Sang ‘Mesias’ yang Selalu Ada dan Berlipat Ganda

Sang ‘Mesias’ yang Selalu Ada dan Berlipat Ganda

Pertama kali mendengar Gafatar, pikiran saya langsung tertuju ke Avatar, filmnya James Cameron tentang suku Na’vi di bulan bernama Pandora. Gafatar, yang ketika itu saya mengira dieja Gavatar, mungkin saja film animasi baru atau sekuelnya Avatar. Tapi ternyata Gafatar yang dimaksud adalah Gerakan Fajar Nusantara.

Mendengar nama Gerakan Fajar Nusantara, saya lalu kembali berpikir. Apa ini ada hubungannya dengan senjakala yang lagi dibahas oleh para penulis hebat di seluruh nusantara? Terlintas di pikiran saya, pasti sebentar lagi ada artikel berjudul ‘Inikah Senjakala Nusantara?’ atau ‘Ini Fajar Baru Nusantara Bro, Bukan Senjakala’. Bla… Bla… Bla…

Tapi, lagi-lagi, saya salah. Atau, saya yang sebenarnya nggak pernah tahu soal Gerakan Fajar Nusantara alias Gafatar itu? Hanya orang tertentu yang direkrut yang tahu bahkan paham soal Gafatar. Bagaimana dengan anda? Apakah pernah direkrut atau jangan-jangan anda aktif jadi anggota Gafatar?

Saya sangat terbuka untuk berdiskusi termasuk dengan anggota Gafatar. Siapa tahu, dibalik ini semua, ada hikmahnya. Selama ini kan Gafatar dicap sebagai organisasi sesat, berbahaya, dan terlarang. Stempel yang mirip-mirip dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), bukan? Tapi apakah benar-benar begitu?

Kalau kita lihat, hilangnya Dr Rica dan sejumlah anggota Gafatar belum tentu benar-benar hilang atau diculik. Ada yang bilang itu dalam rangka hijrah ke Kalimantan atau ke daerah-daerah di kawasan timur Indonesia. Sebab, para kader militan Gafatar percaya, kalau Pulau Jawa akan tenggelam suatu saat nanti.

Saya sih tidak percaya Pulau Jawa bakal tenggelam. Kalau Sidoarjo Jawa Timur, mungkin saja, apabila PT Lapindo Brantas tetap ngotot untuk mengebor yang katanya sumur minyak itu. Atau, Jakarta yang sekitar 40% wilayahnya berada di bawah permukaan laut dan terjadi infiltrasi air laut di bawah tanah sepanjang 10 kilometer.

Tapi, kalau ada orang percaya Jawa akan tenggelam bak kapal Titanic setelah menabrak gunung es, silakan saja. Kalaupun mereka akhirnya eksodus ke Kalimantan, Sulawesi, atau daerah-daerah di timur Indonesia, itu kan sisi positifnya. Pulau Jawa sudah penuh sesak. Saya pikir transmigrasi ke luar Jawa ada baiknya untuk pemerataan.

Lagipula, anggota-anggota Gafatar itu rata-rata adalah pemuda-pemudi yang memiliki keahlian khusus dan berpendidikan cukup tinggi. Gafatar menyasar anak muda yang ahli di bidang informatika, pertanian, dan kedokteran. Jarang ada orang dengan kemampuan-kemampuan seperti itu mau bertransmigrasi. Pertumbuhan ekonomi kita bakal berkualitas, tak sekadar angka-angka seperti saat ini.

Kegiatan mereka pun juga bersifat sosial, seperti pengobatan gratis, pendidikan gratis, dan membantu tanggap bencana. Jujur saja, berharap negara hadir untuk itu rasanya sudah mati rasa. Mungkin itu yang akhirnya memunculkan ‘Mesias’ atau ‘Sang Juru Selamat’.

Para kader, anggota, dan simpatisan Gafatar bisa dibilang ingin ambil jalan pintas, mungkin sudah frustrasi, karena negara ini tak mampu menyelamatkan kehidupan warganya. Pada titik inilah biasanya muncul figur yang sebenarnya cenderung fundamentalis bahkan fasis yang piawai menjual mimpi di dunia maupun akhirat kelak.

Jika kemunculan ‘Mesias’ dan doktrin yang menyimpang dari ajaran agama Islam, seperti tidak wajib salat, tidak wajib haji, dan tidak wajib puasa menjadi persoalan, sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab negara, para tokoh agama, dan masyarakat untuk meluruskannya.

Kita sudah muak dengan organisasi keagamaan yang bisanya cuma keluarin fatwa haram apa-apalah itu. Atau, organisasi massa yang jual-jual agama dan Tuhan, tapi identik dengan perilaku kekerasan yang melanggar hukum. Toh, ormas tersebut tidak dilarang.

Jadi, saya punya sedikit saran ecek-ecek. Kalau bikin organisasi di negeri yang beradab ini tidak cukup hanya mengusung anti-kekerasan dan kasih sayang. Harus jual-jual ‘agama’ dan ‘Tuhan’ juga supaya laku.

Bayangkan, saat kondisi masyarakat yang berpikir jalan pintas, negaranya juga ikut ambil jalan pintas. Loh, bukankah melarang ini-itu jalan pintas? Keluarkan surat, beres. Buktinya, Gafatar sudah dibubarkan sejak Agustus 2015, tapi masih beroperasi. Bagaimana pengawasannya? Ya begitu deh, wong cuma keluarin surat saja. Berharap ada pembinaan? Ya jangan mimpi. Kalau begitu, saksikan saja nanti. ‘Mesias-mesias’ baru bakal terus bermunculan.

Organisasi seperti Gafatar harusnya dibina supaya lurus dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Terlepas dari itu, kita tetap harus mawas diri dengan gerakan-gerakan ekstrem keagamaan yang memikat hati.

Ada yang tahu jemaat Jones bergerak di Amerika pada periode 1950-an? Mereka benar-benar memikat masyarakat, karena gerakannya membantu warga kota paling miskin, khususnya kaum minoritas rasial, pecandu obat bius, dan tuna wisma.

Bahkan, dapur-dapur makanan, pusat-pusat asuhan, dan klinik-klinik medis untuk orang usia lanjut didirikan. Sungguh mulia apa yang dilakukan Jones dengan jemaatnya. Sampai banyak yang merasa tidak mungkin bahwa kelompok itu akan bunuh diri masal bersama 912 orang jemaatnya di Guyana pada 1978.

Aksi sosial jemaat Jones hampir serupa dengan gerakan Gafatar. Selain kegiatan sosial, Jones juga akhirnya meminta para jemaatnya untuk hijrah, dari sebelumnya berbasis di Indianapolis menuju Guyana. Yang sekarang bisa dilakukan adalah lebih memperhatikan keluarga, teman, dan kamu. Ya, kamu yang sedang tersipu malu…

Foto: 12th-imam.com