Remaja di Amerika Kritis-kritis, Indonesia kok Tidak?

Remaja di Amerika Kritis-kritis, Indonesia kok Tidak?

March for our lives (Twitter/Chris Grady)

Baru-baru ini, sekitar 800 ribu anak sekolah di puluhan kota di Amerika Serikat berjalan kaki ke gedung-gedung pemerintahan dalam rangka memprotes kurangnya kontrol senjata api. Aksi yang dikenal sebagai March for Our Lives ini diinisiasi oleh pelajar SMA paska kejadian penembakan di Parkland, Florida.

Lebih dari soal regulasi senjata api, protes juga berbicara soal kekerasan yang dilakukan oleh polisi dan rasisme yang diterima oleh masyarakat non-kulit putih.

Protes ini menyebabkan Asosiasi Senjata Api (NRA) keok. Banyak perusahaan menghentikan kerja sama dengan asosiasi dan banyak tokoh penting juga turut mengecam. Padahal, NRA adalah salah satu lembaga yang paling berpengaruh terhadap pemerintah Amerika.

Aksi ini juga tercatat sebagai salah satu protes terbesar yang pernah terjadi di Amerika Serikat, nomor dua setelah Women’s March.

Apa yang menyebabkan Generasi Z di Amerika Serikat bisa begitu kritis terhadap pemerintah, baik lewat internet maupun di jalanan? Sementara di Indonesia, mahasiswa demo sedikit saja langsung disuruh cepetan lulus, atau komentar sedikit saja langsung dicap SJW.

Mungkin karena kita sejak lahir sudah langsung didoakan supaya jadi anak yang penurut, tidak suka membantah, dan taat pada perintah. Kita diajarkan agar patuh pada orang yang lebih tua dan tidak banyak bertanya.

Saya menemukan sesuatu yang menarik di sekolah dasar di Detroit, kota tempat saya mengajar.

Ketika kami sedang membahas soal hidroponik, seorang anak bertanya, “Warna kesukaan kamu apa?” Lalu saya jawab tidak punya. Tapi anak tersebut tidak puas dan kembali bertanya, “Masa sih tidak punya? Rambut kamu biru, komputer kamu juga biru, jaket salju kamu juga biru. Pasti warna kesukaan kamu biru ya!”

Hmmm… Saya kagum pada kemampuannya mengobservasi dan memaparkan data sembari mengklarifikasi dengan sopan.

Dalam kesempatan berbeda, anak yang lain bertanya, “Dari logat kamu berbicara, kamu seperti orang yang berasal dari benua… apa tuh? Apa ya namanya?”

Lalu, saya balik bertanya, “Apakah yang kamu maksud itu Asia?”

Dengan semangat, dia menjawab, “Betul! Asia maksudnya. Berarti kamu bisa bicara Bahasa Asia yah?”

Saya pun balik lagi bertanya, “Kalau Asia itu sama seperti Eropa dan Amerika. Kira-kira, ada tidak yang berbicara Bahasa Eropa dan Amerika?”

Kejadian semacam itu nggak mungkin terjadi ketika saya SD di Indonesia. Pertama, karena nggak mungkin ada ibu guru berambut biru. Kedua, mana mungkin murid berani menantang jawaban guru melalui pemaparan hasil observasi?

Dan ketiga, siapa berani bertanya remeh-temeh ke guru soal warna kesukaan dan daerah asal, ketika gurunya lagi kasih penjelasan kenapa luas permukaan bisa bikin perahu mengapung?

Bisa-bisa disemprot dan langsung disuruh berdiri di depan kelas.

Rasa aman untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan berinteraksi secara personal dengan guru, atau siapapun yang lebih tua, adalah salah satu hal yang tidak pernah saya dapatkan saat bersekolah.

Mungkin karena itu, ketika kuliah, banyak mahasiswa yang takut bertanya, soalnya takut kelihatan bodoh. Atau sebaliknya, justru senang bertanya panjang lebar agar terlihat pintar.

Bertanya sebagai bentuk klarifikasi dan mencari tahu tak jarang menjadi tabu. Sehingga sikap kritis pun seringkali terasa mewah.

Waktu SD, saya pernah bertanya kepada guru agama tentang mengapa kita harus mengakui satu agama dan satu Tuhan saja? Kenapa orang yang beragama berbeda dianggap jahat? Padahal, teman baik saya Tuhannya beda dan ibadahnya beda, tapi dia anak yang baik dan selalu dapat peringkat tinggi di sekolah.

Tapi, guru saya marah.

Lain waktu, wakil kepala sekolah berceramah, katanya mengisi kotak amal dengan uang mainan adalah perbuatan dosa. Usai ceramah saya bertanya, “Kenapa dosa, Pak?”

Lalu saya dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Karena masih penasaran, saya kembali bertanya lagi, “Kenapa dosa, Pak? Kan uang mainan tidak menyakiti siapa-siapa, lagian nanti juga akan dihitung lagi uangnya. Ya tinggal dibuang saja pas ketemu, atau disumbangkan untuk jadi mainan? Emangnya Tuhan marah yah, Pak?”

Wakil kepala sekolah marah lagi. Kali ini, malah ayah saya yang dipanggil.

Kata wakil kepala sekolah, saya melawan guru. Padahal, saya betulan bertanya karena ingin tahu. Kasihan betul orang tua saya harus buang-buang waktu menghadap kepala sekolah atau wakil kepsek cuma karena anaknya bertanya.

Ah, bertanya saja kita sulit, apalagi mau mengumpulkan jutaan orang untuk protes ke parlemen seperti Emma Gonzalez, remaja perempuan yang memimpin March for Our lives?

Keberanian dan sikap kritis seperti yang ditunjukkan Emma tidak tumbuh dari anak yang sejak kecil dipaksa patuh, nurut, dan dilarang bertanya. Keberanian Emma tidak tumbuh dari masyarakat yang suka mencibir aksi dan protes di jalanan.

Keberanian dan sikap kritis tidak tumbuh dari siswa yang kreativitasnya dibatasi oleh sikap guru yang malas memberi jawaban, dan tidak mau berdiskusi dengan dalih siswa harus menghormati guru. Keberanian dan sikap kritis juga tidaklah tumbuh dalam diri anak yang takut mengutarakan pendapat kepada orang tua karena khawatir dimarahi.

Keberanian dan sikap kritis dipupuk guru yang mengakomodasi pertanyaan-pertanyaan muridnya tanpa menghakimi, juga lahir dari orang tua yang memberi ruang bagi anak untuk berdiskusi dan berbantah dengan sopan.

Keberanian dan sikap kritis tumbuh dalam masyarakat yang saling mendukung dan bahu-membahu untuk keadilan sosial, daripada saling mencibir dan menjatuhkan. Keberanian dan sikap kritis tumbuh dalam diri anak-anak yang merasa berharga dan percaya diri karena diapresiasi dan diberi ruang aman untuk berpikir, menyatakan pendapat, dan berdiskusi.

Pendidikan di Amerika Serikat memang bukan yang terbaik, dan tidak bisa serta-merta diterapkan di Indonesia. Namun, memberi ruang aman kepada anak untuk lebih percaya diri dalam bertanya dan mengutarakan pendapat tidak seharusnya menjadi barang mewah.

Ruang-ruang aman agar anak bisa bertanya tidak semestinya hanya bisa diberikan kepada mereka yang mampu membayar sekolah mahal, tetapi juga di semua sekolah dan… keluarga.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN