Quran dan dijadikan guru muda. Sang ibu menceritakan Adam dan Hawa dan Nabi Yusuf. Tiada acap diceritakannya pemuka, piatu Muhammad bin Abdullah, entah karena apa, mata saya terus basah (menangis) mendengarnya. Bahasa Arab terus sampai sekarang saya anggap sempurna, kaya, merdu jitu, dan mulia,” kata Tan Malaka.

Saya pun kembali teringat dengan nama Haji Misbach atau ‘Haji Merah’. Sama-sama merah dengan Tan Malaka. Haji Misbach juga seorang muslim yang berpaham komunis. Bagi pak Haji dari Surakarta itu, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan. Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.

Tapi memang, sejarah adalah milik para pemenang. Nama-nama seperti Haji Misbach dan Tan Malaka tersingkir. Tan Malaka bahkan harus mati mengenaskan di tangan bangsanya sendiri, bangsa yang begitu dicintainya. Lalu, ketika bangsanya yang dicintainya ini ingin menunjukkan bahwa mereka juga cinta Tan Malaka, kenapa harus dilarang-larang? Dibubarkan secara paksa? Wahai engkau para penguasa, bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya?

Apa jadinya, jika kader-kader muda Tan Malaka tidak memaksa Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945? Apa jadinya Indonesia, jika tidak ada seorang Tan Malaka yang keras kepala melawan kolonialisme Belanda?

Beruntung, di tengah arus kritikan tajam relokasi PKL di Jl Purnawarman, Bandung, serta kasus dugaan penganiayaan, Ridwan Kamil, walikota Bandung yang belum lama ini mendeklarasikan Kota Bandung sebagai Kota HAM, mampu menyelesaikan pro-kontra acara monolog ‘Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah’.

Atas jaminannya, pementasan perdana monolog Tan Malaka yang sudah disiapkan oleh kawan-kawan penggagas lebih dari satu bulan lamanya, tetap bisa dilaksanakan pada 24 Maret 2016. Aksi heroik Kang Emil patut diapresiasi, apalagi ia berencana ikut menyaksikan pentas teater tersebut.

Saya ingin sekali bertanya kepada Kang Emil. Apakah ia tidak takut terpapar ide-ide dan gagasan-gagasan Tan Malaka, jika benar berencana menyaksikan pementasan monolog Tan Malaka? Apakah Kang Emil akan ‘murtad’ setelah menyaksikan teater tersebut? Dan, yang paling penting, apakah Kang Emil akan tetap berdiri menentang sekelompok orang intoleran yang juga merupakan warganya sendiri?

Sebagai kota ramah HAM, Bandung semestinya jauh dari sekelompok orang intoleran. Apalagi, kelompok ini selalu datang dan mengatasnamakan Islam. Apa yang salah dari sebuah pementasan teater? Apa yang menyimpang dari sebuah festival? Apa yang berbahaya dari sebuah pemutaran film dokumenter?

Satu-satunya kesalahan dari pentas monolog Tan Malaka bertajuk ‘Saya Rusa Berbulu Merah’ itu adalah pementasan tersebut berpotensi membuat anda pintar dan menghargai sejarah, terlebih sosok bangsa yang saat ini banyak dilupakan.

Kami tetap berdiri sebagai ‘rusa berbulu merah’, tak gentar serbuan kawanan ‘serigala berbulu hijau’. Terima kasih, Bung Tan… Tabik!