Rebutan Kelas Menengah dan Orang Kaya yang Sakit demi Rp 100 T

Rebutan Kelas Menengah dan Orang Kaya yang Sakit demi Rp 100 T

vox.com

Saya pernah mewawancarai secara eksklusif Datuk Michael Toyad beberapa tahun silam. Ketika itu, dia masih menjabat sebagai Menteri Pelancongan Malaysia. Sebelum mewawancarainya, saya mencari banyak cara supaya bisa tembus. Salah satunya mendekati pria melayu ini: Roslan Othman.

Saat itu, Roslan masih menjadi direktur Malaysia Tourism Board (MTB) di Indonesia. Beberapa kali, saya bertandang ke kantornya di Kedutaan Besar Malaysia, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Karena saya sudah berkawan akrab, tidak sulit meminta Roslan mengatur jadwal wawancara dengan Datuk Michael Toyad, yang juga seorang dokter dan berdarah Dayak itu.

Tak lama berselang, akhirnya saya bisa bertemu Toyad di Hotel Shangri-La, Jakarta. Cukup lama. Hampir satu setengah jam, kami berbincang-bincang soal wisata Malaysia, khususnya wisata medis.

Rupanya, sudah cukup lama Malaysia membidik potensi pertumbuhan kelas menengah dan orang kaya di Indonesia. Mereka itu butuhnya macam-macam, dan yang paling strategis bagi orang kaya adalah kesehatan. Tentunya kesehatan yang dibalut dengan pariwisata. “Barangkali untuk alasan itu, Perdana Menteri menunjuk anda yang seorang dokter menjadi Menteri Pelancongan?” celetuk saya kepada Toyad. Ia pun hanya tersenyum.

Ketika menjadi menteri, Toyad bisa dibilang sosok sentral dalam perencanaan, konsolidasi, dan promosi wisata medis Malaysia. Dia hampir tiap bulan berkeliling dunia mempromosikan wisata medis Malaysia, sambil membawa rombongan besar para pemilik rumah sakit, pebisnis, eksekutif, dan pejabat lokal. Hasilnya?

Malaysia menerima wisatawan medis asing sebanyak 641 ribu pada 2011. Lalu, pada 2012 naik menjadi 728,8 ribu. Pada 2013 naik lagi menjadi 881 ribu dan pada 2014 menjadi 882 ribu. Setidaknya itu yang dilaporkan Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC).

Bagaimana kalau dari sisi pendapatan? Wisata medis Malaysia menghasilkan 299 juta ringgit pada 2008. Lalu meningkat menjadi 511 juta ringgit pada 2011. Kemudian naik lagi menjadi sebanyak 683 juta ringgit pada 2013. Kalau dirupiahkan pakai kurs sekarang, 683 juta ringgit Malaysia itu sekitar Rp 2,2 triliun.

Bagi Malaysia, wisata medis sangat strategis. Negeri jiran itu akhirnya memasukan industri kesehatan ke dalam 12 National Key Economic Areas (NKEAs) untuk memacu pertumbuhan ekonominya. Pendapatan dari wisata medis sendiri diproyeksikan mencapai 9,6 miliar ringgit atau sekitar Rp 31,5 triliun. Targetnya menjaring sebanyak 1,9 juta turis medis asing hingga 2020.

Meski sekarang tak lagi menjabat sebagai Menteri Pelancongan, Toyad sudah bisa berpangku tangan. Sebab, wisata medis Malaysia sudah masuk dalam top five destinations untuk wisata medis dunia sejak 2008 oleh Nuwire. Salah satu negara bagian Malaysia yang wisata medisnya paling kinclong dan tumbuh pesat adalah Penang. Kontribusinya lebih dari 60%.

Penang adalah pintu masuk ke Malaysia dari Selat Malaka. Ibu mertua saya di Medan, Sumatera Utara, ternyata menjadi salah satu pelanggan di sebuah rumah sakit di Penang. Kalau naik pesawat dari Medan, hanya menghabiskan waktu 35 menit.

Selain di Penang, di kota mana lagi orang Indonesia berobat sambil wisata di Malaysia? Di Kota Kuching? Ya betul. Daerahnya berbatasan langsung dengan Kalimantan. Rupanya di kalangan masyarakat menengah dan atas di Kalimantan sudah banyak yang tahu.

