Rumah Tangga Itu Seperti Main-main Saja

Rumah Tangga Itu Seperti Main-main Saja

Ilustrasi (ringorron.blogspot.co.id)

Sesaat setelah saya memosting kutipan dari buku daring terbaru saya “Salamatahari 3 – Edisi Menikah adalah Bermain”, mas Jauhari Mahardika dari voxpop.id mengirimkan surat elektronik.

“Mbak Dea, ini kayaknya menarik kalau dibuatkan esainya: Rumah tangga itu seperti main-main aja. Kita bisa tambah pinter sedikit-sedikit karena main dengan apa aja setiap hari.”

Saya menyanggupi. Maka, mulailah saya membaca ulang apa yang saya tulis di dalam buku dan mengumpulkan kembali hal-hal yang saya alami sepanjang kehidupan pernikahan.

Ketika menelusuri jauh ke belakang, saya jadi tertawa sendiri. Pernikahan adalah topik yang menarik sekaligus penuh ironi. Duluuuu sekali, sebelum punya pacar yang serius dan menikah, saya juga sering menghadapi pertanyaan-pertanyaan ‘kapan nikah’ dari orang-orang sekitar.

Bagi saya, menikah tidak harus-harus amat. Bahkan saya sempat menjawab, mungkin-mungkin saja saya akhirnya memutuskan untuk tidak menikah.

Tanggapan saya membuat mereka menjadi cemas. Dengan cukup serius, mereka menasihati tentang sulitnya hidup melajang, pentingnya menikah, dan jangan sampai saya kualat karena kata-kata saya sendiri.

Saat akhirnya menemukan seseorang yang saya yakini, mereka yang peduli pada saya menyambut dengan lega dan gembira. Tapi menjelang pernikahan, pesan-pesan mereka berbalik. Wajah pernikahan berubah horor. Mereka mulai memberikan nasihat-nasihat yang justru membuat pernikahan terdengar seram.

“Jangan kira menikah itu seperti kisah pangeran-putri di dongeng-dongeng.”

“Menikah nggak seindah pacaran. Dalam kehidupan pernikahan, kita sudah harus realistis.”

“Jangan kaget. Setelah menikah, baru pasangan kamu kelihatan aslinya. Suami kamu nggak akan sesempurna harapan kamu.”

“Di dalam pernikahan, kebiasaan-kebiasaan kecil yang berbeda nanti bisa jadi masalah besar.”

“Kamu harus ingat kalau menikah lebih berat daripada single.”

Saya garuk-garuk kepala. Bagaimana, sih, mereka ini? Seperti menganut standar ganda. Katanya kita harus menikah.

Tapi kalau menikah memang se-nggak asyik itu, mengapa mereka harus khawatir, jika seseorang memutuskan untuk tidak menikah dan pacaran lucu-lucuan saja sepanjang hidupnya?

Bagi saya sendiri, pernikahan adalah petualangan menuju negeri antah-berantah yang penuh kejutan. Saya bisa memilih untuk berangkat ke sana, boleh juga tidak. Mungkin saja di sana saya akan bertemu monster berkepala tiga atau peri kecil dengan serbuk ajaib.

Saya juga bisa bertemu dengan keseharian yang biasa-biasa saja atau tantangan baru tak terduga. Kehidupan bisa begitu lurus bisa juga berbelok-belok. Ketika memutuskan untuk bertualang di belantara pernikahan, saya tidak menetapkan ekspektasi apa-apa. Surprise me.

Tiket menuju antah-berantah pernikahan berlaku untuk dua orang. Artinya, kita tidak mungkin pergi sendirian. Tapi kita diberi kebebasan untuk memilih teman bermain yang paling cocok dengan kita.

Nah, karena perjalanan ini dirancang sebagai perjalanan tandem yang sangat panjang, siapa yang mendampingi kita di sepanjang petualangan menjadi sangat penting. Itu sebabnya saya memilih tidak berangkat, jika tidak menemukan pasangan yang tepat.

Jangan kaget. Setelah menikah, baru pasangan kamu kelihatan aslinya. Suami kamu nggak akan sesempurna harapan kamu.

Karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa, saya tahu tak mungkin menemukan teman bermain yang sempurna.

Maka, bukan teman bermain yang sempurna yang perlu dicari, tapi teman bermain yang asyik; seseorang yang siap bertumbuh bersama dan menyadari pentingnya team work dalam menempuh petualangan merambah antah-berantah ini.

Setiap orang memilih teman hidup dengan caranya sendiri-sendiri. Nah, berikut ini adalah cara saya.

Gunakan Intuisi

Intuisi adalah sesuatu yang abstrak tapi penting. Ini adalah tolok ukur utama untuk menentukan apapun, termasuk teman untuk petualangan jangka panjang bernama pernikahan. Intuisi adalah perasaan halus yang selalu mengingatkan untuk berhenti atau terus, mengatakan ya atau tidak.

Bagaimana cara mengenali intuisi?

Jika pada suatu ketika kita merasa suka atau tidak suka, ingin atau enggan, nyaman atau justru merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, tapi tak menemukan alasan rasional atas semua itu, bisa jadi saat itulah intuisi berbicara.

Jangan abai. Ada hal-hal yang hanya perlu dipercaya dan diikuti tanpa perlu dirumus-rumuskan.

Ketika berpacaran lucu-lucuan, kita bisa rasional bahkan eksperimental. Tapi dalam menentukan teman hidup, saran saya percayalah pada intuisi.

Team Work dan Diplomasi

Seperti yang sempat saya katakan, pernikahan adalah petualangan menuju negeri antah-berantah yang penuh kejutan. Segala sesuatu – termasuk kita dan pasangan – dapat berubah sewaktu-waktu dalam perjalanannya.

Karena hidup menawarkan kerandoman yang dinamis, dibutuhkan keterbukaan menyambut agar kita bisa tetap bertumbuh. Karena itulah dibutuhkan pasangan yang siap berdiplomasi sepanjang hidup dan menyadari pentingnya team work.

Di dalam petualangan bernama pernikahan ini, tak ada yang betul-betul ‘harus’ kecuali kesetiaan untuk memelihara komitmen. Itu sebabnya apapun perlu dibuat cukup lentur untuk disesuaikan.

Bagi saya, kehidupan pernikahan seperti bermain bulu tangkis ganda campuran. Segala yang datang seperti Kok yang perlu ditangkis dan mengasah kekuatan team work.  Sejauh ini, sudut pandang itu membuat pernikahan terasa seru-seru saja dan senantiasa exciting.

Team work adalah ‘kita’, bukan ‘kamu’ atau ‘saya’. Menyadari hal itu dan senantiasa mempertimbangkan ‘kita’ saat memutuskan apapun, membuat saya justru menemukan banyak hal inspiratif yang tidak mungkin saya temukan sendiri.

***

Ya sudah. Cuma begitu, kok. Sederhana kan? Pernikahan jadi seperti main-main saja dan kita bertambah pintar, karena bermain dengan apa saja setiap hari.

Karena ini semua cuma permainan, permasalahan yang sudah lewat dan yang akan dihadapi dapat dengan mudah ditertawakan. Konon, tragedi dan komedi berangkat dari peristiwa yang sama. Sudut pandanglah yang membedakan keduanya.

Oh ya, pernikahan katanya membutuhkan cinta. Lantas, di mana letak cinta?

Jika kita tahu cara memelihara, cinta tumbuh di sepanjang perjalanan seperti bunga-bunga, menyertai kita bertualang menyusuri antah-berantah bernama pernikahan.

Tapi, ada juga yang bilang, “Dalam kehidupan pernikahan, kita harus realistis.”

Sebetulnya realistis itu apa, sih?

  • danni malik

    nais inpoh nih, sangat bermanfaat

  • Wawan Agusti

    yang menikah pasti tau rasanya rumah tangga

  • BeNkS

    ya memang teamwork dan diplomasi itu perlu