Tunjuk Hidung Rina Nose, Tertunjuk Hidung Sendiri

Tunjuk Hidung Rina Nose, Tertunjuk Hidung Sendiri

(Rina Nose/Instagram)

Belakangan, warganet dikejutkan oleh keputusan Rina Nose yang berhenti memakai jilbab. Iya, seperti biasa, yang terkejut selalu warganet – sepertinya orang-orang yang tidak terakses pada internet yang tidak sering terkejut.

Artis asal Bandung bernama lengkap Nurina Permata Putri itu sempat berjilbab selama setahun. Namun, dalam enam bulan terakhir galau, kemudian memutuskan untuk kembali tampil dengan rambut terurai.

Sempat terbetik kabar alasan Rina Nose melepas jilbab karena ia memutuskan menjadi ateis. Tapi, ia membantah dan menyebutkan bahwa dirinya masih seorang muslimah.

Kabar soal Rina Nose ini akhirnya masuk juga ke mimbar dakwah di televisi. Ustadz Abdul Somad sebagai penceramah mengomentari keputusan tersebut dengan sentilan argumentum ad hominem.

“Rina Nose ini siapa? Artis? Yang pesek itu? Saya kalau artis jelek ndak, kurang berminat saya. Apa kelebihannya? Pesek, buruk, itu saja.”

Tentu saja argumennya tidak semata tentang ‘tunjuk hidung’. Sang ustadz juga menyebut tentang harus seriusnya hijrah seorang muslim/muslimah. Jangan setengah-setengah. Harus total. Rina Nose, tentu saja, dianggapnya tidak total.

Kemudian, Rina Nose menyindir secara halus via akun Instagram. Bahwa seburuk-buruknya ia, tidak akan sampai hati mengatakan hal buruk tentang orang lain.

“Saya memang jelek, pesek, buruk dan tidak memiliki kelebihan apa-apa. Saya sudah tau sebelum anda mengatakannya. Tapi dengan segala keterbatasan dan kelemahan ilmu saya, saya tidak sampai hati mengatakan hal buruk tentang orang lain.”

Ustadz Somad kembali bereaksi bahwa dirinya bukan mengejek, tapi Rina Nose yang menurutnya sudah mengejek agama. Sombong kepada orang yang sombong, shodaqoh (sedekah).

Sebagian orang tampaknya begitu khawatir bahwa Rina Nose, selaku orang tersohor, dapat meracuni banyak orang dengan ketidaktotalan dalam berhijrah. Tapi, apa betul begitu?

Sebelum meyakini bahwa Rina Nose bisa mendangkalkan akidah umat, sebaiknya kita bahas dulu tentang voyeurisme. Secara sederhana, voyeurisme diartikan sebagai praktik mengintip.

Biasanya, aktivitas mengintip itu terkait dengan sesuatu yang sangat privat bagi orang lain (yang diobjekkan). Misalnya, mengintip orang yang sedang ganti baju di kamar mandi atau curi-curi pandang ke tetangga.

Bagi sebagian orang, voyeurisme bisa jadi aktivitas yang menyenangkan, karena si objek tidak sadar atas kehadiran subjek (pengintip). Voyeurisme juga bisa bikin nyandu – mengintip adalah candu.

Dan, media sosial adalah lubang besar untuk mengintip pada jaman now. Media sosial adalah pemuas hasrat untuk menjadi seorang voyeur garis keras.

Sentilan sang ustadz menjadi semacam babak baru di ruangan yang ada lubangnya itu. Dan, lewat lubang tersebut, para voyeur tengah menantikan dengan rasa cemas tapi gemas, apa yang akan terjadi kemudian? Ini semua adalah pemuasan hasrat yang tiada habisnya.

Contoh kecil tentang voyeurisme dimulai dari dialog Ustadz Abdul Somad bersama audiensnya di televisi. Ia memulainya dengan membaca secarik kertas yang berisi pertanyaan dari salah satu peserta.

Tentu saja, si penanya itu adalah seorang voyeur atas pertanyaannya tentang Rina Nose yang buka jilbab. Menanggapi itu, sang ustadz tidak langsung menjawab, tapi bertanya sana-sini seolah-olah yakin bahwa orang di sekitarnya juga suka mengintip.

“Rina Nose ini siapa? Artis? tanya sang ustadz. Kemudian, ia menjawabnya sendiri, “Yang pesek itu? Saya kalau artis jelek ndak, kurang berminat saya.” Beliau seperti menunjuk hidungnya sendiri sebagai seorang voyeur.

Lagipula, tubuh Rina Nose bukan properti yang bisa dinilai begitu saja, seperti yang lazim kita temukan dalam budaya patriarkis nan kapitalistik.

Kalau mancung memangnya kenapa? Terus kalau pesek, masalah buat ente? Maksud hati menunjuk hidung orang, yang ada malah tertunjuk hidung sendiri.

Apa iya, Rina Nose itu sejenis Firaun yang dengan kesombongannya sampai mengaku dirinya sebagai Tuhan, sehingga harus disikapi dengan “sombong kepada orang yang sombong, shodaqoh”?

Mau sedekah kok harus sombong?

Sekalipun, jika benar bahwa Rina Nose melepas jilbab karena ingin menjadi ateis, agnostik, atau apalah itu nama filosofisnya, apa iya warganet tetap berhak menghakiminya? Bahwa perkara ateisme bisa jadi agak rumit, jika kemudian mulai membawa-bawa sila pertama Pancasila.

Apalagi, kalau sudah masuk ke ranah bahaya laten komunisme. Bisa-bisa Rina Nose ini menjadi santapan empuk sebagian kelompok yang sukanya geradak-geruduk itu.

Mari kita melipir sejenak ke buku Sejarah Tuhan yang ditulis oleh Karen Armstrong. Pada buku best seller yang terjemahannya dalam Bahasa Indonesia diterbitkan pada 1993 itu tertulis…

“Ateisme merupakan penolakan terhadap konsepsi ketuhanan yang sedang berlaku pada suatu saat. Orang Yahudi dan Kristen pernah disebut ‘ateis’ karena mereka mengingkari keyakinan kaum pagan tentang yang Ilahi, meskipun mereka beriman kepada suatu Tuhan.”

Jadi, ateis belum tentu tidak bertuhan. Rina Nose belum tentu melepas jilbab dalam rangka sedang tidak ber-Tuhan. Mungkin saja dia ada Tuhan, tapi di luar konsepsi umum yang ada di negara kita.

Jadi, Rina Nose bukan semacam bahaya laten. Ateis – yang katanya sepaket sama komunis – belum tentu tidak ber-Tuhan. Kalaupun dia tidak ber-Tuhan, itu kan kata kita. Bisa jadi dia menuhankan sesuatu, dan itu urusan dia dan Tuhannya.

Yang penting, rajin-rajinlah kita bersedekah kepada siapapun secara sukarela, ikhlas, bukan dengan kesombongan…

  • Rizal Maulana

    Sudut pandang tulisan ini memang berat ke rina nose. Bukan kepada Islam. Sementara uztad menitik beratkan rina menghina islam, karena hijab bukan pakaian yang bisa dipasang lepas. Tp ah sudahlah, berdebat dengan penulis pun percuma kan.. 🙂 Semoga hidayah diberikan kepada kita semua..

  • Kevin Kurnia

    Terus klo yg korupsi pengadaan Al-Quran atau pangeran Arab yg lagi rame itu bisa dibilang penghinaan thd Islam gak? Oh ya tentu tidak, kan mancung2 idungnya hehe… tp mmg sih org buka jilbab lbh bahaya dibanding korupsi 🙂