Saya Bukan Kelas Menengah ‘Ngehek’

Saya Bukan Kelas Menengah ‘Ngehek’

andrewgavinmarshall.com

Saya agak tergelitik dengan artikel mas Jauhari Mahardika di Voxpop berjudul “Wahai Buruh… Berhenti Nyinyirin Kelas Menengah!” Artikel yang padat, singkat, dan berbasis data-data termutakhir.

Tapi entahlah itu sikap serius yang menegaskan posisinya sebagai bagian dari kelas menengah atau hanya lucu-lucuan melempar wacana kritis nan kreatif terkait buruh yang lagi mogok nasional demi pembatalan PP 78/2015 tentang Pengupahan yang sangat merugikan.

Saya berbaik sangka saja, karena saya yakin mas Jauhari tak se-‘ngehek’ rombongan kelas menengah, yang selalu mengeluh setiap ribuan atau bahkan jutaan buruh sedang mogok kerja atau sekadar unjuk rasa menuntut hak-haknya.

Saya sependapat, ketika kaum buruh yang sadar turun ke jalan, lalu mengorganisir sejumlah pemogokan demi perbaikan-perbaikan kondisi hidup masih seputar tuntutan normatif, semacam kenaikan upah. Itu masih jauh dari ideal.

Asumsi 5 juta buruh yang sadar akan hak-haknya sangat sedikit dibandingkan total tenaga kerja yang terdaftar di Kementerian Tenaga Kerja. Kebanyakan buruh kerah putih masih enggan disebut buruh, karena lebih nyaman dengan istilah karyawan atau pekerja.

Saya tidak ingin defensif sok-sokan membela kaum buruh, karena kalau mengacu kepada parameter Asian Development Bank (ADB), saya pun masuk rombongan kelas menengah dengan pengeluaran antara Rp 50-150 ribu per hari. Yah, ketahuan deh.

Tapi biarlah, yang penting saya nggak se-‘ngehek’ kelas menengah yang menganggap dirinya bagian dari kelas atas atau berhasrat sejajar dengan mereka hingga lupa daratan.

Ribut-ribut dan saling nyinyir antara buruh vs kelas menengah memang menjadi fenomena tersendiri akhir-akhir ini. Terus terang saja, saya tak heran, meski ini cukup menyita perhatian.

Kelas menengah ‘ngehek’ jadi istilah yang sangat populer saat ini. Begitu juga dengan nyinyiran kelas menengah terhadap kaum buruh yang menganggap tak tahu diuntung lah, tak bersyukur lah, bodoh lah, pecat saja lah, dan lain-lain. Ini menjadi perang tak berkesudahan khususnya di era digital dan jagat media sosial.

Balik lagi ke soal artikel sebelumnya. Pada akhir tulisan, mas Jauhari menyarankan agar meninggalkan jargon-jargon kelas buruh sedunia bersatulah, yang dianggapnya sudah usang. Lalu menggantikannya dengan kelas menengah sedunia bersatulah.

Pendapat saya pribadi ini lucu. Mungkin ini sebuah tafsiran karena kebanyakan bergumul dan bergaul dengan beragam kelas menengah rendahan atau kelas menengah tengah di perkotaan. Padahal, problem kelas menengah tak jauh beda dengan kelas buruh.

Ini bukan glorifikasi kelas buruh sebagai kelas pelopor dalam istilah beragam filsuf klasik, dengan kitab sucinya ‘Das Kapital’-nya Karl Marx, tapi rasanya kemunculan dan koreksi terhadap pembagian kerja dalam sistem kapitalisme itu sendiri yang akhirnya melahirkan kelas menengah yang banyak jumlahnya.

Rasanya mustahil, jika kelas menengah dengan ukuran indikator ADB, yang mana ini merupakan problem empirisme, dapat memunculkan ide lalu menyeret kelas menengah itu bergabung dan mendukung setiap upaya revolusi dengan syarat dan prasyarat tertentu yang dibutuhkan kaum buruh.

Tapi tentunya perlu diapresiasi usulan soal target pengorganisiran yang lebih diarahkan kepada kelas menengah. Saya teringat omongan seorang kawan. Jika seorang organiser kiri atau setidaknya yang mengaku kiri tidak ngepop, cuap-cuap agitasi dan propaganjen yang diusungnya bakal usang.

Saya sayup-sayup juga pernah mendengar buku ‘Capital in the 21st Century’ karya Thomas Piketty, yang diklaim sebagai ‘Das Kapital’ abad kekinian. Tapi otak dan pikiran saya belum cukup mampu menjadikannya sebagai referensi kekinian.

Jangankan itu, ‘Das Kapital’ yang orisinil karya Karl Marx saja masih sepotongan-potong bacanya, tak pernah tuntas. Ini persis seperti saya yang lahir dan besar di sebuah keluarga yang mengaku Muslim, tapi baca Al Quran saja masih ngeja dan tertatih-tatih.

Obrolan sekelas warung kopi lah yang menjadi satu-satunya sumber referensi membahas isu-isu terkini. Pembahasan tanpa arah, tanpa tujuan, dan tak terstruktur. Tapi di sana lah locus rakyat sebenarnya.

Inggris pernah melarang kopi, karena hanya melahirkan kecemasan bagi keluarga kerajaan. Jerman tak kalah seru, titah kembali ke bir yang pernah diserukan sang penguasa menunjukkan betapa berbahayanya kopi. Atau, Prancis, dimana ide dan gagasan di kedai kopi bermuara menjadi sebuah revolusi.

Satu hal yang tentu saja sangat klasik dan jauh dari kekinian bahwa ‘Keadaan lah yang menentukan kesadaran!’ Dukungan dari kelas menengah berkesadaran memang sangat dibutuhkan. Itu sebabnya para intelektual banyak mengembangkan landasan-landasan teoritik bagi perjuangan kelas buruh.

Saya jadi teringat ungkapan seorang intelektual organik asal Rusia, yang mengatakan kurang lebih begini. “Without revolutionary theory, there can be no revolutionary movement.”

Silahkan sebut saya ortodoks atau nggak kekinian. Selama kelas menengah enggan mengaku sebagai bagian dari kelas buruh, rasanya jargon kelas menengah bersatulah hanyalah lucu-lucuan, akibat ketidakmampuan menerjemahkan dan membaca landasan teoritik.

Jika memang seruan kelas menengah bersatulah dengan harapan mampu menjadi pelopor perubahan, kenapa tidak mereka mulai mengorganisir diri, lalu sesekali terlibat langsung turun ke jalan dan mendukung aksi mogok buruh saat ini?

Apakah mereka mau menjalankan bunuh diri kelas dengan ngopi-ngopi bersama buruh di warung kopi pinggiran? Kelas menengah juga buruh. Bersatulah dan bergabunglah bersama buruh, karena hari-hari esok adalah milik kita. Tapi jangan lupa ngopi dulu…

  • Masnya baper :v atau salah satu “mantan aktifis” 😉