Saran untuk Warga Jakarta setelah Anies Terpilih

Saran untuk Warga Jakarta setelah Anies Terpilih

detik.com

Pada masa Orde Baru, meramal siapa yang akan menduduki jabatan kepala daerah tidaklah sulit. Pertama, siapkan kertas dan pulpen. Kedua, catatlah nama-nama petinggi militer di daerah tersebut, baik yang masih aktif, menjelang pensiun, atau sudah pensiun. Ketiga, lipat kertas tersebut dan simpanlah di bawah bantal.

Saat kepala daerah baru dilantik, buka kembali kertas catatan tadi. Anda akan menemukan nama kepala daerah tersebut di dalam daftar.

Cara di atas saya dapatkan dari seorang tetangga. Ia berumur enam puluhan, gemar bertaruh untuk urusan apa pun sejak remaja. Ia bahkan sempat memiliki empat rumah dan puluhan hektar sawah berkat menang taruhan, sebelum semuanya ludes akibat menjagokan Megawati pada pemilu 1999. Mungkin itulah sebabnya ia bergidik tiap melihat gambar banteng dan warna merah.

Sejak kejatuhannya yang mengenaskan itu, ia enggan bertaruh untuk urusan politik, terlebih pada era reformasi saat ini. Menurutnya, itu terlalu riskan. Sebab, orang-orang masih merayakan kebebasan memilih, yang tak mereka miliki pada era sebelumnya, meski dengan cara-cara absurd. Misalnya, memilih berdasarkan bentuk hidung, suara merdu, atau kesamaan keyakinan.

Maka, pada Pilkada Jakarta tempo hari, ia masih tak ikut bertaruh, meski salah satu situs judi memberi kompensasi yang menarik bagi seseorang yang menjagokan Anies-Sandi. Artinya, situs tersebut menganggap Ahok-Djarot memiliki peluang lebih besar untuk menang, meski terbukti asumsinya keliru.

“Seseorang bisa menjagokan tim sepak bola tertentu sebelum musim bergulir dari pergerakan di bursa transfer, sejarah tim, atau situasi internal di jajaran direksi,” ujarnya kepada saya. “Tapi menebak siapa yang akan memenangkan pilkada pada era reformasi ini sama sulitnya dengan meramal nama mertua pada hari pertamamu masuk TK.”

Bagaimanapun, Anies-Sandi menang. Drama pilkada sudah berakhir, meski masih menyisakan perdebatan sengit di jagat maya antar kedua pendukung.

Seorang pengguna Facebook yang memakai foto profil Kamen Rider sempat memamerkan status dengan latar warna-warni: “Alhamdulillah, tugas kita sekarang adalah mengawal penghitungan suara. Jangan biarkan mereka menyabotase kemenangan kita. Tuhan merestui usaha kita, Amin.”

Seorang pengguna lain, yang membuat status serajin sales diiming-imingi komisi enam kali gaji, mengetik dengan caps lock menyala: “INDONESIA BERDUKA.”

Keduanya keliru, tentu saja. Tidak mudah mendongkel posisi kampiun Anies-Sandi ketika itu. Ahok memerlukan ratusan ribu suara tambahan, yang bisa dilakukan dengan mendatangkan orang-orang dari luar Jakarta, serta menghipnotis seluruh panitia penghitungan suara di tiap TPS. Sayangnya, itu tidak mungkin dilakukan. Penghitungan telah selesai, dan ia sendiri masih dipusingkan oleh tuntutan jaksa di pengadilan.

Mengenai Indonesia berduka, yah, ini bisa dijadikan contoh penggunaan majas hiperbola dan totem pro-parte sekaligus. Pilkada Jakarta hanya berpengaruh langsung kepada warga Jakarta, meski orang-orang di Solok atau Ngawi atau Nunukan ikut menggunjingkannya.

Duka yang dialami oleh warga di luar Jakarta paling-paling hanya berupa kehilangan tontonan menarik. Lagipula, tidak semua warga Jakarta berduka. Ahmad Dhani, misalnya.

Namun, status-status semacam itu masih banyak berkeliaran di beranda saya. Pendukung Ahok masih berusaha untuk menegarkan diri, sementara pendukung Anies masih saja dihinggapi ketakutan yang mereka ciptakan sendiri.

Maka, daripada menyibukkan diri dengan bersikap melodramatis semacam itu, alangkah eloknya bila pendukung keduanya mulai menyiapkan kertas dan pulpen, serta mengingat kembali janji-janji gubernur terpilih.

Menagih janji pemimpin adalah sesuatu yang harus dilakukan, begitu kata tetangga saya tadi. Banyak orang yang belum terbiasa mengkritisi visi yang disampaikan oleh calon pemimpin saat kampanye, yang memang kadang-kadang tidak dimiliki oleh calon pemimpin itu sendiri.

Maka, hanya ada dua alasan mengapa warga Jakarta menjatuhkan pilihannya kepada Anies-Sandi. Pertama, pasangan itu berhasil membangun imaji positif di benak warga, entah santun atau saleh atau apa pun itu namanya. Kedua, mereka menyodorkan janji yang membangkitkan harapan, tak peduli seremuk apa imaji tersebut.

