Risalah Jumat: Duo Wali yang Bergoyang

Risalah Jumat: Duo Wali yang Bergoyang

Saya dan mungkin sebagian umat Islam salut kepada Vladimir Vladimirovich Putin. Ya, Putin, mantan intelijen KGB dan bekas kader Partai Komunis Uni Soviet yang sekarang jadi Presiden Rusia itu.

Apa ini soal pesawat water bombing Rusia yang membantu pemadaman kebakaran hutan di Indonesia? Oh bukan, lagian pesawat itu kan disewa pemerintah, bukan dipinjami sama Putin. Eh, disewa pemerintah atau konglomerat sawit ya?

Balik lagi soal mister Putin. Saya salut dengan beliau, karena sang ‘Casanova’ itu mendukung penuh keberadaan Masjid Agung Moskow (Moskovskiy Soborniy Mecet).

Masjid Agung Moskow yang baru selesai dibangun ulang itu menjadi masjid terbesar di Eropa. Kapasitasnya sampai 10 ribu jamaah. Kubahnya dilapisi emas, seolah tak mau kalah dengan Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri di Depok, Jawa Barat.

Lho, kok bisa-bisanya Putin yang Kristen Ortodoks itu menjamin keberadaan Masjid Agung Moskow, bahkan melindungi umat Islam yang menjalani ritual keagamaan di sana? Ya bisa saja.

Terlepas ini strategi geopolitik atau bukan, yang penting negara dan kelompok mayoritas punya tindakan nyata untuk melindungi minoritas.

Saat meresmikan Masjid Agung Moskow pada September 2015, Putin tampak mesra dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang memang sengaja diundang ke Moskow.

Nggak sopan sekali Putin yang jelas-jelas menganut agama Kristen Ortodoks dan bekas kader partai komunis pula. Apa ini sekadar pencitraan? Entahlah, yang pasti semua pihak merasa baik-baik saja.

Sekitar 140.000 Muslim rayakan Idul Adha di Masjid Agung Moskow yang baru
Sekitar 140.000 Muslim rayakan Idul Adha di Masjid Agung Moskow yang baru

Lain Rusia, lain Amerika. Seteru abadi Rusia itu tengah disorot oleh umat Islam sedunia. Ini karena ulah Donald Trump. Ya, si Donald yang bikin Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon terkenal seantero jagat.

Donald Trump, yang pengusaha hotel dan kasino, lagi galak sama umat Islam di Amerika. Belum juga jadi presiden alias masih kandidat, dia sudah ancam akan tutup masjid di Amerika, yang dianggapnya ekstrem.

Penilaian ekstrem atau tidak ekstrem bisa jadi suka-suka si Donald. Kalau memang nanti dia jadi Presiden AS, bersiaplah untuk melupakan apa yang selama ini menjadi kebanggaan Amerika, yaitu demokrasi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Wah, Indonesia itu negara demokrasi juga. Negara yang berketuhanan yang masa esa pula. Pastinya kebebasan beragama dan beribadah dijamin 100% oleh undang-undang (UU) dan pemerintah.

Pelarangan perayaan Asyura atau Hari Raya Kaum Syiah oleh Walikota Bogor Bima Arya belum tentu mencerminkan sikap dan kualitas pemimpin di Indonesia. Jangan samakan pak Bima, yang lulusan Australian National University itu, dengan mister Putin. Beda level banget.

Walikota Bogor Bima Arya
Walikota Bogor Bima Arya

Pak Bima sebenarnya hanya takut terjadi keributan, kalau Syiah tetap menggelar perayaan Asyura di ‘Kota Hujan’. Pemerintah kota lebih memilih pelarangan daripada mengamankan acara. Lho, bukannya tugas negara mengamankan? Ah, kalau bisa jalan pintas, kenapa tidak? Bukan begitu pak wali?

Lain Bogor, lain Bandung, meski dua-duanya berada di teritori Jawa Barat. Kali ini giliran Walikota Bandung Ridwan Kamil. Pak wali yang narsis banget suka selfie-selfian itu mengaku bahwa dia Sunni dan tidak menyukai Syiah.

Lho Sunni dan Syiah itu bukannya sama-sama Islam? Bedanya kalau Sunni itu mayoritas, Syiah minoritas. Wah, kalau kata Kang Emil, sapaan akrab wali ‘Kota Kembang’ itu, masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang Islam yang sebenarnya. Ampunn… #IslamKTP

Walikota Bandung Ridwan Kamil
Walikota Bandung Ridwan Kamil

Kang Emil kayaknya serius banget. Dia pun mengajak warga menyalurkan aspirasinya sampai ke pemerintah pusat. Biar apa? Biar pelarangan aliran Syiah dapat dilakukan langsung oleh negara, seperti di Malaysia. Luar biasa Kang Emil, seolah yang minoritas tak pantas hidup. Peduli amat konstitusi.

Syiah memang menakutkan. Orang-orang bekas geng motor di Bandung yang selama ini ditakuti warga saja ikut jiper sama Syiah yang katanya bukan Islam.

Saking ketakutannya, mereka mendadak mempertebal kualitas imannya. Tentunya mempertebal keimanan menurut versi mereka dengan segala agitasi propaganjen.

Kalau begitu, apakah kita patut berterima kasih pada Syiah, karena keberadaan mereka justru membuat orang berlomba-lomba meningkatkan kualitas iman?

Bagaimana dengan konstitusi yang menjamin kebebasan beragama? Mari kita tanyakan kepada duo wali yang bergoyang, Bima Arya dan Ridwan Kamil. Tarik kang…