Menjadi Murid Seorang ‘Ruuhul Mudarris’, meski Beda Keyakinan

Menjadi Murid Seorang ‘Ruuhul Mudarris’, meski Beda Keyakinan

Ilustrasi (google.com)

Jumlah guru di negeri ini bisa jadi melimpah, tetapi entah berapa persen kecilnya yang memiliki ruuhul mudarris atau jiwa pendidik. Begitu juga dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) yang semakin banyak, yang membuat kita semakin sulit mengukur kualitas tenaga pendidik.

Anggap saja ini esai kenang-kenangan, ketika saya mengenyam pendidikan sewaktu kecil dulu di TK dan SD Kartini Blora, Jawa Tengah. Kepala sekolahnya seorang perempuan, namanya Rahayu Sinarti. Ia tidak menikah. Berkat Gus Dur, ia jadi punya agama, sebab keyakinan yang dianutnya adalah Khonghucu.

Dulu, ketika menjadi muridnya, kami beberapa kali diajak jalan-jalan ke Klenteng. Syukur, tidak ada implikasi sama sekali perkara keimanan. Imajinasi kanak-kanak saya menganggapnya sebagai wisata praktik dari kesukaan menonton film Kera Sakti. Di atap klenteng itu memang ada grafis serta narasi yang mirip, tentang para dewa yang berjalan dalam rangka mencapai puncak kesejatian.

Selain punya utang jasa pada Gus Dur, Bu Rahayu sekaligus kesal pada Gus Dur, sebab meliburkan sekolah sebulan penuh selama Ramadan. “Bikin para siswa jadi bodoh. Pas masuk sekolah, siswa pasti sudah lupa semua pelajarannya.”

Kami dididik secara militer, ups maksudnya, kami memang terbiasa dijewer atau dipukul tipis-tipis. Konon, semasa kuliah di ITB dulu, Bu Rahayu sempat tergabung dalam kerja-kerja militer. Mungkin ketika itu Indonesia masih masanya revolusi fisik.

Jadi, ketika ratifikasi isu HAM masa kini yang menolak kekerasan fisik di sekolah, sesungguhnya murid-murid di sekolah kami dulu sudah biasa mendapatkannya. Kami terbiasa dipukul dengan tongkat bambu tipis ukuran setengah meter, jika tak bisa mengerjakan soal di papan tulis atau sebagai sanksi kesalahan.

Tapi, ketika sudah besar kini, kadang-kadang kami mengakui kalau hukuman fisik itu memang punya efek kedisiplinan. Ya, teman-teman seangkatan kami tidak berisik di kelas meskipun tidak ada guru, biasa menyapa yang lebih tua dengan menundukkan badan, juga tidak gemar mengganggu teman dan tidak mengucap kata-kata kotor.

Di sekolah, setiap hari para siswa berwushu atau main silat selama sejam hingga dua jam. Sialnya, kegiatan itu berlangsung siang hari saat dunia sedang terik-teriknya, sehingga membuat kami biasa terpapar sinar matahari.

Saat itu, konsep sekolah alam juga belum banyak, tapi saya dan teman-teman sudah diajarkan berkebun. Kami merawat kangkung, jagung, kedelai, dan kacang tanah kami sendiri di sekolah.

Oh ya, di sekolah kami juga ada kantin. Malahan ada dua. Tapi semua kantin tidak menjual makanan yang memakai bahan pengawet. Satu kantin menjual makanan ringan semacam bubur dan olahan tahu serta jajanan pasar. Satu kantin lagi menjual nasi goreng dan nasi sambal tanpa micin.

Bu Rahayu sering bereksperimen di kantin itu. Produk unggulan yang dikenang para murid adalah air sirih. Ya, kami sudah biasa minum air-air sehat semacam itu sebelum tiba masa food combining. Itu tahun 1996 hingga 2000-an.

Tahun-tahun itu juga belum ngetren sistem sekolah inklusi. Tetapi, sekali lagi, Bu Rahayu sudah menerapkannya. Saya mengingat beberapa nama teman yang (maaf) dianggap memiliki keterbatasan fisik juga kecerdasan intelektual, tetapi ia sekelas dengan kami. Kami biasa bermain bersama dan belajar empati, ketika mereka lamban menyimak pelajaran.

Tapi, hei, bukankah ada tujuh kecerdasan lain menurut Howard Gardner? Toh, terbukti, mereka yang tidak cerdas pada pelajaran teori di kelas itu kini sudah jadi ahli komputer, pengusaha, hingga polisi.

Mereka cakap pada bidang-bidang lain hingga peringkat berwushu atau keterampilan menggambar dan menari mereka jauh lebih baik dari saya yang dulu punya kemampuan lebih baik pada mata pelajaran bahasa dan ilmu sosial.

Untuk kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6), Bu Rahayu kerap menjalankan sistem montesori. Siswa tiga jenjang itu digabung dalam satu ruang kelas. Tujuan dari sistem montesori baru saya ketahui belakangan ini, agar siswa pada jenjang lebih tinggi dapat membantu adik kelasnya. Sedangkan jenjang yang lebih rendah bisa menyimak berulang-ulang materi yang diterima kakak kelasnya.