Beruntunglah warga Jakarta. Mereka memiliki pemimpin baru yang mampu menampilkan citra ideal seorang pemimpin, sekaligus menjanjikan hal-hal yang terlampau sulit untuk ditolak.

Janji Rp 1 miliar per RW, misalnya. Jika itu direalisasikan dan semua ketua RW memiliki sedikit akal sehat untuk menyalurkannya dalam bentuk bantuan modal usaha, rasanya sulit menemukan warga miskin di Jakarta.

Warga juga bisa berharap memiliki perpustakaan di kampungnya. Makmur dan berwawasan luas. Tak sulit membayangkan Jakarta bakal memunculkan kaum intelektual dari gerumbul semak manapun di perkampungannya.

Beberapa janji yang disodorkan memang membutuhkan sedikit kerja keras dan prasangka baik untuk ditelaah. Misalnya, janji floating houses untuk mengatasi banjir, uang muka nol rupiah untuk solusi kepemilikan hunian, dan ojek terbang guna mengurangi kemacetan.

Ketiga gagasan yang dijanjikan itu sering menjadi bulan-bulanan netizen, seolah mereka sedang kena sawan, sehingga tak bisa berpikir jernih ketika melontarkannya. Padahal, tidak.

Konsep floating houses sudah jamak dipakai oleh negara-negara maju untuk mengakali keterbatasan lahan. Saat daratan tak lagi memungkinkan untuk dibangun apa pun, maka perairanlah yang dilirik.

Menggunakan modular float system sebagai teknologi dan plastik HDPE sebagai pengganti tanah, konsep itu terbukti jitu mengatasi permasalahan lahan darat dan bencana banjir. Negara-negara di pesisir barat Eropa banyak mengaplikasikannya.

Tentu saja konsep hunian semacam ini cocok diterapkan di Jakarta. Hanya saja, konsep floating houses masih serupa makhluk asing. Orang-orang hanya tahu rumah terapung model kuno yang terbuat dari kayu menyerupai perahu, yang jangkarnya adalah hasil kolaborasi apik antara tali dan pohon. Jika banjir tiba saat pemiliknya terlelap dan lupa mengikat jangkarnya, ia akan bangun di tengah samudera.

Mengenai uang muka nol rupiah, yah, aturan Bank Indonesia memang masih mengharamkannya. Tapi kita tahu bahwa aturan perbankan bukanlah sesuatu yang tak bisa diutak-atik seperti syariat agama. Warga harus percaya kalau Anies-Sandi memiliki kemampuan untuk mempersuasi siapa pun yang berwenang untuk mengubah aturan tersebut.

Ingatlah, mereka berdua memiliki kemampuan membujuk jutaan orang untuk memilihnya. Merayu segelintir pemegang kuasa tampaknya sesuatu yang remeh bagi mereka. Tapi tidak tahu juga kalau harus menutup Alexis. Atau, melepas saham Pemprov DKI di perusahaan bir. Apakah itu juga sesuatu yang remeh?

Tapi, dari itu semua, ojek terbang jelas menduduki daftar teratas janji yang paling sering ditertawakan, bahkan oleh pendukungnya sendiri. Orang-orang membayangkan motor metik bermesin jet yang dikendarai oleh lelaki gugup berhelm hijau dan ibu-ibu yang nyaris pingsan ketakutan duduk di belakangnya.

Ada yang salah mengira dengan taksi helikopter, yang memang sudah dikenal sebelumnya. Tapi ada juga yang tak kalah absurd dengan mengimajinasikan sopir alien dengan piring terbangnya.

Kita memang tak punya gambaran yang lebih gamblang mengenai transportasi model begini—salah mereka sendiri tak menyuguhkan penjelasan yang lebih detail. Tapi, gagasan tersebut tampaknya realistis untuk diwujudkan, asal warga mau sedikit menyesuaikan cara pandang.

Misalnya, ojek tak melulu menggunakan motor. Ojek juga bisa memakai drone. Pada ajang Consumer Electronic Show 2016, sudah muncul drone yang bisa mengangkut penumpang hingga 110 kg pada ketinggian 3.500 meter. Ehang 184, nama drone ini, jelas lebih murah dan mudah ketimbang helikopter. Tak butuh lisensi pilot, dan pengendaliannya bisa dilakukan sambil tiduran di rumah.

Janji-janji lainnya bisa Anda cari dan rasionalisasikan sendiri, toh masih ada enam bulan sebelum dilantik. Jika Anda kebetulan memilih Ahok tempo hari, abaikanlah meme-meme yang mengolok-olok Anda karena menagih janji kepada orang yang tak Anda pilih. Suka tidak suka, Anies menjadi gubernur bagi semua warga Jakarta, tak peduli mereka mencoblos Ahok atau golput sekalipun.

Sekali lagi, tagihlah janji gubernur baru Anda. Saya benar-benar menekankan hal ini, karena sudah terlalu lelah melihat pemimpin yang mendadak terserang pikun sepuluh detik setelah dilantik. Pemimpin semacam itu pantaslah disebut keji. Ia menebar harapan kepada konstituen yang tak memiliki apa pun selain harapan, lantas mencampakkannya begitu saja.

Anda – camkan baik-baik – bukanlah bahan taruhan.