Daripada Revolusi Putih, Mending Revolusi Biru

Daripada Revolusi Putih, Mending Revolusi Biru

Ilustrasi (nationalgeographic.com)

Selang beberapa hari setelah Anies Baswedan dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta, Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto, langsung menemui Anies.

Hashim membawa usulan Revolusi Putih, yaitu program pemberian makanan gratis kepada anak-anak berupa susu dan lain-lain. Bahkan, program ini diusulkan agar dianggarkan dalam APBD DKI Jakarta tahun 2018.

Wajar saja, jika usulan yang merupakan gagasan Prabowo itu disampaikan kepada Anies. Gerindra kan salah satu partai utama pendukung Anies menjadi gubernur DKI, meski dulu sempat berseberangan. Tapi inilah kecanggihan Jusuf Kalla.

Revolusi Putih bahkan disebut-sebut sudah digagas sejak Prabowo maju pada Pilpres 2009. Hayo coba tebak, sudah berapa kali Pak Prabowo maju di pilpres?

Di Jakarta, program ini rencananya ditujukan untuk anak-anak tidak mampu di SD-SMA baik swasta maupun negeri, dengan memberikan makanan gratis berupa susu, bubur kacang hijau, dan telur rebus.

Unsur ‘susu’ itulah yang kiranya kemudian melecutkan gagasan bernama Revolusi Putih. Kalau terinspirasi dari bubur kacang hijau, mungkin namanya Revolusi Hijau kali ya?

Namun, beberapa orang berpendapat – kalau tidak mau dibilang nyinyir – bahwa program ini berbau politis dan tidak semata persoalan memberikan makanan gratis. Terlebih, menggunakan dana APBD. Beberapa orang bahkan menuding ini ‘ada udang di balik susu’.

Udang dan susu jelas berbeda, tetapi boleh jadi memang dapat menggantikan susu dari sisi kandungan proteinnya.

Udang berkadar asam amino yang tinggi, berprofil lengkap, dan sekitar 85-95% proteinnya mudah dicerna tubuh, sehingga udang dikategorikan makanan complete protein, begitu kata pakar gizi.

Karena itu, asupan yang berprotein memang tak harus susu. Dan, ternyata benar saja, reaksi muncul dari Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek. Bagaimana caranya mendapatkan susu dari sapi atau kambing untuk kebutuhan 250 juta lebih penduduk Indonesia?

Artinya, menkes mengkritik program ini sulit dilaksanakan dan tidak relevan untuk mencegah kekurangan gizi – dalam bahasa media daring lainnya disebut menkes menentang.

Protein memang tidak harus diperoleh dari susu. Apalagi, meminum susu bukanlah tradisi umum bagi masyarakat Indonesia. Kandungan protein dalam susu dapat digantikan oleh sumber makanan lain.

Menkes Nila mengusulkan malah lebih baik masyarakat Indonesia didorong memakan ikan. Mirip dengan keinginan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Bagaimana Bu Susi?

Mengingat bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia dengan 70%-nya merupakan wilayah laut, tapi yang terjadi justru ironi. Kayak hubungan kita, kelihatannya dekat tapi tak bisa memiliki. Duh…

Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) menyebutkan Indonesia merupakan negara berperingkat kelima konsumsi ikan di Asean. Konsumsi ikan Indonesia tercatat sebanyak 32,24 kg/kapita/tahun.

Sementara Malaysia pada urutan teratas dengan konsumsi sebanyak 58,1 kg/kapita/tahun. Selanjutnya Myanmar sebanyak 55 kg/kapita/tahun, Vietnam 33,2 kg/kapita/tahun, dan Filipina 32,7 kg/kapita/tahun.

Maka tak heran, jika Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggiatkan masyarakat mengonsumsi ikan dengan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Gerakan itu sebagai upaya mengurangi ketergantungan konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging sapi yang saat ini harganya tinggi. Kalau tidak mau makan ikan, tenggelamkan! Tenggelam dalam kenangan, maksudnya… 🙂

Di sisi lain, susu sudah tidak lagi populer sebagai penyempurna. Masih ingat program 4 Sehat 5 Sempurna? ‘Kids jaman old tentu masih ingat dong dengan program yang digagas sejak tahun 1952 itu?

Orde Baru begitu getol menggalakkan program tersebut. Program kok galak? Tapi, pada 2016, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghapusnya dengan alasan sudah tidak relevan.

Revolusi Putih memang baru digagas sebatas untuk wilayah DKI Jakarta. Andai saja Prabowo kelak menjadi presiden (andai saja loh yah), bukan tidak mungkin akan menjadi program nasional ‘Ayo Minum Susu’.

Tapi saya kira membangun karakter bangsa yang sehat dan kuat tidak hanya dengan minum susu. Kandungan kalsium, fosfor, dan zat besi pada susu juga dapat ditemukan dalam berbagai protein hewani lainnya, seperti ikan yang tentunya lebih murah dan mudah didapat.

Hewan yang banyak hidup di samudra biru seluas hatiku kepadamu itu sudah teruji kadar proteinnya. Kelas menengah tentu suka salmon. Tapi kamu juga bisa makan ikan tuna, kakap, kerapu, tenggiri, kuwe, dan ikan… tongkol! Ya betul, silakan ambil sepedanya…

Maka dari itu, lebih fleksibel untuk menggerakkan program sarapan atau makanan gratis untuk anak-anak dengan menu makanan lain, misal ikan, yang juga kadar gizinya seimbang.

Kalau meminjam istilah ‘Revolusi Putih’ ala Prabowo, Hashim, atau Anies nantinya yang mengutamakan susu, saya sih lebih cenderung dengan ‘Revolusi Biru’ yang mengandalkan ikan. Selain lebih fleksibel, revolusi itu juga realistis. Ce ilee revolusi..??

Bagaimanapun juga, asupan protein terutama pada anak-anak haruslah ditambah. Karena cukup hati yang kosong, gizi mah jangan…

  • Teguh Djunaedi

    Menkes kok gampang slogan2 yg dibuat oleh orang2 yg haus kekuasaan,revolusi putih menunjukan betapa kuatnya pengaruh bibib terhadap yg katanya orang2 pintar,begitu percayanya sama semua sabdanya