Renungan Milenial ketika Menghadapi Bulan Puasa

Renungan Milenial ketika Menghadapi Bulan Puasa

Ilustrasi (alimancenter.com)

Bulan puasa tahun ini jatuh pada akhir bulan. Waktu dimana kaum anak kos sudah lebih dulu berpuasa. Padahal mereka bukan NU, bukan pula Muhammadiyah. Sungguh, mereka termasuk golongan orang-orang yang selalu merindukan Ramadan. Salut!

Persiapan menjelang puasa tampaknya juga digalakkan oleh para pedagang kolak dan gorengan. Aku pun berusaha untuk merenungi, meresapi, dan menghayati bulan penuh kebaikan ini, yang pada akhirnya membuahkan beberapa agenda.

Agenda ini tentu positif dan mungkin bisa menjadi referensi untukmu yang sedang terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, atau tenggelam dalam lautan luka dalam. Sebab, kita semua adalah butiran debu.

Lalu, apa saja agenda itu?

1. Mengaji

Simpan dulu senyum manismu, aku tak sedang kerasukan jin baik. Bagiku, saat-saat seperti inilah yang bisa memacu adrenalin melebihi rasa deg-degan saat bertemu pak polisi di perempatan lampu merah, sementara aku lupa tak memakai helm.

Biasanya semua orang mengaku bahagia menghadapi bulan Ramadan, tapi jujur aku selalu mati gaya dan salah tingkah. Ada perasaan tak pantas sebagai manusia yang berlumur dosa ini. Kalian semua suci, aku penuh dosa, sambil terbayang potongan adegan perbuatan dosa yang melintas begitu saja di kepala.

Misalnya, mengutil ayam goreng di meja makan, membayar parkir motor dengan selembar uang dua ribu yang bopeng, atau diam-diam memasukkan daftar nama mantan yang akan kuundang pada hari pernikahan nanti.

Bagiku, itu semua bukanlah dosa yang receh. Ibuku, tunanganku, sampai tukang parkir pasti akan sakit hati, jika mengetahui semua ini. Belum lagi hati para bigot yang akun Facebook-nya aku unfriend dan unfollow, karena ulahnya yang aku anggap menyebalkan itu.

Masihkah aku berhak merasa bersih dan pantas melenggang pada siang hari kala puasa sambil menghujati warteg-warteg yang ngeyel tak mau menutup warungnya? Duh Gusti, aku tak ingin masuk neraka. Sebab, aku ingin sekali bertemu dengan 70 bidadara di surga.

Akhirnya, aku meminta ibu mendatangkan guru mengaji. Sambil menunggu konfirmasi, aku menyempatkan diri untuk berghibah mencari-cari aktivitas mengaji dengan metode ‘one day one juz’ yang ngetren beberapa tahun terakhir. Tak perlu bingung memilih komunitas mengaji semacam ini. Sebab, pada bulan puasa, pastinya bertebaran dan biasanya gratis.

Aku juga tak terlalu selektif dalam memilih komunitas tersebut. Paling-paling, cukup membaca review dari selebritas kenamaan yang katanya sudah merasakannya. Yah, sebagai informasi saja bahwa kredibilitas suatu kegiatan atau produk di era milenial saat ini kan berbasis pada siapa yang di-endorse. Ya kan?

Misalnya kalau kita disuruh milih kue strudel yang pada kemasannya ada muka artis tampan brewokan dengan senyumnya yang manis itu atau yang cuma gambar apel bisu doang, pilih mana coba? Jenggot dan lisan yang santun itu jauh lebih menawan dan jaminan mutu, bukan?

2. Ibadah Ekstra

Jangan heran, jika perilaku orang saat bulan puasa mendadak menjadi separuh malaikat. Kita berubah menjadi penyabar, toleran, dan dermawan. Tentu semua orang berlomba-lomba mengumpulkan pahala. Masak iya, status dan komen di media sosial masih aja caci-maki kelas teri? Fanatik boleh-boleh saja, bodoh jangan.

Aku pun tak ingin ketinggalan. Mulai menebar pesan-pesan damai yang inspiratif. Bisa dengan mem-posting menu sehat saat sahur atau membagikan foto buka bersama anak yatim. Ya pokoknya yang terlihat riya positif lah.

Selain ibadah puasa dan sholat wajib lima waktu, ibadah sunah lainnya akan kutegakkan mati-matian dan mengupayakannya dengan keras. Sekeras usahaku dulu saat berebut tanda tangan pak ustadz selepas ceramah tarawih.

Sehabis salam witir, aku bergegas turun sambil berlari dari lantai atas tempat shaf perempuan, masih mengenakan mukenah dan menyelempangkan sajadah begitu saja di pundak. Walau dengan kecepatan tinggi, aku selalu saja kalah dengan bocah-bocah ingusan lainnya. Mereka yang jauh lebih gesit dan bergerombol mengerubungi pak ustadz yang duduk bersila di dekat mimbar.

Kompetisi semacam itu sungguhlah ketat dan agak keji, jika sampai terjadi sikut-sikutan. Riuhnya mungkin hampir sama seperti konser Coldplay dengan tiket festival, dimana penonton ingin lebih dekat dengan sang idola plus kalau beruntung bisa ngegrepe sepatunya Chris Martin.

Nah, kalau sudah begitu, pak ustadz biasanya hanya meringas-meringis sembari menasihati kami untuk bersabar. Usaha sekeras dan segigih bocah-bocah itulah kurang lebih yang ingin kutiru dalam membangun niat beribadah ekstra pada bulan puasa.

3. Intensitas Berpacaran

Di samping agenda-agenda mulia yang telah kusebut, rencananya aku juga akan mengagendakan jadwal berpacaran yang efisien. Durasi berpacaran seperti nonton film bareng di laptop, main kartu, main ABC lima dasar, dan kegiatan mesra lainnya otomatis akan dipangkas banyak.

Bulan puasa itu adalah bulan suci, jangan dinodai dengan hal-hal yang tak berarti. Lalu, bagaimana kalau perasaan rindu sudah tak terbendung? Ya terpaksa harus bertemu dengan alasan berbuka bersama.

Alangkah baiknya itu dilakukan di rumah saja. Makan hasil masakan sendiri. Sholat maghrib, isya, plus tarawih berjamaah. Lalu dilanjutkan dengan bertadarus bersama. Ah, indahnya pura-pura berumah tangga. Nggak tahu kalau udah beneran nanti.

4. Buka Bersama

Bukber alias buka bersama adalah agenda wajib yang selalu hits. Bukber bisa mempererat tali silaturahim antar keluarga, calon besan, teman, sampai mantan. Yang terakhir khusus untuk mereka yang belum juga move on, yang tak ingin membunuh kenangan, karena takut dihantui. Duh…

Tapi yang paling seru itu bukber sama teman-teman lama. Misalnya teman semasa PAUD, bimbel, les-lesan bahasa Inggris, alumni beasiswa A, alumni seminar B, sampai alumni 212. Kalau perlu bukber dibuat berjilid-jilid di Masjid Istiqlal. Bukan, bukan itu, maksudku di Istiqlal kan selalu menyediakan buka puasa gratisan setiap harinya. Bisa sampai jilid ke-30 tuh…

Aku sebenarnya suka-suka saja bisa temu kangen dengan teman-teman saat bukber. Apalagi mereka menanyakan soal kabar dan kesehatanku. Aku tak pernah keberatan dengan basa-basi semacam itu ketimbang mendengar pertanyaan, “Kapan nikah?”

Walaupun aku sudah bertunangan – mohon jangan buat hestek #HariPatahHatiNasional – aku bisa saja membungkam mulut mereka dengan kalimat “Mudah-mudahan tahun ini, doakan saja ya”, tapi tetap saja merasa tak enak dengan teman lainnya yang masih membujang.

Tapi lucunya, kadang para bujangan itu berlagak budek dan rabun senja ketika pertanyaan “kapan nikah” digilir kepadanya. Sekali lagi ya, hidup ini kadang lebih jahat daripada Rangga. Jadi, sebelum melakukan agenda yang keempat ini, mereka yang katanya generasi milenial harap menyiapkan mental earphone.

Lalu yang kelima… Hmm apa yah? Aku belum kepikiran lagi. Tunggu sebentar, ada wasap masuk dari temanku. Ia mengajakku tarawih bersama pada minggu pertama puasa.

“Masjidmu berapa rakaat?” tanyaku.

“23” balasnya.

“Oh, tarawih di masjid dekat rumahku sajalah, cuma 11 rakaat, nggak pake ceramah lagi.”