Rahayu Sinarti sedang memotret anak-anak muridnya (istimewa)

Dalam pelajaran bahasa Inggris, Bu Rahayu masih menerapkan sistem menghafal. Ia memberikan teks-teks naratif dua hingga tiga paragraf kepada kami untuk dihafalkan. Baru-baru ini, saya baru sadar kalau pola pengajarannya mirip pondok pesantren Salafiyah tradisional, ketika mengajar membaca kitab bahasa Arab.

Ia beri arti setiap kata, kemudian kami harus membaca keseluruhan kalimat bahasa Inggris sekalian mengartikannya dalam kalimat utuh, lalu mengulang hafalan itu di depan kelas.

Setelah hafal, ia memberi pertanyaan untuk dijawab dalam pola dasar who, where, when, what, dan how. Pola yang sungguh efektif dan menyeluruh, menggabungkan keterampilan listening, speaking, reading, dan writing sekaligus.

Sepekan sekali, biasanya ada ujian mendadak dengan sistem dikte untuk semua mata pelajaran. Sistem itu menghendaki siswa untuk berpikir cermat dan tepat. Tentu saja tidak ada istilah contek-menyontek. Nilai kami biasanya selalu buruk. Standarnya begitu tinggi. Biasanya, kertas ulangan bernilai buruk itu ditempel di dinding-dinding yang mengelilingi sekolah.

Bu Rahayu gemar membaca. Ia berlangganan beberapa koran dan majalah anak-anak. Rubrik yang menarik ia potong-potong, lalu ditempelkan di majalah dinding. Sebelum memulai pelajaran, ia kadang bertanya kepada kami, “Ada berita apa pagi ini?” Jika gagal menjawab, hukumannya adalah berdiri di depan papan mading untuk membaca hingga tuntas dan mampu menceritakannya kembali.

Karena ia adalah sosok yang punya sekolah, Bu Rahayu tidak pernah pakai sepatu. Ia memakai semacam sandal gunung. Kadang-kadang, ia mengajar pakai daster. Hahaha, sungguh egaliter dan menolak kemapanan. Tapi kalau urusan kedisiplinan, jangan minta ampun ya, sudah saya bilang kami dididik keras.

Seingat saya, ia memang benci Orde Baru. Ia piawai mendongeng sejarah. Di kelas, ia pernah mendongeng tentang kebohongan-kebohongan Soeharto. Ingatan masa kecil saya terbatas, tapi ia mengaku mendapat fakta itu dari radio luar negeri. Ia juga pandai menjelaskan ilmu-ilmu pengetahuan alam dengan deskripsi-deskripsi yang mudah dipahami.

Oh ya, sebelum pemerintah menerapkan metode subsidi silang soal SPP universitas yang disebut BHP itu, SD saya sudah menerapkannya. Dulu, nominal SPP SD Negeri lain masih Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu saja per bulan, sedangkan SD Kartini sudah hampir Rp 40 ribuan.

Teman-teman saya yang orangtuanya pebisnis Tionghoa membayar lebih mahal, sedangkan saya membayar separo saja. Maaf, ini bukan rasis, tetapi dulu di kelas saya, Tionghoa memang mayoritas dan mereka kebetulan kaya. Tapi, toh, saya tetap juara satu di kelas, ups

Saya tidak tahu Bu Rahayu belajar sistem subsidi itu darimana, tapi yang jelas, ia seorang Tionghoa yang menyayangi gadis Jawa anak tukang becak seperti saya.

Jadi, kalau sekarang ada sentimen anti-Tionghoa yang coba digaungkan kembali, saya tidak terpengaruh karena ingat sosok baik yang begitu menghormati ibu saya yang cuma tukang ngepel lantai rumah orang kaya itu. Saya selalu ingat wajah Bu Rahayu ketika mengucapkan selamat dengan gembira pada ibu ketika saya juara kelas tiap cawu.

Kabar baiknya, bergaul di lingkungan SD yang begitu plural, tidak membawa masalah apapun. Di kelas saya, tidak hanya ada teman yang beragama Protestan dan Katolik, tapi ada juga siswa yang beragama Hindu, Budha, hingga Khonghucu. Bu Rahayu sampai mengontrak masing-masing guru agama untuk kami.

Meskipun beragama Khonghucu, ia mengizinkan kami mengadakan program pesantren kilat dan buka bersama ketika Ramadan. Guru agama saya ketika SD seorang Muhammadiyah, tetapi dulu ada program pesantren kilat bersama yang menggabungkan kerja-kerjanya dengan guru NU. Bu Rahayu juga memberi dukungan penuh ketika saya akan maju lomba MTQ di kabupaten.

Wah, ternyata masa SD saya cukup menyenangkan. Dan, saya jadi rindu pada Bu Rahayu. Hari-hari memang indah sebelum negara api menyerang ya, hahaha…

Kujadi ingin menulis seperti Totto Chan. 🙂