Surat Cinta Seorang Jomblo untuk Sandiaga Uno

Surat Cinta Seorang Jomblo untuk Sandiaga Uno

ilustrasi (retorika.id)

Dear Pak Sandiaga Uno,

Perkenalkan, saya hanyalah seorang remaja yang baru lulus kuliah setelah 5 tahun. Saya bekerja sebagai staff writer di sebuah perusahaan yang isinya penulis, dan baru bekerja selama 3 minggu. Saya jomblo loh, Pak. Saya sudah jomblo atau single selama 7 tahun. Hebat kan?

Iya memang sih, saya tidak pintar, tidak tampan, dan tidak sukses seperti bapak waktu muda dulu, apalagi sekarang. Tapi, itu lho, cuitan bapak kok seperti mempermalukan mereka yang single, jomblo, atau yang tidak memiliki pasangan. Single-shaming, istilahnya.

Kalau mau dibilang kecewa, saya kecewa. Definisi jomblo atau single itu sangat sensitif. Oh bukan, bukan karena saya sudah lama menjomblo. Tujuh tahun nggak punya pasangan itu masih sebentar, Pak. Apalagi cuma sekadar ‘pacar’.

Oh ya, sebelum saya melanjutkan ini, saya mau cerita sedikit.

Saya diadopsi secara sah oleh Bude dan Pakde saya. Tentunya sesuai ketentuan dan melalui Pengadilan Agama. Jadi, saya punya 2 pasang orang tua. Whaaa… Keren kan?

Saya diadopsi sejak kecil, tapi lupa saat umur berapa. Saya memanggil orang tua angkat dengan sebutan Mama dan Papa, sedangkan orang tua kandung saya panggil Ibu dan Bapak. Supaya enggak bingung aja ketika memanggil mereka.

Kenapa saya cerita soal ini?

Jadi, pada Hari Ibu tahun 2007, saya kehilangan Mama, ibu angkat saya. Ya betul, Mama meninggal tepat pada Hari Ibu. Saya waktu itu masih 12 tahun, Pak. Masih kelas 2 SMP, belum tahu apa-apa saat diberitahu Mama meninggal.

Tapi ketika jenazah Mama sudah sampai rumah, saya nangis, di depan orang-orang yang bahkan sebagian dari mereka tidak saya kenal. Mama orangnya baik banget, ramah sama orang, jadi banyak temannya yang peduli.

Sejak 2007 sampai sekarang atau 10 tahun setelah kehilangan Mama, saya dan Papa tinggal berdua. Orang-orang banyak yang heran. Papa saya kok bisa ya, seorang diri membesarkan anak yang gampang nangis, suka ngambek, dan banyak maunya ini.

Banyak yang bertanya dan menyarankan Papa untuk nikah lagi. Papa nggak mau. Bilangnya sih saya nggak ngizinin. Saya sebenarnya nggak masalah, tapi saya yakin Papa nggak mau nikah lagi karena memang nggak akan ada yang bisa menggantikan Mama yang super baik, super ramah, dan super perhatian.

Jadi begitu, Pak Sandi… Bapak sekarang hebat, bisa jadi wakil gubernur DKI Jakarta. Tapi Pak, orang yang tidak punya pasangan atau jomblo atau single, bukanlah makhluk hidup yang tingkatannya di bawah mereka yang punya pasangan.

twitter

Ada alasan kenapa mereka sendiri dan tidak punya pasangan. Ada cerita dibalik semua orang yang tidak punya pasangan. Beberapa di antaranya bisa jadi cerita tragedi dan cerita cinta.

Papa saya, meskipun saya tahu dia sedih, dia berusaha untuk tetap kuat di hadapan saya. Dia nggak mau saya tumbuh merasakan kekurangan sesuatu. Dia selalu bercerita ke saya tentang Mama, cerita tentang mereka, cerita tentang bagaimana Papa harus menghadap ke keluarga Mama.

Papa nggak mau saya tumbuh dengan kesedihan. Bagaimanapun caranya, dia merasa harus memenuhi kebutuhan saya. Dia belajar masak, walaupun masakannya nggak selalu enak. Tapi saya dengan senang hati memakannya.

Dia selalu berusaha untuk membuat saya bahagia. Dia membelikan saya gitar, yang kemudian saya gunakan untuk menulis lagu tentang Mama. Lagu yang sampai saat ini nggak bisa saya nyanyikan karena saya selalu nangis.

Papa selalu mencoba untuk melakukan apapun agar kebutuhan finansial saya terpenuhi. Dia menjual mobil agar saya bisa kuliah dan lulus serta renovasi rumah. “Buat kamu nanti besar dan berkeluarga,” katanya.

Orang jomblo itu kuat, Pak. Saya paham manusia memang tidak bisa hidup sendiri, kita makhluk sosial. Tapi dengan mempermalukan seseorang hanya karena mereka tidak punya pasangan, itu perilaku memalukan, Pak. Terlebih, dari seorang pejabat pemerintah.

Saya nggak tahu bapak sudah ngapain aja selama jadi wakil gubernur. Tapi seharusnya bapak bisa mengayomi dan memberikan kenyamanan bagi warganya, bukan malah mempermalukan mereka. Katanya ‘Maju Kotanya, Bahagia Warganya’? Gimana sih, Pak?

Lalu, apa maksud bapak bawa-bawa ayat kursi? Kenapa orang yang tidak punya pasangan harus banyak-banyak baca ayat kursi? Ayat kursi itu baik untuk dibaca oleh semua umat Islam lho, Pak, tanpa harus membeda-bedakan status.

Setahu saya, ayat itu memberitahu kita bahwa tidak ada yang bisa dibandingkan dengan Tuhan. Apa hubungannya secara khusus dengan orang-orang yang tidak punya pasangan?

Bapak mau kebelet gawl juga yha? Mau dibilang gawl sama anak-anak muda kekinian? Kasihan ihh.. Sudah terkenal gitu masih kebelet gawl.

Jadi gitu aja, Pak. Saya jadi ngerasa habis ikut sesi terapi, cerita tentang keluarga begini. Maaf ya, Pak, saya yang salah. Sepertinya bapak bukan orang yang tepat untuk saya membagikan cerita cinta keluarga. Mungkin bapak masih kurang paham apa itu cinta.

Sekian dari saya yang menulis surat ini di laptop yang dibelikan Papa, seorang jomblo yang bisa menghidupi anak laki-laki yang banyak maunya ini tanpa membutuhkan pasangan hidup lainnya.

Terima kasih..

  • Astrini Isfandiari Adisoma

    Tulisannya bagus banget, mas. Saya sangat tersentuh dengan cerita tentang Papanya mas Aggi yang memilih untuk jomblo dan mendedikasikan hidup dan cintanya kepada anaknya yg ia sayangi. Semoga para public figure yang kebelet gaul sadar dan belajar untuk tidak mengolok-olok atau menjadikan bahan bercandaan suatu kelompok masyarakat tertentu.

  • Sundea Salamatahari

    🙂