Revisionis atau Panah Asmara yang Salah Sasaran?

Revisionis atau Panah Asmara yang Salah Sasaran?

blastr.com

Wahai Voxpop.id tersayang, izinkan saya ikut nimbrung dan ‘bernyanyi’ terkait artikel yang ditulis saudara Farid Firdaus berjudul ‘Ini Hanya Pesan Ecek-ecek buat LGBT dan Simpatisannya’ yang tayang pada 18 September lalu.

Dalam artikel tersebut, saudara Farid menyatakan, “Bukankah yang diharapkan dari cinta itu adalah kedamaian? Siapa yang mau hidup menua dan sendiri di dunia ini?”

Jujur, saya jadi tertarik soal percintaan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang kemudian dilembagakan dalam pernikahan sejenis. Menurut saya, kalau semua orang mengklaim atas nama cinta, lalu bisa berbuat semaunya, bisa kacau dunia persilatan.

Sebagai ilustrasi begini. Saya dan saudara Farid sama-sama punya istri. Terus saya cinta sama istri Farid. Lalu saya rebut. Farid pasti marah-marah. Runyam kan jadinya, meski itu sebenarnya legal-legal saja.

Kalau begitu, apakah cinta selalu diharapkan membawa kedamaian? Kedamaian siapa? Wong, bikin kacau rumah tangga orang. Pusing pala barbie. #amit-amit

Lalu, apakah kita perlu berdoa kepada Dewa Cupid, sang pemanah asmara? Wahai Amor, putera Venus dan Mars, jangan sampai panah asmaramu salah sasaran, sehingga menusuk hati dua insan manusia sesama jenis.

Setahu saya, dalam mitologi Romawi, Dewa Cupid tidak pernah memanah hati pria dengan pria atau wanita dengan wanita. Tapi bisa saja terjadi di era globalisasi ini. Mungkin panah Cupid sudah digital. Tapi error, eh nyasar kemana-mana. #tiarap

Balik lagi soal cinta-cintaan. Menurut saya, agak munafik kalau cinta itu tidak butuh interaksi. Artinya, cinta itu juga bicara orientasi dan imajinasi seksual.

Jika LGBT dan pernikahan sejenis layak diakui, bagaimana dengan fetishisme? sadomasokis, eksibisionis, veyeurisme, bestialitas, incest, pedophilia, necrophilia, dan frotteurisme?

Untuk yang itu, silakan tanya mbah Google pengertiannya. Kalau saya jelaskan secara rinci berikut contohnya juga percuma. Ngetik sampai jari keriting pasti diedit sama mas Jauhari Mahardhika.

Memang, ada beberapa orang di bumi ini menjadi gay atau lesbian karena trauma masa lalu. Bisa tanya ke psikolog, pasti mereka paham. Lalu ada juga yang menjadi gay atau lesbian karena tren gaya hidup.

Tren terbentuk dari sebuah lingkungan masyarakat. Beberapa teori sosial percaya bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa dan perilaku manusia. Kalau alasan utamanya adalah tren, maka fenomena LGBT akan menimbulkan gejolak berupa penyimpangan seks di masyarakat.

Saya tidak yakin kalau gay atau lesbian adalah kodrat dari Tuhan. Mustahil orang baru lahir sudah gay atau lesbian. Paling orang menyadari gairah dan orientasi seks ketika beranjak remaja.

Memang setiap manusia memiliki sisi feminim dan maskulin, tapi ya itu lingkungan sangat berperan besar. Seharusnya masyarakat lah yang merangkul dan ‘mengobati’ gaya hidup mereka.

Dengan begitu, fenomena ini tidak meluas kemana-mana, sehingga tidak merusak tatanan dan kehidupan sosial masyarakat, yang mungkin tabu terhadap persoalan ini. Kita tahu, setiap masyarakat memiliki tatanannya masing-masing.

Bukan berarti legalisasi pernikahan sejenis di Amerika menjadi indikator kemajuan peradaban global. Sedangkan negara yang sebagian besar masyarakatnya menolak LGBT dan pernikahan sejenis distempel kolot.

Jika LGBT dan pernikahan sejenis dipaksakan untuk merevisi tatanan yang ada, bisa repot. Lalu bagaimana kalau fetishisme, sadomasokis, eksibisionis, veyeurisme, bestialitas, incest, pedophilia, necrophilia, dan frotteurisme juga menuntut pengakuan yang sama?

Apakah nanti istilah LGBT harus direvisi menjadi LGBTFSEVBIPNF? Kebayang kan jadi ribet. Banget…

  • Destia Putri

    Hahaha..bener juga ya pemikiran si penulis ini.. Dengan adanya LGBT, maka penyimpangan seks lainnya juga nanti akan minta ‘pengakuan’ dari pemerintah Amrik..

