Raja Salman dan Media Sosial
CEPIKA-CEPIKI

Raja Salman dan Media Sosial

bintang.com

Saya tiba-tiba teringat suatu masa ketika belum punya akun media sosial. Hidup isinya cuma kuliah, pulang, nonton tivi, main gaple, sama kerokan. Hidup rasanya sepi, tapi damai. Gak ada ribut-ribut pilkada dan yang paling penting gak ada yang nge-bully kalau malam minggu. Bahagia banget. Yang agak berat paling-paling cuma waktu dimintai tolong ngantre tiket AADC1 buat tiga orang: buat saya, teman saya, sama pacarnya.

Tapi setelah itu, saya akhirnya punya akun media sosial. Hidup mulai berubah. Saya punya teman tujuh orang. Kebetulan jamannya pesan berantai yang harus disebar kepada 25 atau 50 orang. Kalau gak, bisa sial. Lha, bagaimana bisa nyebar sampai 25 atau 50 orang, kalau teman cuma tujuh? Pantesan hidup saya apes banget, apes karena kebagian berisiknya doang.

Lalu saya jadi punya hobi baru: nyari teman. Yang pertama tentu saja teman-teman lama. Sialnya, teman-teman saya itu jarang update status. Mungkin karena temannya juga dikit dan takut kalau disuruh nge-share pesan berantai yang tadi. Sialnya lagi, kalau mereka bikin status dan saya komentar – nanya kabar dan alamat – gak dibalas. Dikira saya mau ngutang kali ya? Saya datengin pakai Mercy S-600 dan turun pakai tangga jalan yang saya bawa sendiri baru tahu rasa mereka.

Lha emangnya punya? Walaupun belum punya, tapi minimal jangan sampai orang tahu kalau kita lagi susah. Ngutang itu biar jadi kebiasaan negara saja. Sebisa mungkin, sebagai calon intelektual muda, kalau lagi butuh bantuan finansial, pakailah istilah-istilah yang lebih keren. Investasi, misalnya. Atau gak tanam saham. Yang pasti, kalau bertamu ke rumah orang, kita harus tampil wah. Mandi dulu, pakai baju baru, bawa Mercy, dan tangga jalan tadi. Kalau mampu.

Saya bilang begitu bukan mau nyindir Raja Salman. Ngapain? Beliau raja dan kaya raya. Tamu negara pula, yang harus dihormati. Saya dan mungkin sebagian dari kalian yang masih gini-gini aja. Saya benar-benar cuma mau bilang kalau media sosial sudah mengubah hidup kita. Waktu belum punya sampai awal-awal punya akun media sosial, ‘kejahatan’ yang dilakukan orang pol mentok – di bawah slogan sharing is caring ­– cuma riya, pamer.

Jalan-jalan ke mana, difoto, upload, pamer. Begitu juga kalau lagi makan dan naik pesawat. Yang terakhir itu saya pikir karena orang jarang naik pesawat aja, makanya begitu naik pesawat langsung difoto. Soalnya saya belum pernah lihat tuh Pak Sandiaga Uno pamer foto jendela pesawat. Yang ada beliau malah nge-upload foto jendela Metromini. Mungkin karena beliau juga baru pertama kali naik Metromini.

Jaman dulu rasanya orang tidak merasa harus berdebat soal apapun. Tapi setelah ada media sosial, orang jadi rajin berdebat. Mulai dari warna gaun, kucing yang lagi naik atau turun tangga, sampai pilpres dan pilkada. Dan, seolah belum bosan berdebat, kedatangan Raja Salman pun dijadikan bahan. Bahkan waktu kedatangannya masih berbentuk rasan-rasan, orang sudah mulai berdebat soal siapa yang akan ditemuinya.

Sekarang sudah lebih heboh lagi. Soal tujuannya datang ke Indonesia jadi ramai diperdebatkan. Mau ngasih pinjaman, investasi, jualan saham, atau apa? Belum lagi soal bawa tangga sendiri, itu memang karena gak mau ngerepotin negara yang dituju atau apa? Ditambah lagi liburannya ke Bali, yang lebih lama daripada kunjungannya ke Jakarta.

Ahli-ahli ekonomi dan geopolitik lalu bermunculan, membahas mulai dari bantuan ratusan triliun, investasi (bukan DP) dengan bunga 0%, sampai kondisi ekonomi Arab paling mutakhir. Yang tetap masih ada ya ahli agama, yang kemudian menemukan dalil soal tangga berjalan yang dibawa sendiri sama Pak Raja. Nemu aja…

Kalau menurut saya malah gak seribet itu.

Kemungkinan pertama beliau cuma mau memecahkan rekor. Sebab, rekor Bang Toyib yang pulang setelah tiga kali puasa tiga kali lebaran itu sudah berhasil dipecahkan oleh Rangga yang butuh tiga purnama selama 14 tahun untuk menemui kembali Cinta di AADC2. Rekor ini kemungkinan besar akan kembali dipecahkan oleh Nokia 3310 yang akan diproduksi lagi, setelah diproduksi untuk pertama kalinya pada 17 tahun yang lalu.

Nah, Raja Salman berpeluang untuk membuat rekor yang lebih hebat dari itu semua dengan kembali mengunjungi Indonesia, setelah kunjungan terakhir seorang raja Arab ke sini pada 47 tahun yang lalu!

Yang kedua adalah masalah tangga. Kita anggap saja itu pesan buat orang-orang yang suka pamer foto jendela kalau naik pesawat. Padahal cuma naik pesawat kelas ekonomi yang beli tiketnya pun harus browsing dua hari nunggu harganya turun. Yang kalau naik pesawat lewat belakang, turun dulu, dan panas-panasan di landasan.

Dengan tangga berjalan Raja Salman yang dibawanya sendiri, kita kembali diingatkan bahwa kita semua cuma butiran debu. Remah-remah rempeyek di baki tukang gorengan.

Yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah tanggal kedatangan beliau, 1 Maret. Bukan, bukan karena bakal ada pengalihan arus lalu lintas. Tapi harus dipastikan kalau 1.500 orang yang dibawanya tidak memakai tanda janur kuning di pakaian mereka. Ya kali, mau ngerayain peristiwa ‘Serangan Oemoem 1 Maret’.

Kalau janur melengkung sih gak apa-apa. Lagipula, konon beliau mengajak juga 25 orang pangeran Arab. Cewek-cewek sudah mulai berdoa, semoga pangeran-pangeran yang diajak itu wajahnya kayak Omar Borkan Al Gala.

Tapi saya cuma mau mengingatkan. Sebelum jadi raja, Raja Salman gelarnya juga pangeran. Kalau gak salah beliau baru diangkat jadi putra mahkota pada 2012, setelah saudaranya meninggal dan baru naik tahta pada 2015. Waktu naik tahta itu umur beliau kalau gak salah sudah 80 tahun. Itu artinya, tidak ada jaminan kalau 25 pangeran yang ikut dalam rombongan Raja Salman masih muda. Tapi yah, namanya berharap kan gak dosa…