Apa Iya, PSSI dan Penggemar Bola Butuh Ratu Tisha?

Apa Iya, PSSI dan Penggemar Bola Butuh Ratu Tisha?

Ratu Tisha (bola.net)

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) telah mengumumkan Ratu Tisha Destria sebagai sekretaris jenderal yang baru. Tisha menggantikan sekjen yang lama, Ade Wellington, yang mundur beberapa waktu lalu.

Terpilihnya perempuan berusia 32 tahun ini melalui serangkaian tes termasuk fit and proper yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Tisha dianggap cakap berorganisasi, dilihat dari kinerjanya mengelola kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia tahun lalu.

Lalu, apakah Tisha mampu mengemban amanah sebagai sekjen PSSI? Bisa ya, bisa tidak. Sebab, yang datang sebagai pahlawan sekalipun, bisa saja pulang sebagai mantan yang tak dikenang.

Tapi, yang jelas, ia punya potensi yang dibutuhkan oleh PSSI dan penggemar sepak bola se-Indonesia raya. Berikut ulasannya…

Matematika sebagai kunci

Biasanya, orang akan takjub dengan profil Ratu Tisha yang menyabet gelar Master FIFA. Tapi sebenarnya tak hanya gelar itu yang bisa membuatnya sukses. Ia juga tercatat sebagai alumni Jurusan Matematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Siapa yang tidak takut kenal dengan matematika? Pelajaran yang selalu jadi momok semua orang, meski pedagang pengusaha selalu bilang, “Matematika itu gampang. Kan isinya cuma tambah kurang kali bagi.”

Nyatanya saat kuliah, saya tidak menjumpai matematika versi semudah itu. Oh ya, saya dulu kebetulan kuliah di ITB juga. Tahun pertama harus saya jalani dengan mempelajari kalkulus, salah satu cabang pelajaran matematika.

Ini bukan soal tambah-kurang-kali-bagi semata, melainkan turunan (differensial), integral, limit fungsi, dan kawan-kawannya. Mau tidak mau, saya dan teman-teman satu angkatan harus mempelajari itu semua sebagai syarat kelulusan Tahap Persiapan Bersama (TPB). Risiko drop out jelas menghantui andaikan kami gagal di TPB.

Tak cukup ‘disiksa’ di TPB, kami mahasiswa teknik juga harus bergelut dengan mata kuliah matematika teknik pada tahun kedua. Tak sedikit mahasiswa yang luluh lantak dan sering mengulang mata kuliah ini.

Maka, anda bisa bayangkan bagaimana mentalitas seorang Tisha yang dengan berani mengambil kuliah jurusan matematika? Ia tak hanya bergelut dengan angka pada tahun pertama, melainkan sepanjang riwayat perkuliahannya atau bahkan sepanjang hidupnya.

Sebenarnya filosofi matematika adalah bagaimana mengolah data dengan melakukan pendekatan model matematikanya. Model matematika ini menolong saya dalam menyelesaikan tugas akhir.

Data-data pengujian yang saya dapatkan diolah dengan menggunakan regresi linear. Karena kalau tidak begitu, data-data saya hanya akan terlihat seperti noda atau titik-titik yang acak dan tak beraturan.

Konsep model matematika ini sesungguhnya akan sangat membantu Tisha dalam pekerjaannya. Ia bakal segera mengetahui bahwa grafik sepak bola nasional selama ini cenderung stagnan, bahkan menurun. Maka, sudah menjadi tugasnya untuk mengubah grafik tersebut menjadi laju eksponensial dimana f(x) = ax (dengan a >1).

Sepak bola memang bukan hitungan matematis, tapi bukan berarti tidak dibutuhkan. Matematika justru bisa menjadi koentji untuk mengelola organisasi bahkan mencapai prestasi. Lagipula, sepak bola kita memang ruwet, butuh kerja-kerja yang terukur dan di situlah peran strategis matematika.

Kita bisa memperoleh angka 9 dari hasil 1+8 atau 2+7. Tapi bisa juga dengan 3×3. Bahkan bisa juga dengan akar pangkat dua dari 81.

