Salah Kaprah Penggunaan Istilah dalam Penggolongan Islam

Salah Kaprah Penggunaan Istilah dalam Penggolongan Islam

reaction13-bks.blogspot.co.id

Akhir-akhir ini menyeruak penyebutan golongan-golongan Islam yang marak di berbagai media. Penyebutan ini bukan berawal dari aliran atau paham yang sudah lazim. Dalam studi Islam, memang dikenal golongan-golongan berdasarkan penerapan fiqih maupun teologi (aqidah).

Terpecahnya Islam menjadi fraksi yang begitu banyak adalah keniscayaan zaman dan memang sudah diprediksi seperti yang tertera dalam kitab-kitab hadits. Namun, yang menjadi perhatian adalah salah kaprahnya penyebutan terhadap golongan tertentu, dimana istilah yang dipakai berubah arti dan makna sedemikian telak.

Penggunaan istilah kebahasaan dalam keseharian sebenarnya lahir dari lapisan sosial masyarakat tertentu. Untuk itulah istilah memang tidak dapat dialihbahasakan, dan hanya dapat dicarikan padanan kata atau istilah yang mendekati aslinya (untuk istilah asing).

Pada titik ini sebuah kata yang merupakan akar dari penggunaan istilah menemukan arti yang sesuai, ketika bersambungan dengan kata lain dan dipakai dalam sebuah ujaran. Misalnya saja kata ‘bapak’ yang memiliki makna awal untuk penyebutan orang tua laki-laki. Namun, arti kata ‘bapak’ lambat laun mengalami perluasan makna.

Ia dapat dipakai untuk menyebut seorang laki-laki yang layak untuk dihormati, karena posisinya ataupun dipakai untuk memanggil laki-laki yang lebih tua. Contohnya bapak guru, bapak mertua, bapak calon mertua – meski tidak jadi – dan lainnya.

Penggunaan kata atau istilah itu sendiri dapat menemui momen pergeseran secara arti. Tergantung pada konteks apa ia dipakai. Ia dapat mengalami perluasan arti (amelioratif) dan penyempitan arti (peyoratif). Pergeseran ini tentunya diharapkan tidak mengubah secara telak arti dasarnya.

Jika sebuah istilah dipakai untuk menandai sesuatu yang tidak seharusnya, lambat laun ia akan rusak (destruksi). Entah rusak secara makna maupun artinya. Semoga anda juga paham perbedaan antara makna dan arti.

Belakangan marak sekali golongan yang mengaku mewakili Islam, lantas melakukan tindakan barbar dan kekerasan. Mau tidak mau, media mencarikan istilah untuk menyebut segelintir umat Islam yang sangat berisik dan kemriyek ini.

Memang dapat dipahami bahwa pemakaian sebuah istilah yang merujuk pada hal tertentu harus melalui dua pintu. Pertama, disebarluaskan oleh media. Kedua, dipakai secara serentak di institusi pendidikan atas persetujuan Balai Bahasa dan lembaga pemerintah.

Selain itu, istilah-istilah tersebut rata-rata adalah istilah serapan dari bahasa asing, yang mungkin media mengalami kesulitan untuk menemukan padanan kata dari bahasa Indonesia. Balai bahasa pun tidak bisa berbuat banyak, selain menyetujui dan memberikan makna yang sesuai ketika istilah ini terlanjur dipakai secara luas, meskipun arti dari istilah itu berubah drastis.

Berhubung hari ini adalah era media digital dan membuat sebuah media digital (yang legal) semudah mengupil, maka penyebutan istilah ini mengalami kekeliruan yang masif dan sistematis, serta perubahan arti yang sedemikian telak.

1. Islam Radikal

Jika merujuk KBBI, istilah ini memiliki arti mendasar atau mengakar. Jika dipakai dalam konteks politik, sikap radikal adalah sikap yang menginginkan perubahan secara mendasar dari sebuah undang-undang.

Namun, ketika dipakai dalam konteks pemahaman agama, saya kira seorang pemeluk agama memang seharusnya radikal. Ia harus memahami secara mendalam dan mengakar agama yang dianutnya.

Seorang muslim yang radikal adalah seorang yang memahami secara mendalam ajaran Islam. Ia memiliki sanad keilmuan jelas dan lama dalam mendalami ajaran-ajaran agamanya.

Bukankah dalam syair-syair ta’lim muta’alim Syaikh Az-Zarnuji menjelaskan bahwa salah satu syarat untuk dapat memahami agama secara mendalam adalah adanya guru yang memiliki sanad keilmuan terus bersambung ke Rasulullah dan waktu yang sangat lama?

