Reformasi dan Remaja Kekinian

Reformasi dan Remaja Kekinian

Ilustrasi (berdikarionline.com)

Ibarat fase kehidupan manusia, usia reformasi bisa dibilang masih remaja. Gairahnya terus bergelora, banyak maunya, dan suasana hatinya pun sungguh labil. Pada masa inilah, anak remaja mulai berpikir soal transisi menuju usia dewasa 21 tahun ke atas.

Yang namanya transisi, tentunya banyak godaan yang begitu menggiurkan. Senangnya bikin khawatir. Sebab, ia bisa tersesat di jalan yang salah, lalu buntu, dan frustrasi. Kalau tersesat di jalan yang benar sih nggak apa-apa.

Itu kenapa anak remaja butuh teman pendamping. Syukur-syukur pacar. Biar ada partner curhat sekaligus pengingat sekaligus penyemangat, sekaligus lain-lainnya. #ehm

Kecuali, anak remaja itu memilih jalan untuk tidak pacaran, seperti anak-anak rohis di SMA yang ramai dinyinyirin dibicarakan di media sosial belakangan ini.

Mungkin itu yang dimaksud jomblo prinsipil kali ya. Bukan jones alias jomblo ngenes seperti anda. Tapi apapun itu, pada dasarnya anak remaja butuh pendamping yang asyik, termasuk dari orang tuanya.

Reformasi juga begitu. Masa transisi menuju demokrasi ini begitu rawan. Terus digoda oleh anasir-anasir anti-demokrasi, semisal oligarki politik, kartel ekonomi, dan fasisme.

Tentu ini godaan yang berat. Bisa saja kembali terjerumus ke lembah otoritarianisme, seperti dulu Orde Babe (Orba), atau justru melenggang menuju demokrasi yang hakiki.

Itu kenapa reformasi butuh pengawal sekaligus sahabat yang setia, sama halnya remaja butuh pendamping yang asyik. Kalau sekiranya mulai keluar jalur, kan ada yang mengawasi.

Lalu, siapa yang mampu mengawal reformasi? Siapa lagi kalau bukan kekuatan masyarakat sipil pro-demokrasi. Misalnya mahasiswa, akademisi, LSM, pers, sastrawan, atau organisasi-organisasi riil yang ada di masyarakat, seperti buruh, petani, nelayan, dan kawan-kawan.

Elemen-elemen pro-demokrasi ini seharusnya punya elan yang membebaskan reformasi dari gangguan, dan mengawalnya hingga tercipta tatanan masyarakat yang beradab atau masyarakat madani atau civil society. Sebab, civil society yang akan melindungi warga negara dari kekuasaan negara yang berlebihan.

Ia bisa dibilang pilar utama kehidupan politik yang demokratis. Ia tidak hanya melindungi warga dari negara yang dzolim, tetapi juga merumuskan dan menyuarakan aspirasi masyarakat.

Tapi, kalau melihat kondisinya saat ini selalu bikin khawatir, sama halnya dengan anak remaja yang mulai mencicipi kebebasan. Padahal, kebebasan harus satu paket dengan tanggung jawab, layaknya orang dewasa. Kalau tidak, kebebasan hanyalah fatamorgana. Semu.

Coba kita perhatikan, elemen masyarakat kini terbelah akibat basian sisa pilpres lalu. Gerakan mahasiswa nggak jelas, pers ya begitu deh. Elemen-elemen lainnya juga semakin terkotak-kotak. Ini sebuah fatamorgana atau bahkan senjakala bagi reformasi.

Tatkala ada yang masih kritis, dituding liberalis, komunis. Padahal, hanya di otak Felix Siauw saja, liberalis dan komunis bisa berselingkuh. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Elemen pro-demokrasi seharusnya bisa duduk-duduk minum kopi sambil diskusi, lalu aksi, refleksi, minum kopi lagi, aksi lagi, terus begitu sampai Liverpool juara Liga Inggris.

