Hubungan yang Rumit dengan Sampah Hingga Jadi Mantan Terindah

Hubungan yang Rumit dengan Sampah Hingga Jadi Mantan Terindah

Ilustrasi (tribunnews.com)

Setiap hari, orang-orang ngomongin sampah. Mulai dari puntung rokok yang dibuang sembarangan, sampah rumah tangga yang menumpuk di pinggir jalan, hingga sampah kenangan yang tak henti-hentinya membanjiri pikiran.

Kita terus mempersoalkan sampah, padahal itu seperti hubungan sama mantan: diselesaikan baik-baik dan kalau susah dipahami, ya sudah, memahami diri sendiri saja.

Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi masalah ini, khususnya sampah yang dihasilkan kota-kota besar. Mulai dari program kampanye membuang sampah pada tempatnya yang nggak ada habis-habisnya, jalan-jalan gratis studi banding ke beberapa negara di Eropa, sampai memanggil Power Rangers ke Jakarta.

Itu loh, pasukan yang salah satu di antara mereka berani menyelam ke got dengan kedalaman sekitar 1,5 meter tanpa alat bantu pernapasan. Masa kamu nggak tahu? Jangan mikirin mantan melulu.

Membahas sampah, saya teringat bahwa saya dan sampah pernah menjalin hubungan yang rumit. Kami cukup dekat, malah dekat sekali. Saya bisa memegangnya, meremasnya, menciumnya, bahkan sesekali menyentuh tubuhnya yang licin.

Meski panas terik, hujan lebat, kami tetap bertemu dua hari sekali. Selalu di tempat yang sama – antara rumah-rumah warga dan gerobak sampah milik negara. Eh, milik RT maksud saya. Tak semua orang bisa bermesraan seperti saya.

Perkenalan dengan sampah bermula ketika ibu meminta saya mengambilkan air minum untuk bapak. Saya bawa segelas besar air matang ke depan rumah, lalu bapak meminumnya secara tergesa-gesa. Bapak melakukan itu supaya tetangga di sekitar rumah tidak resah. Kok resah?

Iya, sebab kendaraan kesayangannya diparkir tepat di depan rumah kami. Tahu sendiri, ulah penumpang kendaraan bapak bisa bikin siapa saja – yang tidak benar-benar mengenalnya – muntah.

Sebelum menjalin hubungan yang rumit dengan sampah, saya juga pernah muntah. Saat itu, sampah seolah menertawakan saya sepuas-puasnya, sehormat-hormatnya. Tapi, saya tak mau kalah dari sampah. Saya juga tertawa saat membaca berita tentang Noel Molina dan Tony Sangkar, tukang sampah di Kota New York.

Noel mampu meraup penghasilan US$ 112.000 atau setara Rp 1,47 miliar setahun. Sementara Tony menerima upah hingga US$ 100.000 atau Rp 1,31 miliar. Keduanya hanya lulusan SMA loh. Penulis berita itu sampai bilang, “Ternyata tukang sampah lulusan SMA mampu mereguk gaji lebih banyak dibanding lulusan sarjana.”

Kemudian, terlintas di benak saya sosok seorang sarjana muda. Maukah ia menapaki jalan sunyi yang dipilih Noel Molina dan Tony Sangkar menjadi tukang sampah?

Ia singkirkan cita-cita untuk memiliki rumah sendiri, mempunyai kendaraan pribadi, melanjutkan kuliah hingga ke jenjang tertinggi, menikah dengan seorang yang dipuja, dan membahagiakan orang tuanya. Sarjana muda itu terus terbayang penghasilan Noel dan Tony.

Tapi ia merasa bahwa hidup harus realistis. Ia hidup di Indonesia, bukan di Amerika. Jakarta, bukan New York. Gaji tukang sampah di negeri tercinta ini masih berkiblat pada iuran warga setempat.

Dulu, ketika bapak saya masih bekerja sebagai tukang sampah di lingkungan warga, bapak menerima Rp 300.000-Rp 900.000. Tentu masih ada orang-orang dengan penghasilan di bawah bapak atau bahkan tidak punya pekerjaan.

Masalah sampah yang bikin heboh bapak-ibu calon mertua ini mencerminkan setiap pribadi. Semakin buruk pengelolaan sampah di satu wilayah, maka masalah yang ditimbulkan semakin rumit.

Misalnya, berani main-main dengan APBD tarif iuran warga. Bagaimana bila ‘mereka yang berani’ itu merasakan jadi tukang sampah selama berpuluh tahun? Bercinta dengan sampah setiap dua hari sekali? Lalu, dengan leluasa memegangnya,meremasnya, menciumnya, dan menyentuh tubuhnya?

Dalam Sajak Sebotol Bir, Rendra berujar, “Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai. Di mana kita hanya mampu berak dan makan, tanpa ada daya untuk menciptakan. Apakah kita akan berhenti sampai di sini?”

Oh tidak, kita tidak berhenti sampai di sini. Sebagian orang memilih melawan arus peradaban, tidak heboh dalam menanggapi suatu masalah.

Basuki Tjahaja Purnama dan Sandiaga Uno adalah contoh orang-orang yang melawan arus. Basuki alias Ahok punya cara sendiri dalam mengatasi persoalan sampah. Begitu juga Sandiaga.

“Enggak usah sekolah, enggak usah pakai ijazah, yang penting kamu berani jamin satu puntung rokok pun enggak boleh ada di wilayah kamu,” kata Ahok dalam sebuah wawancara.

Ahok juga menegaskan bahwa tukang sampah bisa menjadi pegawai pemerintah. Penghasilan naik menjadi Rp 3,1 juta, tidak lagi dipungut dari iuran warga. Itu kata Ahok sebelum lengser dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2014-2017. Lalu, bagaimana menurut Sandiaga?

Sama seperti Ahok, Sandiaga juga menjanjikan gaji tukang sampah RT setara dengan gaji Pekerja Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Itu dikatakan Sandiaga saat kampanye Pilkada DKI Jakarta lalu.

Saya percaya, semua orang ingin lingkungan yang bersih, sehat, serta bebas dari sampah. Tapi sudah sejauh mana kita mencintai alam di sekitar kita? Atau, ternyata kita tidak lebih baik dari sampah: dibuang, disingkirkan, dibenci, selalu menjadi masalah di mana-mana.