Sastra Kekinian, Kita, dan Bob Dylan

Sastra Kekinian, Kita, dan Bob Dylan

Bob Dylan semasa muda (bobdylanarchive.com)

Sastra ada di mana-mana, bahkan sudah sampai di awan. Sastra serasa milik semua kalangan, setiap orang merasa layak untuk mendaku sebagai sastrawan. Di media sosial – sebagai ladang berkarya yang paling subur – karya sastra termasuk puisi, wara-wiri seolah ingin menyampaikan pesan yang sama: kekinian.

Selama ini, kita mengenal sastra dari berbagai sudut pandang. Dari mulai menghapal tahun periode sastra, sampai dengan suatu masa dimana periodisasi itu diabaikan, sebab mengira sastra hanya sekadar kata-kata indah. Puisi yang disuarakan Cinta dan Rangga atau bahkan secara sufistik menduga bahwa itu adalah puisi paling indah sepanjang sejarah.

Pengkotak-kotakan dan label ‘sastrawan’ yang mengurung para penulis sastra fiksi (prosa, puisi, dan drama), serta penulis biografi, otobiografi, esai, dan kritik sastra pun perlahan melebur. Puncaknya adalah dinobatkannya ‘Mr Tambourine Man’, Bob Dylan, sebagai pemenang Nobel Sastra oleh Swedish Academy.

Dylan diganjar nobel bukan karena beliau doyan update puisi di media sosial. Ia mengingatkan kita pada sesuatu yang asali: kebersatuan musik dan sastra, mirip-mirip dengan ‘Nada dan Dakwah’. Puisi-puisinya adalah medium berbahasa dalam musik Dylan.

Kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan Dylan untuk khazanah sastra bukan sekadar memilah dan memilih kata-kata indah. Gaby Wood dari The Telegraph pernah bilang, “Semangat politiknya melebihi Alice Munro dan memberi pengaruh global melampaui, katakanlah, Tomas Transtromer.”

Namun, kritikan memang selalu ada. Menanggapi itu, Komite Nobel menyatakan bahwa Dylan adalah orang yang telah mengeluarkan banyak album, yang membahas tema-tema seperti kondisi sosial manusia, agama, politik, dan cinta.

Terus, bagaimana dunia puisi kita? Bertema apakah dunia puisi kekinian kita? Saya merasa sedang kembali ke masa lalu, ke era angkatan sastra kemerdekaan. Pada era itu, hubungan antara karya sastra dan penulis intim sekali. Cara membaca karya angkatan itu condong pada karya sebagai suara sastrawan.

‘Aku’, misalnya, dipandang sebagai suara Chairil Anwar. Begitu pun ‘Atheis’ sebagai curahan pikir Achdiat Karta Mihardja. Angkatan ini membawa semangat ekspresionisme yang realistik, berharap banyak pada sastra sebagai perjuangan sosial.

Sudah setengah abad lebih berlalu, namun ciri khas pembacaan karya sastra jadul macam begitu masih saja berlangsung. Pembacaan puisi seringkali dijadikan terlalu personal. Puisi juga kerap dibaca dari sisi ekstrinsiknya saja.

Mungkin ini wajar, mengingat efek dari kemudahan informasi. Manusia jadi kepo pada setiap hal yang mengudara; menganggap urusan orang lain menjadi urusan kita juga. Coba sekarang lihat, orang-orang jadi gampang sekali baperan. Menulis fiksi malah ditanggapi macam baca infotainment. Misalnya komentar seperti ini, “Kau di dalam puisi itu siapa? Ciee… Jatuh cinta lagi ya.” Duh! Capeee dehhh…

Tentu, tanggapan seperti itu, terasa menyebalkan bagi mereka yang pada dasarnya hanya ingin berkarya. Kasihan orang-orang yang gemar menulis lirik-lirik cinta melankolis. Mereka jadi tersudut dan dikira hidupnya hanya perkara cinta-cintaan.