Saya yakin Tisha dengan pendekatan matematisnya mampu mengurai benang kusut dan keruwetan tersebut. Terserah mau pakai metode regresi, interpolasi, ekstrapolasi, logaritma, atau malah integral lipat tiga.

Ospek jurusan sebagai pengalaman

Mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa ospek jurusan yang di ITB bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan setahun. Ospek resmi yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa atau KM – semacam BEM-nya ITB – hanya diadakan selama 3 hari.

Namun, ospek jurusan menjadi otoritas masing-masing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) terkait. Pelampiasan penderitaan yang diderita sebelumnya oleh panitia ospek akan dibalut dengan niat mulia untuk menanamkan nilai-nilai luhur kemahasiswaan. Dibutuhkan stamina yang kuat dan mentalitas baja untuk menjalani ospek jurusan ini.

Dulu, kalau tidak ikut ospek jurusan, bisa berimbas pada diskriminasi di tingkat-tingkat selanjutnya. Perlakuan eksklusif hanya kepada mereka yang lolos ospek jurusan tidak jarang terjadi, entah sekarang seperti apa.

Militansi dalam menjalani kerasnya ospek setidaknya memberikan bekal dan pengalaman yang cukup buat seorang Ratu Tisha dalam menghadapi ketatnya jadwal kompetisi sepak bola nasional. Belum termasuk rapat-rapat dengan komite dan perwakilan asosiasi seluruh provinsi yang pasti menguras tenaga dan pikiran.

Sekadar info, jurusan matematika tempat Tisha bernaung dulu adalah salah satu jurusan yang didominasi oleh perempuan. Maka tak heran, ketika rombongan mereka sedang diospek dengan arak-arakan keliling kampus mendapat godaan dari mahasiswa-mahasiswa macam anak mesin.

Tentu pengalaman ini semakin menguatkan mental seorang Tisha dalam menghadapi tekanan dan intimidasi dari kaum lelaki yang memang mendominasi olahraga ini.

Diplomasi perempuan

Sepanjang riwayat persepakbolaan nasional, saya nyaris tak menemukan informasi soal kiprah wasit perempuan. Terakhir, pada 2015, pernah ada pemberitaan tentang pelatihan wasit perempuan, tapi entah bagaimana realisasinya.

Nah, dengan posisi strategis Tisha sebagai sekjen PSSI, kebijakan untuk lebih memberdayakan perempuan sebagai wasit semakin terbuka lebar. Kalau memang bisa, mengapa tidak?

Ingat aksi Fernanda Colombo Uliana sebagai hakim garis di pertandingan Copa do Brasil antara Sao Paulo dan CRB pada 2014? Makanya jangan kebanyakan nonton Liga Inggris melulu.

Diplomasi perempuan di lapangan hijau sangat diperlukan terutama dalam iklim kompetisi sepak bola kita yang (masih) cenderung keras, bahkan brutal.

Pada umumnya, perempuan memiliki sensitivitas sosial, sehingga dianggap lebih bisa berempati. Dalam situasi tertentu, hal itu dibutuhkan untuk meredakan emosi para pemain.

Perempuan juga dianggap pandai mengelola risiko, detail, bahkan banyak penelitian yang mengungkap bahwa mereka memiliki kemampuan dalam kepemimpinan. Jelas, faktor tersebut dibutuhkan oleh wasit perempuan.

Tengok pengalaman Bibiana Steinhaus, wasit perempuan pertama di Divisi II Bundesliga, Jerman. Bagi seorang wasit perempuan, selain potensi intimidasi dan cemoohan, bisa saja terjadi insiden kecil di lapangan.

Secara tak sengaja, seorang pemain pernah menyenggol dada Steinhaus saat memimpin pertandingan. Beruntung, insiden ini tak menyurutkan semangat Steinhaus untuk tetap berprofesi sebagai wasit sepak bola, di samping profesinya sebagai polwan. Pemain yang menyenggol tadi tidak diganjar kartu kuning.

Jadi, jangan remehkan perempuan di dunia sepak bola. Mereka juga punya kemampuan diplomasi yang mumpuni.

Bukan begitu, kak Tisha?