Atau, generasi hari ini merasa cukup sebulan-dua bulan mengikuti kajian di emperan masjid kampus, lantas sudah merasa paling mumpuni dan paling nyunnah? Itu bukan radikal, tapi ala kadar.

2. Islam Konservatif

Secara bahasa, konservatif berarti sikap yang mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi yang berlaku. Dalam hal ini, saya kira praktik-praktik amaliah warga Nahdliyin juga bisa disebut konservatif. Dan, itu memang harus agar budaya Indonesia tidak ludes dimakan zaman.

Agama Islam adalah agama yang begitu luwes. Ia dapat menyesuaikan diri menjadi bentuk-bentuk ajaran yang sesuai tradisi, budaya dan kebiasaan masyarakat dimana ia diajarkan. Wali Songo telah membuktikan penyampaian ajaran Islam yang begitu ramah tanpa mengubah secara drastis budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.

Diakui atau tidak, keluwesan ini yang mampu menumbuhkan ketertarikan masyarakat Indonesia saat itu pada ajaran Islam. Esensi ajaran sedekah dalam bentuk selamatan, birrul walidain pada orang tua yang telah wafat, menghormati leluhur dalam tradisi tahlil maupun nyadran, dan lainnya.

Selagi budaya itu tidak mengusik aqidah berupa rukun iman dan rukun Islam, saya rasa masyarakat Indonesia tetap ‘setel kendho’ pada proses akulturasi agama dan budaya. Selain itu, pemurnian ini juga dapat dipakai dalam konteks laku keseharian.

Seorang muslim sudah seharusnya memurnikan ajaran Islam dari pamrih-pamrih keduniawian. Ajaran pokok Islam adalah mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Jangan sampai ada ‘Tuhan’ lagi berupa uang, harta, presiden, gubernur, jabatan, dan sebagainya. Seyogyanya sikap konservatif ini memang wajib dimiliki seorang muslim untuk keteguhan memegang prinsip agama.

3. Islam Puritan

Jika merujuk pada KBBI, istilah puritan menunjuk pada orang saleh yang menganggap kemewahan sebagai dosa. Jika dipakai dalam konteks Islam, istilah ini menggambarkan pada sikap seorang ulama dalam laku keseharian.

Istilah lain dalam menunjukkan sikap ini seperti halnya yang banyak tertera di literatur-literatur Islam klasik adalah zuhud. Memang sudah seharusnya seorang ulama menerapkan gaya hidup zuhud. Segala amalnya hanya ditujukan kepada Allah dan diabdikan kepada umat. Bukankah ulama adalah pewaris para nabi?

Jika umat bersedih, maka seorang ulama juga harus merasakan kesedihan umat dan bersedia melipurnya. Jika umat miskin, ia harus dengan ringan tangan tanpa beban memberikan segala apa yang dimilikinya. Jika umat naik bis kota, ulama jangan naik Rubicon atau Pajero. Lantas dimana label ke-ulama-annya?

4. Islam Fundamentalis

Istilah ini juga kerap ditujukan pada umat Islam yang sering melakukan kekerasan atas nama ajaran Islam. Istilah fundamentalis berasal dari kata fundamental, yang berarti pokok-pokok ajaran atau dogma.

Namun, istilah ini berubah makna yang sedemikian jauhnya ketika mendapat imbuhan “-is” yang akhirnya menimbulkan arti penganut gerakan agama yang keras dan reaksioner yang selalu merasa perlu kembali ke ajaran kitab suci.

Dari melencengnya penggunaan istilah ini akhirnya memunculkan dua pertanyaan. Apakah seseorang yang teguh secara prinsip dalam memegang pokok-pokok ataupun dogma agama, namun lentur dalam bersikap tidak bisa dikatakan seorang fundamentalis? Kemudian, apakah golongan lain selain golongan ini memang telah meninggalkan kitab suci ataukah klaim mereka saja?

Jika kita teguh merujuk makna awalnya, maka seorang muslim juga harus menjadi fundamentalis. Ia harus memahami ajaran-ajaran pokok agama Islam. Jika tidak, apa gunanya memeluk sebuah agama?

Dalam ajaran agama Islam, perbedaan adalah rahmat. Bukan awal dari bencana. Kitab suci juga memberikan paparan akan meninggikan derajat seseorang yang menuntut ilmu. Lalu, layakkah seorang yang mengobrak-abrik kajian diskusi dan membakari buku pengetahuan disebut sebagai muslim yang paham pokok-pokok ajaran agamanya?

Disini kita melihat betapa rusak parahnya sebuah istilah akibat penggunaan yang tidak tepat. Dan, lagi-lagi, Balai Bahasa sepertinya tidak memiliki pilihan selain memberikan arti yang sesuai, karena sudah terlanjur meluas. Kita tunggu jawabannya hingga lebaran kuda.