Meski sastra sudah jadi milik siapa saja, pada prosesnya menulis karya sastra itu tidak mudah. Tak semudah memindahkan realitas ke dalam tulisan. Sastra itu tidak hanya digunakan untuk mencurahkan isi hati dan pikiran, kemudian membuatnya jadi rasa penasaran publik.

Untuk memenuhi hasrat yang begitu mudah saja, tinggal mengganti subjek dan objek dari realitasnya. Mirip seperti tulisan ‘Oh Mama Oh Papa’. Saya A bersuamikan B, tinggal di kota X, selingkuh dengan si Y. Yaelah, Itu sih perkara gampang, sambil jongkok juga bisa. Kalau sastra hanya jadi sekadar itu, ya kasihan para sastrawan besar. Terlebih para pemenang nobel sastra. Sastra menjadi terlalu remeh dan lemah.

Sastra sepanjang sejarah adalah subjek yang kompleks, dan semoga selalu begitu. Kompleksitasnya mencakup huru-hara dari persoalan latar hingga pasar. Saya – sebagai penikmat yang usil – jujur saja menikmati ini. Karena memang begitu seharusnya.

Kita harus ingat, bahwa dalam sejarah, karya sastra mengalami banyak infus dari realitas sosial-politik. Dari pujangga lama hingga pujangga baru, dari generasi gelanggang hingga reformasi. Sastra dibutuhkan untuk menyerukan Manusia. Ya, Manusia dengan huruf M besar.

Sastra sebagai ruang kritis dan kreatif muncul sebagai monumen yang menyuarakan manusia dan konflik yang dialami, lengkap dengan imajinasinya. Segala rupa sastra adalah gerakan. Dalam hal ini, sastra melampaui sekadar imajinasi.

Saya yang sering berkhayal tak bisa kemudian menjadi seorang sastrawan dengan sekadar menyalin angan dan harapan dari kepala. Sastra adalah hadiah kepada pembaca yang diharapkan memberikan sesuatu yang belum pernah dicicipi. Tak melulu subjektif, namun juga mencakup dimensi objektif yang memikirkan sejarah, situasi politik, bahkan kondisi si pembaca.

Maka sesungguhnya, sangat membahagiakan sekali, ketika kita betul-betul berhasrat nyastra di media sosial. Kita punya akses yang mudah untuk menulis. Namun, karya sastra bukan sekadar penerjemahan realitas ke kolom ‘ingin menuliskan sesuatu’. Tentu ini bukan salah Mark Zuckerberg, Jack Dorsey, atau Matt Mullenweg kalau media sosial menyebabkan identitas sastra jadi rentan destruksi.

Muda-mudi dengan gaya ‘Oh Mama Oh Papa’ di akun media sosial juga tidak salah. Begitu pula penikmat sastra ala angkatan kemerdekaan. Jadi siapa yang mau disalahkan? Kesalahan, hemat saya, hanya pada kesadaran untuk tidak meremehkan sastra sebagai dirinya: sastra yang agung.

Kita perlu memperjuangkan nilai-nilai humanisme universal non-utopis seperti yang – sulit kita sangkal – turut dikandung dalam pena sejarah sastra. Meski cuma menyoal pena, dunia membutuhkannya sebagai palu yang memperbaiki dunia. Itu yang membuat sastra cyber (harusnya) punya makna tinggi. Bagaimana tidak, ia bisa melintasi segala bentuk spasialitas.

Dylan memenangi medali emas, gelar diploma, sertifikat, dan uang SEK 8 juta (Rp 11,8 miliar) bukan hanya karena lirik-lirik lagu yang puitik. Begitu pula Winston Churchill yang dianggap menang karena berhasil membebaskan Eropa dari cengkraman Nazi selama Perang Dunia II dan Svetlana Alexievich yang menyuarakan korban nuklir di Chernobyl. Mereka nyastra dengan membawa Manusia. Kalau kita?

  • Padet, Ra, tulisannya, as always 🙂