Saya Minder, tapi Bukan Inlander

Saya Minder, tapi Bukan Inlander

wallpaperfolder.com

Arcandra Tahar atau Archandra Tahar? Kenapa penulisan nama mantan (ah, lagi-lagi mantan) menteri ESDM itu berbeda-beda? Di wikipedia tercantum Arcandra, di situs resmi setkab ditulis Archandra. Di media-media nasional? Campur aduk. Ada Arcandra, ada juga Archandra.

Jangan bercandra dong… Ganti nama meski beda dikit itu tetep kudu syukuran selama 20 hari. Sesuai masa jabatan. Betul kan pak? Ah, bapak memang membingungkan. Tapi, baiklah, dalam tulisan ini saya akan menggunakan nama Archandra seperti di situs setkab. Secara itu institusi resmi negara, pasti data-datanya valid banget. Sudah melalui proses verifikasi aktual dan faktual. Ntap!

Kalau pun terjadi juga, anggap saja itu memang sedang bercandra. Lagipula, bukankah itu sudah lazim dalam kehidupan kita. Di setiap undangan pernikahan (ehm), selalu ditulis “Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama, gelar, dan alamat”. Terus kalau salah, kita nggak dateng gitu meski itu pernikahan mantan? Tetep dateng kan, tetep salaman kan, tetap makan kan. Jangan lupa taruh angpau!

Tapi jangan salah sangka dulu, saya benar-benar tak bermaksud mempertanyakan perbedaan nama pak Archandra. Atau, menyoal lagi status kewarganegaraan ganda yang menjadi dasar pencopotan beliau dari jabatan menteri ESDM. Apalagi coba meragukan nasionalisme dan kesetiaan beliau terhadap NKRI.

Tak cukup ilmu saya untuk mengadili pak Archandra seperti itu, dengan berbekal kuliah di jurusan Hubungan Internasional (HI) selama enam tahun dan belum juga wisuda. Apalagi membaca status, cuitan, dan komentar singkat di media sosial yang sangat nasionalis dan Indonesia banget, saya jadi minder.

Secara nasionalisme saya bangkit kalau timnas sepak bola kita menang lawan tetangga. Atau, atlet-atlet kita mendulang medali di olimpiade. Sesederhana itu. Sekarang bandingkan dengan komentar netizen soal Archandra yang cenderung expert nan sophisticated itu.

Tak hanya menyitir undang-undang soal kementerian dan kewarganegaraan, tapi bicara juga soal dampak dari seorang menteri yang berkewarganegaraan asing. Dalam konteks ini, Amerika. Dampaknya, apalagi, kalau tidak mengarah pada isu penguasaan kekayaan alam via Freeport dan Chevron. Belum lagi riak-riak bermuatan politis di balik itu, seperti siapa pengganti Archandra, dari partai mana, dan seterusnya.

Saya jadi ingat kata dosen saya, “Kepentingan Amerika itu tak melulu tentang Freeport. Freeport hanya unsur kecil.” Kalau ucapan itu benar dan urusan Freeport itu urusan sepele, untuk apa Amerika “mengirim” Archandra ke Indonesia untuk urusan sepele, sementara Archandra sendiri rawan sasaran tembak karena pegang paspor Amerika?

Indonesia memang tidak mengakui kewarganegaraan ganda. Gampangnya aja begini. Indonesia itu ibarat pacar kalian yang tak ingin diduakan. Kalau ada cewek atau cowok lain yang menarik perhatian kalian, maka pacar kalian dengan tegas meminta kalian untuk memilih, dia atau yang lain. Paham?

Saya bisa memahami kenapa Indonesia dengan tegas menolak kewarganegaraan ganda. Kalau pacar kalian yang biasa saja itu tak ingin diduakan, apalagi Indonesia?

Tapi saya kok berpikir begini. Lebih berbahaya mana dengan orang yang berkewarganegaraan Indonesia, yang lengkap dengan paspor RI, KTP, surat nikah istri pertama, kedua, dan ketiga, tapi bermental inlander?

Inlander bisa dibilang “penyakit mental” paling berbahaya yang diwariskan semasa zaman penjajahan. Inlander semula hanya sebutan untuk mengejek penduduk asli alias pribumi Indonesia oleh orang Belanda pada masa penjajahan.

Meski Indonesia sudah merdeka selama 71 tahun, nyatanya masih banyak orang yang bermental inlander. Mental sebagai bangsa terjajah. Bahkan berpikiran picik menyerahkan pengelolaan kekayaan bangsa kepada bangsa lain, karena menganggap bangsanya tidak akan mampu mengatur diri sendiri.

Sialnya, para inlander ini berpaspor Indonesia. Tentu mudah untuk membuktikan apakah seseorang memiliki paspor negara lain atau tidak. Tapi, bagaimana dengan inlander yang berpaspor Indonesia atau ber-KTP nasional? Saya memang minder membaca komentar netizen soal kewarganegaraan ganda yang dibungkus dengan rasa nasionalisme yang begitu tinggi, tapi maaf… Saya bukan inlander.

Kasus ini memang unik, apalagi menjelang perayaan HUT RI ke-71. Ya bisa dimaklumi kalau sampai bawa-bawa rasa nasionalisme yang begitu tinggi. Tapi, kalau menurut analisis cetek saya, perkara kewarganegaraan ganda bukanlah ukuran seseorang itu nasionalis atau tidak. Apa harus menjadi warga negara Indonesia untuk membuktikan bahwa ia mencintai Indonesia? Saya rasa tidak juga.

Banyak bule yang memahami budaya Indonesia lebih dari kita yang asli Indonesia. Ada bule yang mahir memainkan gamelan Jawa, justru saat kita berdebat mengenai masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia. Dan, pada saat yang sama, kita juga lupa bahwa ada ribuan tenaga kerja kita yang mencari nafkah di negara orang.

Banyak juga bule yang suka menjelajahi Indonesia saat kita yang asli Indonesia lebih sibuk cari tiket murah untuk plesiran ke negara tetangga. Banyak juga orang asing yang datang ke Indonesia dan mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia, karena kagum dengan kekecean alam Indonesia.

Sementara kita, pribumi, datang ke tempat-tempat wisata untuk berburu Pokemon. Bahkan ada usulan untuk mengarahkan monster-monster Pokemon yang langka ke tempat-tempat wisata di Indonesia agar tempat itu ramai dikunjungi wisatawan lokal. Miris.

Nasionalisme itu tidak bisa diukur. Nasionalisme bukan seperti makanan yang bisa ditimbang kalorinya. Nasionalisme itu terletak di dalam hati. Lagipula, bukankah sudah diperingatkan oleh Ustadz Felix Siauw bahwa nasionalisme tak ada dalilnya? #duarr. Dan, kita tak perlu menjadi Arsene Wenger, pelatih Arsenal yang bertahan lama – entah karena rasa cintanya yang besar pada klub atau bukan – tapi tak kunjung menunjukkan prestasi dan mempersembahkan trofi.

Dirgahayu Indonesia! Merdeka dari mental inlander!