Ternyata Sandal Jepit yang Paling Pancasilais di Republik Ini

Ternyata Sandal Jepit yang Paling Pancasilais di Republik Ini

Ilustrasi (abna-aulad.blogspot.com)

Belajar memaknai Pancasila bisa dari mana saja. Jika anda merasa bosan belajar Pancasila dari upacara-upacara rutin pada hari senin, pelajaran PPKn di bangku sekolah, atau doktrin-doktrin dalam ceramah kebangsaan, maka belajarlah Pancasila dari sandal jepit.

Nilai dari sila ke-1, Ketuhanan Yang Maha Esa, telah merekat erat pada sandal jepit. Disadari atau tidak, selain para pemimpin agama, dorongan mencari takjil, mimpi mendapat ukhti-ukhti atau stres diuber bank plecit, yang paling berjasa dalam membawa umat menuju tempat ibadah adalah sandal jepit.

Anda bisa perhatikan pintu masuk masjid. Deretan sandalnya pasti didominasi oleh sandal jepit. Lebih spesifik sandal jepit berwarna hijau atau biru. Apalagi ketika sholat Jumat, sandal jepit ibarat suporter Viking dan Bonek yang mendominasi arena persandalan. Sama-sama akur.

Dari sandal jepit pula kita belajar tentang memanusiakan manusia. Sandal yang paling cocok dengan sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Lha, bagaimana tidak, sandal ini paling peduli dengan masyarakat miskin  di Indonesia.

Sandal jepit adalah sandal yang paling bisa dibeli oleh masyarakat miskin Indonesia. Menurut pemerintah penghasilan penduduk yang menjadi batas garis kemiskinan yakni Rp 361.990 per kapita per bulan atau sekitar Rp 12.000 per hari.

Dengan uang Rp 12.000, kita masih mendapatkan sepasang sandal cantik nan serbaguna. Bahkan masih ada kembalian sekitar Rp 3.000-4.000. Sisa uangnya masih bisa untuk beli sego kucing plus gorengan di angkringan. Sandal jepit memang juara.

Tak hanya itu, sandal ini sudah didesain untuk mudah diperbaiki saat rusak. Yang paling sering rusak dari sandal jepit adalah bagian pentolan di bagian bawah sandal. Solusinya gampang, tinggal dipasang paku yang melintang atau bundelan tali karet. Karetnya bisa ambil juga dari karet bungkus sego kucing tadi. Gimana gak hemat kalau begitu.

Bahkan ketika sandal ini rusak, masih saja bisa dipakai. Waktu saya masih kecil, sandal ini dipakai untuk bikin ban mobil-mobilan dari bambu. Bisa juga untuk bikin rem sepeda yang dipasang di antara sadel dan ban sepeda. Cara ngeremnya dengan menginjak sandal jepitnya itu.

Nah, sekarang, coba sebutkan apa yang bisa menyatukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke? Tidak lain adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sebagaimana tertulis dalam Sumpah Pemuda. Selain Bahasa Indonesia, sandal jepit juga simbol persatuan, sesuai sila ke-3, Persatuan Indonesia.

Hampir semua suku dan agama, pernah memakainya. Bahkan predikat sandal sejuta umat patut disematkan pada sandal ini. Kalau kita pergi ke pelosok desa, ada orang-orang tua yang susah untuk berbahasa Indonesia. Tapi mereka nyaman dengan memakai sandal jepit.

Jadi bisa ditambahkan, ketika bahasa tak bisa menyatukan, maka sandal jepit adalah cara lain menyatukan perbedaan kita.

Sekarang mari kita bicara sila ke-4, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Tentang pentingnya musyawarah mufakat untuk kepentingan bersama.

Saya meyakini  bahwa kemunculan sandal jepit adalah buah dari musyawarah mufakat yang keren abis. Orang-orang dibalik sandal jepit ini benar-benar mempertimbangkan kepentingan bersama rakyat Indonesia.

Desain sandalnya simpel. Serampat sandal berwarna, dengan bagian telapak yang tidak bermotif. Bagian telapak sandal yang polosan menjadi wahana kreativitas orang-orang Indonesia. Bagian yang polos tersebut ada yang bikin ukiran batik, ukiran nama, ukiran kartun, sampai gambar pemandangan.

Ada juga yang ekstrem, mulai dari curhat galau di sandal sampai sumpah serapah. Pernah saya temui sandal yang ditulis dengan nada ancaman. Misalnya, “Nyolong mati!” Saking sandal ini menjadi komoditi populer untuk dicuri/tertukar di tempat-tempat umum.

Yang terakhir sila ke-5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sandal jepit bisa dibilang lambang keadilan yang haqiqi. Sandal ini melayani semua kelas sosial dengan adil. Mulai dari kelas rendahan, menengah hingga atas, sandal jepit ya begitu-begitu saja. Sederhana, namun nyaman bagi semuanya.

Bahkan sandal jepit ini pernah melayani artis Korea, Sehun EXO. Mbuh siapa itu Sehun EXO, lha wong saya bukan penggemar K-Pop. Mending lagu dangdut. Biarpun lirik sedih, bahkan lirik keagamaan, tetep aja goyang. Unik memang.

Sandal jepit itu tidak mengistimewakan kelas-kelas tertentu. Tak ada namanya yang kelas atas, terus sandal jepitnya dilapisi emas, intan, dan berlian. Lha ya sayang dong nanti lapisannya mritili gegara kegesek-gesek pas di jalan.

Tak ada pula yang kere, sandal jepitnya terbuat dari kayu sengon, plastik kresek, atau gombal amoh. Sandal jepit melayani semuanya dengan adil dan merata.

Pesan saya terakhir, kalau sampeyan mengaku seorang Pancasilais sejati, tak perlu mengumbar gambar-gambar foto profil Pancasila. Atau, berkoar sana-sini menjelekkan ormas-ormas yang katanya anti-Pancasila.

Wis, sekarang maknailah Pancasila dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Sesederhana kita memaknai sandal jepit…

  • IvAk Marshall

    Mantap mase,…

  • Wawan Agusti

    Hehehe bisa aja kamu mas

  • Habib Lembut 💖

    gue termasuk agak elite.. krn pake sendal lily 🙂