Rumah Baca 0254: Barisan (Baju) Mantan Menjelma Jadi Buku Bacaan

Rumah Baca 0254: Barisan (Baju) Mantan Menjelma Jadi Buku Bacaan

Minggu pagi, sekitar pertengahan April, suasana di Rumah Baca (RB) 0254 Tegal Cabe, Cilegon, masih lengang. Tak lama kemudian, empat pemuda datang dengan dua motor membawa dua kardus dan satu bungkus besar plastik. “Baju mantan, kak. Nanti masih ada lagi. Ini mau diambil,” kata salah seorang dari mereka.

Rumah Baca 0254 adalah rumah baca yang didirikan oleh founder situs ilovecilegon.com, kak Adi Sudrajat (@adisudrajat28). Tepatnya, rumah baca ini berada di Jalan Maulana Yusuf, Lingkungan Tegal Cabe, Citangkil, Kota Cilegon, Banten.

Di Cilegon sendiri ada sekitar 17 rumah baca atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang sudah terdaftar Kemendikbud. Dari jumlah itu, tiga di antaranya berada di Citangkil, yaitu TB Anggrek (Kebonsari), TB Al Ikhlas (Warnasari), dan TBM SKB Kota Cilegon (Lebakdenok).

“Dulu saya punya cita-cita bagaimana caranya harus punya rumah baca,” kata kak Adi. Ia lalu mengumpulkan teman-temannya hingga terbentuk Komunitas Bunga Padi, yang berfokus pada kegiatan seni, kebudayaan, kemanusiaan, dan pendidikan.

Sebetulnya ia juga mencoba mengajak masyarakat sekitar untuk berpartisipasi, namun respon negatif yang ia dapat. Pembangunan terganjal, tapi ia tidak menyerah. Angin segar akhirnya datang dari Rumah Zakat Cilegon yang bersedia mendanai terbentuknya Rumah Baca 0254 ini.

Dari garasi di samping rumah yang sudah lama menganggur, ia sulap menjadi ruang taman baca. Hingga pada 28 November 2015, Rumah Baca 0254 diresmikan. Sebuah wujud nyata dari mimpi kak Adi bersama Komunitas Bunga Padi di Cilegon.

Misi yang diusung oleh taman baca ini antara lain mengembangkan dan melestarikan budaya membaca, media aktualisasi dan apresiasi budaya membaca bagi generasi muda, media pengembangan minat dan bakat, serta kegiatan untuk menunjukkan eksistensi membaca di tengah budaya modern.

“Kendala di sini biasanya antara siswa dan pengajar, kak. Kalau siswanya ada, pengajarnya enggak ada. Giliran pengajarnya ada, siswanya kecewa dan enggak datang,” ucap kak Adi.

Pada Minggu, 10 April 2016, teman-teman dari Komunitas Rumah Buku Cilegon dan Hibah Buku binaan kak Anazkia Brikhtiar mengadakan kegiatan di Rumah Baca 0254, milik kak Adi. Salah satu tujuannya adalah untuk merangsang minat anak-anak kembali belajar dan bermain di Rumah Baca 0254.

Penyerahan simbolis Hibah Buku
Penyerahan simbolis Hibah Buku

Acara yang diusung memuat empat konten. Nge-doodle, Jual Baju Mantan, Hibah Buku, dan Tensi Darah. Nge-doodle adalah pelatihan membuat gambar doodle dengan tutor kak Swarini (@swarini). Anak-anak maupun kakak-kakak ikut menyemarakkan latihan membuat gambar doodle ini. Melalui doodle diharapkan anak-anak mampu mengasah kebebasan berpikir sekaligus menuangkannya dalam bentuk artistic painting.

Acara kedua yaitu jual Baju Mantan. Jika acara pertama ditujukan bagi anak-anak, maka acara kedua ini lebih diperuntukkan bagi masyarakat yang lebih tua. Jika The Rain feat Endang Soekamti mengoleksi para mantan untuk dibariskan, RBC dan Hibah Buku bagian ngumpulin baju-baju mantan untuk dijual. Karena kata ‘mantan pacar’ mengacu pada arti ‘bekas pacar’, maka ‘baju mantan’ adalah sebutan yang kami pakai untuk ‘baju bekas’.

Salah satu kegiatan di Rumah Baca (RB) 0254.
Salah satu kegiatan di Rumah Baca (RB) 0254.

Kebanyakan baju, celana, kerudung, dan lainnya sengaja kami kumpulkan dari donatur. Untuk kemudian disortir dan dijual dengan harga yang sangat murah, di bawah Rp 10.000. Uang yang terkumpul kemudian digunakan sepenuhnya untuk operasional Hibah Buku, Piknik Buku, dan agenda lain komunitas.

Dengan begitu tidak terlalu membebani anggota komunitas dengan iuran pribadi, salah satu masalah yang sering dihadapi oleh suatu komunitas. Selain itu diharapkan masayarakat semakin responsif dengan adanya Rumah Baca 0254 ini. Apalagi ditambah dengan pengecekan tensi darah secara gratis, tentu makin menarik untuk masyarakat. Acara ditutup setelah Ashar dengan penyerahan secara simbolis, Hibah Buku bagi Rumah Buku 0254.

Cek tensi darah gratis.
Cek tensi darah gratis.

Mengapa taman baca penting?

Kak Adi adalah salah satu tanda bahwa makin banyak orang yang peduli dengan budaya baca masyarakat. Di Banten sendiri, menurut Gubernur Rano Karno, masih ada 51.000 orang yang buta huruf. Dan, salah satu strategi yang digalakkan pemerintah, yaitu membangun rumah baca di tiap desa. Kesadaran pembangunan seperti milik kak Adi sangat penting sekali untuk didukung keberadaannya.

Selain berguna untuk mengurangi tingkat buta huruf di kalangan masyarakat, membaca tentunya dapat memberikan banyak manfaat dan pengetahuan. Untuk itu, kata-kata dari salah seorang selebtwit cum penulis buku ‘Dari Twitwar ke Twitwar’, Arman Dhani, cukup layak kita renungkan.

“Membaca buku bisa jadi hanya sekadar usaha membosankan di tengah riuh kegiatan lain, tapi buku memberi pencerahan yang barangkali tidak bisa didapat dari medium lain. Kecuali, tentu saja, jika ia hanya menjadi perkakas untuk membuat dusta lain.”