Ritual 3 Persetan Sebelum Menulis Artikel

Ritual 3 Persetan Sebelum Menulis Artikel

Menulis artikel itu memang sebuah pekerjaan yang (seringkali) gampang- gampang susah, gampang dibikin, susah dimengerti. Ada yang bilang (dan saya setuju), kalau mau menulis, ya menulislah. Tulis saja apa yang ingin anda tulis.

Persoalannya, ketika kita mulai mencoba menulis, bermacam bisikan iblis ‘perfeksionis’ tiba-tiba datang tanpa diundang. Seperti “Waaah… Ini salah nih.” Lalu hapus. “Duh, sepertinya ini nggak layak deh.” Lalu hapus lagi. Demikian seterusnya.

Atau setan ‘paranoia’ yang gemar menghantui. Apa itu? Hantu menahun bagi penulis terutama pemula biasanya adalah ketidakpercayaan diri dan perasaan takut berlebihan. Takut salah, takut ini, takut itu, takut nggak substantif, takut nggak dibaca, blablabla…

Walhasil, tulisan yang rencananya mau dibikin pun nggak selesai-selesai. Dan akhirnya, hingga kiamat – untung nggak jadi tahun 2012 – tulisan tetep nggak selesai juga! Pffiuh… Jangankan pemula, penulis bangkotan pun masih sering dijangkiti virus-virus menyebalkan tadi.

Nah, untuk soal ini, begawan sastra Indonesia Pramoedya Ananta Toer pernah bilang, “Ya, begitulah prosesi menulis. Seperti itulah tantangannya. Saya menulis, karena saya seorang introvert yang tidak percaya diri. Sejak kecil, saya tidak pandai mengungkapkan isi hati dan kepala saya secara verbal mengenai ketidakpuasan, kekecewaan, idealisme, ideologi, pemikiran, maupun ide-ide.”

Pram juga bilang, “Kertas-kertas itulah yang akhirnya jadi sasaran penumpahan. Tapi justru dari situlah elan kepenulisan saya mulai muncul.” Demikian pengakuan jujur sastrawan legendaris tersebut dalam salah sebuah historiografi tentangnya yang diterbitkan Hasta Mitra.

Tulisan tidak musti melulu berisi semburan kalimat bombastis, istilah-istilah fantastik, serta wacana teoritik – seolah-olah – kritis yang cuma cocok dipraktikkan di Planet Mars. Tulisan sebaiknya bukanlah tumpukan kelabu berbusa-busa kata, kalimat, ataupun istilah yang sukar dimengerti.

Ia mustilah bersemangat dan membumi. Ia mustilah mendobrak segala kejumudan. Ia mustilah menjadi pelopor dari setiap laku perubahan berbasis kemanusiaan.

Prosesi menulis, serta tentu saja tulisan, adalah pula ungkapan hati, jiwa, dan rasa. Karena itu, menulis adalah hak setiap orang, siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Menulislah sebagaimana kita – dan mereka – berbicara. Sekali lagi dengan bahasa, istilah, serta kalimat yang dimengerti oleh mereka, makhluk bumi, agar mereka paham. Karena ini bukan Planet Mars.

Seorang penulis mustilah memiliki insting yang tajam dan kuat layaknya singa kala mengincar mangsa buruan. Ketajaman insting serta intuisi berburu tidak diperoleh singa secara tiba-tiba. Itu didapat dari prosesi berburu yang bertubi-tubi.

Bagaimana seorang penulis dapat memiliki naluri setajam singa? Ia harus menulis secara bertubi-tubi. Belajar dan terus belajarlah menulis seperti singa yang tak pernah berhenti belajar berburu!

 

Senjata utama penulis adalah tulisannya. Penulis musti jeli dalam mengolah dan mengemas tulisannya agar sesuai dan dapat dipahami oleh segmen pembacanya. Dengan begitu, ia boleh berharap, pesan dari tulisannya dapat tersampaikan secara efektif.

Jadi semua memang berawal dari tulisan. Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan dan ajarannya lewat tulisan. Demikian pula Jesus Christ. Al Quran dan Injil merupakan mahakarya tulisan yang luar biasa dahsyat pengaruhnya terhadap peradaban umat manusia.

Mengutip Pram, menulis dan prosesinya adalah kerja pembebasan yang membebaskan, Karena tulisanlah yang mengubah dunia!

Ini tips semprul dari saya yang bisa menjadi ritual sebelum menulis artikel:

1. Persetan dengan ‘aturan baku’ soal bagaimana cara menulis dengan benar. Kenapa? karena kebenaran hanya milik Allah, gaes. Lainnya tidak!

2. Persetan soal apa tema tulisan yang musti diangkat. Kenapa? Karena persoalan olahraga ungkat-angkat yang diakui di olimpiade itu cuma angkat besi, bukan angkat tema!

3. Persetan pula dengan apa dampak dari tulisan kita terhadap pembaca. Ya iyalah ngapain dampak tulisan dipeduliin, lalu dampak asap kebakaran hutan gimana?

Ya persetaaan-lah, pokoknya!

Foto: resiliencefitness.com