Kalau lagi ngopi, ambil contoh bahan obrolan yang sederhana, yakni kebebasan berekspresi. Sebab, di era Facebook, Twitter, Instagram, dan kini berkembang Tinder, Steller, dan Snapchat, menyampaikan pendapat akademis bisa dituduh menghina.

Dalam catatan Institut for Criminal Justice Reform (ICJR), terdapat sekitar 40 kasus kriminalisasi terhadap kebebasan berekspresi di internet pada 2015. Tak berhenti di situ, belakangan muncul praktik pemberangusan buku, diskusi, dan pemutaran film yang dituduh mengajarkan marxisme, komunisme, dan leninisme.

Kalau sudah begitu, reformasi kembali berhadapan dengan sang mantan. Ini jelas nyata, bukan hantu seperti komunisme. Kini, yang ada, kenangan pahit Orde Babe kembali mengepul. Intervensi organisasi massa pun datang justru saat tak dibutuhkan. Tindakan yang represif belum benar-benar pudar. Inikah Orba gaya baru?

Di sini, elemen pro-demokrasi harus kembali ke khittah. Bukan sekadar pemberi semangat, tapi memberi jalan alternatif. Misalnya mahasiswa. Kini, mereka tak bisa lagi mengandalkan turun ke jalan, konvoi naik bus, timpuk-timpukan, kemudian lari-lari di tengah Bundaran HI saat jam padat. Ini memang menarik perhatian, tapi efeknya? Lenyap setelah koran pagi terbit.

Seorang kawan pernah berandai-andai, apa perlu ada sosok di film ‘V for Vendetta’ bernisial ‘V’ dengan kostum ala Guy Fawkes meluncurkan propaganda di internet, untuk menciptakan kesadaran bersama? Saya dan kawan saya kompak menjawab, “Ya perlu. Pasti keren banget.”

Dalam realita, sosok ‘V’ terlihat dari individu-individu yang resah soal bau amis otoritarianisme. Sosok itu bisa muncul dari para pejabat, PNS, artis, musisi, guru, penyanyi dangdut, bahkan sopir Gojek atau Grab sekalipun.

Rudy Valinka, pemilik akun @Kurawa pernah berkicau dengan sangat komprehensif soal sine-twit kriminalisasi kasus Jakarta International School (JIS). Beragam reaksi dan pertanyaan muncul terhadap motif Rudy, namun jelas ia membuka mata.

Lainnya, Kartika Jahja yang memilih jalan edukasi publik tentang kesetaraan gender melalui musik, seni, dan kultur pop. Ia tergabung dalam sejumlah kolektif perempuan, di antaranya Kolektif Betina dan Mari Jeung Rebut Kembali.

Tapi, harus diakui, gambaran soal civil society memang hampir terlalu sempurna. Sebab, masyarakat beradab harus menjunjung tinggi etika dan moralitas, transparansi, toleransi, hak asasi, emansipasi, serta hal positif lainnya. Meski begitu, bolehlah reformasi bermimpi. Bermimpi punya sahabat bernama civil society, bukan mimpi anak kemarin sore.

Namun, idenya memang tidak bisa dicetuskan dalam satu malam. Civil society butuh individu-individu yang berpikir dan tangkas, bukan tukang ngambek, atau terlampau picisan mengenang masa-masa kejayaan anak muda era 66 atau 98.

Mengenai keresahan-keresahan anak muda, pikiran saya selalu mengacu pada ‘The Catcher in the Rye’ karya JD Salinger. Bagaimana sebuah generasi memberikan ‘pelajaran’ kepada generasi selanjutnya. “If you have something to offer, someone will learn something from you. It’s beautifull reciprocal arrangement, and it is’nt education, it’s history, it’s poetry.”

Atau, kalau memang terus didera keresahan, kita sepatutnya kembali bertanya, “Apakah memang benar reformasi sudah gagal total? Apa benar reformasi adalah revolusi yang dibajak oleh para elit?” Kalau iya, revolusi haruslah menjadi sebuah keniscayaan. Tapi, apakah kita siap?