Agar Tak Ada Saracen-Saracen Baru di Antara Kita

Agar Tak Ada Saracen-Saracen Baru di Antara Kita

Ilustrasi (youtube.com)

Ibu selalu tertawa ketika mengingat pertanyaan saya sewaktu kecil dulu. Kala itu, saya bertanya dari mana saya lahir. “Kamu itu lahir dari udel,” jawab ibu sambil menunjuk bagian tengah perutnya. Saya tidak punya pilihan selain percaya dengan jawaban tersebut.

Setelah bertemu dengan bab reproduksi dalam buku Biologi, akhirnya saya tahu bahwa apa yang dikatakan ibu selama ini adalah kebohongan.

Tentu ini adalah sesuatu yang melegakan bagi ibu, karena uang yang selama ini dialirkan tak terbuang percuma. Bahwa pengetahuan telah membuat saya tahu apa itu udel dan apa itu vagina.

Ketika ibu ketahuan berbohong, saya bisa memakluminya karena beliau adalah salah satu orang tua konservatif yang enggan membicarakan hal-hal macam itu. Kebohongan ibu, rasanya tak terlalu mengerikan.

Tapi ketika kebohongan dikatakan oleh orang yang memiliki pengaruh luas, rasanya sangat mengerikan. Apalagi itu dilakukan pada era sekarang.

Kita hidup di zaman di mana kebenaran dianggap kebohongan dan kebohongan dianggap kebenaran. Batas yang memisahkan antara fakta dan dusta hanya setipis rambut. Definisi fakta dan dusta menjadi samar-samar.

Pada era digital seperti sekarang, kebohongan seperti menemukan lahan subur untuk tumbuh dan berkembang biak di tengah masyarakat. Kebohongan berupa kabar palsu atau hoax hidup di antara banyaknya gelombang informasi yang bisa didapat cuma-cuma dari internet.

Seperti serigala berbulu domba, hoax sering kali memakai jubah kebenaran dan membuat banyak dari kita terperdaya dan mempercayainya sebagai fakta.

Setiap hari, hoax muncul tanpa jeda. Hoax menyelinap masuk di berbagai media sosial. Hoax adalah virus yang menyebar lebih cepat dari virus H5N1.

Hoax bisa memicu kebencian dan sering kali berujung dengan aksi-aksi keji. Hoax menjangkiti siapapun tanpa pandang bulu, tak peduli agama, suku, ras, atau kelas sosial.

Hoax tetap hidup karena terus diproduksi berulang-ulang oleh sekelompok orang tak bertanggung jawab. Dan, salah satunya adalah Saracen.

Saracen merupakan sindikat penghasil serta penyebar berita hoax di dunia maya. Beberapa orang yang ditengarai sebagai otak dari Saracen berhasil diciduk aparat. Dari keterangan mereka, kita tahu bahwa bisnis hoax yang mereka jalankan bukanlah bisnis sembarangan.

Bergerak seperti organisasi, Saracen memiliki struktur dan perangkat yang membuat bisnis ini dikelola dengan sangat profesional. Saracen juga menerima pesanan hoax dari siapapun selama mereka menyanggupi tarifnya.

Saracen mematok harga mulai dari Rp 75 juta per konten. Sungguh angka yang fantastis. Bisnis hoax memang terdengar lebih menggiurkan dari bisnis peninggi badan di Instagram.

Tapi siapa yang mau makan dari uang haram? Hanya orang-orang bermoral kerdil yang merasa tidak berdosa menjalani bisnis tersebut.

Sasaran utama dari Saracen adalah mereka yang hidup di pinggiran kota. Mereka yang berada di kelas sosial terbawah dan minim wawasan yang jadi target hoax.

Tapi sulit menyimpulkan bahwa hoax hanya dikonsumsi oleh mereka dari kelas bawah karena dalam beberapa kasus kita sering mendapati bahwa mereka yang berada di kelas atas pun tak luput dari hoax.

Tak jarang pula kita mendapati mereka yang memiliki intelektual tinggi teracuni oleh hoax. Hoax telah menjangkiti ke berbagai kalangan. Hoax telah menyebar melintasi kelas sosial.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk melawan dan menangkal hoax? Apa yang dilakukan aparat terhadap Saracen patut diapresiasi sebagai upaya melumpuhkan penghasil hoax. Namun, ada indikasi bahwa Saracen yang diciduk bukanlah satu-satunya.

Masih ada ‘Saracen-Saracen’ lain yang berkeliaran di jagat maya yang harus diberantas tuntas. Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan kebencian, meski ngakunya sok kritis.

Selama anda saling membenci, ‘Saracen-Saracen’ baru akan selalu ada dan berlipat ganda. Dan, percayalah, anda hanya akan menjadi komoditi, orang lain yang tertawa dan mereguk ‘untung’.

Karena itu, penindakan tak akan optimal tanpa adanya upaya pencegahan. Edukasi mengenai hoax secara menyeluruh menjadi penting, karena selama ini banyak dari kita yang sekadar tahu hoax tapi tidak pernah tahu cara membedakan hoax dan yang bukan.

Semua itu idealnya diupayakan oleh pemerintah selaku kontrol utama yang perannya krusial dalam upaya memberantas hoax. Alangkah baiknya bila media-media yang sudah kredibel mau turun tangan ikut mengentaskan hoax di masyarakat.

Jika semua upaya tersebut dilakukan secara konsisten, termasuk dari kita sendiri, rasanya tak akan ada lagi hoax di antara kita. Bagaimana, sudahkah anda menyebar hoax hari ini?