  • Kevin Sutedja

    Bung wahyu, bagaimanapun LGBT dll merupakan bagian dari masyarakat. Bisa dibilang minoritas. Bukannya mayoritas harus menghargai minoritas? yang minoritas juga harus menghormati yang mayoritas. Apapun itu jangan sampai LGBT dipojokkan terus, mereka kan juga manusia.

    • Maaf sebelumnya Bung Kevin. Dalam sudut pandang saya, minoritas seyogyanya lebih kepada aspek pemikiran, jiwa dan nurani. Apakah keminoritasan LGBT telah berada pada aspek tersebut? Jujur saya tidak bermaksud untuk memojokkan LGBT. Intinya tulisan tersebut adalah Vox Populi atas ketakutan kami akan kelanjutan kebijakan pemerintah Amrik tersebut. Singkat kata, bagaimana jika beberapa perilaku yang sejenis dengan LGBT juga ikut meminta ‘pengakuan’??

  • ade angga komara

    Mungkin realitanya ada di masyarakat kita, tapi tentang legalisasi weeew horor lah… Apa nasib rocker pesolek… Ga sudi dapet surat cinta dari sesama jenis wkwkwk… Horor

    • Yap Ade Angga Komara, memang legalisasi itulah yang menjadi sesuatu yang horor.. Terkadang ada 1 persen keinginan dari diri seseorang untuk menjadi L atau G, namun karena adanya ‘pengakuan’ dari pemerintah ini, mereka jadi yakin 70 persen atau malah 100 persen untuk jadi L atau G.. Menurut saya LGBT adalah tentang psikologis seorang manusia karena masa lalu dan lingkungan..bukan suara jiwa..

  • Sedangkan “Binatang” (Bukan Bermaksud kasar) tidak mau/ingin melakukan hubungan sexs dengan sesama Jenis Kelamin… Think again -_-”

    • Itulah arti sebuah kodrat, oom Romi Poetra.. Terkadang, kita sering lari dari ketetapanNya..

  • Mengerikan lah klo sampe di legal kan. Walaupun sebenernya udah banyak banget di lingkungan kita hal-hal yang sebegitu. Bner kata Mas Wahyu, itu masalah masa lalu dan lingkungan. Mungkin yang harusnya di salahkan bukan si ‘Pelakunya’ tapi orang-orang yang ada di lingungan masa lalunya…

    • Makasih Citrani, pastinya kita tidak menyalahkan si ‘pelaku’, karena apa yang ia rasakan memang terjadi akibat masa lalu dan lingkungan. Di balik itu semua, adanya kebijakan LGBT jelas akan memicu ‘pelebaran’ perilaku tersebut.

  • Wahai para LGBT, jangan buat Ciptaan Tuhan menjadi sia-sia…

  • sia-sia karena lari dari hakikatNya.. 🙂

    • kevin sutedja

      Alangkah baiknya ada sedikit toleransi lah buat LGBT, minimal nggak menyudutkan, klo mmg nggak mau mengakui…. Pisss…

      • Hahaha..tak ada niat untuk menyudutkan, Bung Kevin.. Intinya adalah kekhawatiran sebagian masyarakat. Jika ‘pintu’ telah dibuka atas nama kebijakan pemerintah, beberapa orang di tahun-tahun ke depan akan memilih untuk masuk, walau mereka tahu bahwa apa yang mereka rasakan hanya karena mengikuti trend ‘LGBT’, bukan karena trauma masa lalu atau lingkungan yang menekan jiwa.

  • farid firdaus

    terimakasih Wahyu, sudah meluangkan waktunya untuk turut bernyanyi di artikel LGBT.

    Lumayan unik persepektifnya. Kalau saya boleh komentar, menurut sebagian teman saya, kurang tepat menyamakan LGBT dengan bestialitas, incest, pedophilia dan yang lainnya. Perbedaannya, LGBT adalah hubungan manusia yang sama-sama enak. Nah, kalo Pedophilia?

    • Pertanyaan yang bagus, Mas Farid..
      Jika alasannya adalah sama-sama enak, maka incest pun juga pasti sama-sama enak. Lalu, bagaimana dengan Pedophilia? Saya rasa akan muncul alasan baru, bagaimana jika 1 atau beberapa orang dari 10 ‘penganut’ Pedophilia juga menemukan ‘korban’ yang juga merasakan sama-sama enak?
      Jika memang ada yang telah yakin dengan L atau G,B, dan T yang ia anut, silahkan. Cuma tetap saya katakan lagi bahwa kebijakan Amrik ini lho yang bisa berujung pada terbukanya pintu-pintu ‘penyimpangan’ yang lainnya..