Sekarang coba kita amati. Mengapa Penang dan Kuching dijadikan pusat wisata medis oleh Malaysia? Apa karena mereka teramat sangat mengincar orang-orang berduit di Indonesia yang tinggal di Pulau Sumatera dan Kalimantan? Memangnya berapa banyak orang Indonesia yang menghabiskan uang di sana untuk berobat plus jalan-jalan plus kuliner? Banyak!

Pada 2013, dari 881 ribu wisatawan medis asing Malaysia, sebagian besar datang dari Indonesia. Setelah itu dari Singapura dan Jepang. Itu belum termasuk orang Indonesia yang berobat sambil plesiran plus selfie segala di Singapura. Kalau kata Paul Tahalele, ketua Kongres Dokter Bedah Dunia, warga kelas menengah dan atas yang berobat ke luar negeri mencapai 600 ribu orang pada 2013.

Bayangkan, bila satu pasien menghabiskan rata-rata Rp 25 juta untuk berobat ke luar negeri, maka ada uang orang Indonesia sekitar Rp 15 triliun per tahun yang dibelanjakan untuk alasan kesehatan di luar negeri. Nilai itu sebenarnya masih tergolong kecil dibandingkan data pemerintah.

Kalau berdasarkan data Kementerian Kesehatan, potensi kerugian devisa negara akibat banyaknya pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri mencapai Rp 100 triliun per tahun. Nilai tersebut terus meningkat, sebab jumlah orang kaya di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Anda salah satunya?

Dari sinilah, kita bisa pahami mengapa Malaysia begitu bernafsu menjaring kelas menengah dan orang kaya yang sakit dari Indonesia. Pasang target yang cukup fantastis pula. Dan, hampir 10 tahun setelah target itu ditetapkan, Malaysia benar-benar kebanjiran turis medis dari Indonesia.

Data dari Kementerian Pariwisata Malaysia 2015 mengungkapkan bahwa sekitar 20-30% orang Indonesia yang datang ke Malaysia masuk kategori wisata medis. Tak heran, jumlahnya kini lebih banyak dibandingkan ke Singapura. Alasan utamanya, ya apalagi kalau bukan biaya pengobatan yang lebih murah. Rata-rata pengeluaran yang harus dibayar pasien dari Indonesia sekitar 1.100 ringgit (Rp 3,6 juta).

Malaysia tampaknya begitu menikmati pesatnya pertumbuhan kelas menengah dan orang kaya di Indonesia. Tapi tunggu dulu… Negara-negara lain, termasuk Indonesia, mulai sadar. Indonesia merasa sangat “dirugikan”, karena devisanya tersedot ke negara lain. Ya memang sudah saatnya berbenah diri, mulai dari regulasi, infrastruktur kesehatan, sampai pelayanan, untuk menahan keluarnya devisa ratusan triliun rupiah ke negara lain.

Tapi apa yang paling ditakutkan oleh Malaysia saat ini? CEO RS Gleneagles Penang, Ivan Loh Ee Hoe dengan nada khawatir pernah bertanya kepada Penang Montly, yang hendak mewawancarainya tahun lalu. “Anda pernah dengar program di Indonesia Jaminan Kesehatan?”

Ya, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah mimpi buruk bagi wisata medis Malaysia. Sebab, semua warga Indonesia mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah. Program itu sudah berjalan sejak 2014. Sejak itu terjadi penurunan yang sangat berarti pada jumlah pasien asal Indonesia yang datang ke Penang. Loh tidak asal bicara. Nadanya kian serius. Dia mengutip laporan penurunan penumpang pesawat bertarif murah dari Indonesia ke Penang yang sekitar 20-30%.

Penurunan drastis turis medis asal Indonesia mengakibatkan pendapatan semua rumah sakit di Penang menurun hingga 100 juta ringgit (Rp 13 miliar). Kalau semua pasien Indonesia tak lagi datang ke Malaysia, maka beberapa rumah sakit siap-siap gulung tikar. Apakah ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Malaysia, terlebih industri asuransi di Indonesia juga terus bertumbuh?

Daripada mikirin mimpi tetangga, bukankah lebih baik kita fokus mikirin mimpi sendiri? Tentunya mimpi indah. Mimpi yang harus menjadi kenyataan. Mimpi punya negara yang benar-benar menjamin biaya pengobatan seluruh warganya. Tanpa syarat. Tanpa harus antre di rumah sakit. Tanpa membeda-bedakan mana pasien yang miskin, kelas menengah, atau kaya. Dengan begitu, laju keluarnya devisa kesehatan yang sebesar Rp 100 triliun itu dapat dihambat. Demi kemajuan perekonomian di negeri sendiri.