Pesan untuk Kak Raisa dan Isyana

Pesan untuk Kak Raisa dan Isyana

viva.co.id

Bandul politik sedang mengarah ke kanan. Kelompok-kelompok yang kerap mengemukakan narasi identitas menguat. Mempersoalkan perbedaan ras maupun keyakinan. Momen paling terang tentang hal ini adalah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Bersama kelompok alt right-nya, ia secara gamblang menampakkan hasrat superioritas ras.

Di Indonesia juga serupa, namun tak sama. Kelompok yang dimusuhi Trump mendapat momentumnya sendiri. Berkali-kali terjadi mobilisasi massa yang mengatasnamankan keyakinan. Terakhir, secara gamblang mengangkat isu kepribumian. Entah pribumi macam apa yang dimaksud?

Beberapa orang menganggap aksi tersebut adalah bentuk dari kesadaran masyarakat. Beberapa orang juga mengatakan bahwa itu tak ada kaitannya dengan Pilkada Jakarta. Ciyus? Bagaimana pun, secara kasat mata, kita bisa lihat bahwa mobilisasi massa – tak hanya kelompok tadi, melainkan juga pihak yang mengusung isu kebhinekaan – adalah bentuk lain dari strategi politik.

Yang satu habis-habisan ingin merebut kekuasaan, yang satu lagi sekuat tenaga mempertahankan kekuasaan. Situasi di dalam negeri menjadi begitu mendidik, eh mendidih.

Contoh kecil, dua orang teman saya dan Asta Purbagustia pernah terlibat perdebatan yang nggak banget. Dua orang teman saya itu tak cuma pernah kuliah di satu kampus dan jurusan yang sama, tapi sama-sama bekerja di salah satu kementerian. Tapi, karena berbeda pilihan dalam pilkada, hubungan mereka jadi renggang. Yang kurang ajar justru si Asta, bukannya mendamaikan, eh malah ngomporin.

Kalau menyaksikan fanboy politik berantem, saya suka teringat dengan kelakuan para fanboy artis yang geram karena idolanya dinyinyirin. Jika artis juga bisa menjadi seorang politisi, maka sebaliknya para politisi bisa (dipandang) layaknya artis.

Namun, ada dua orang pesohor di dunia hiburan yang menurut saya pantas dijadikan pelajaran dalam menyikapi politik yang cenderung oligarkis di negeri ini. Mereka adalah Raisa Andriana dan Isyana Sarasvati. Ini serius. Maka dari itu, izinkan saya untuk menyampaikan pesan secara terbuka kepada dua penyanyi yang mewakili generasi milenial tersebut.

Jadi begini…

Kak Raisa dan kak Isyana yang baik.

Selama ini, apakah kakak tahu kalau para penggemar suka membanding-bandingkan kakak? Fans kak Raisa tampaknya merasa terusik dengan munculnya kak Isyana. Ya mau gimana, kak Raisa bisa dibilang salah satu penyanyi muda favorit saat ini. Mimpi setiap emak yang ingin punya menantu idaman. Dapet sepeda pula dari pak presiden.

Tapi belakangan, munculnya kak Isyana dianggap sebagai pesaing. Apa betul begitu kak? Rasanya tak ada orang yang suka dibanding-bandingkan. Saya saja merasa risih kerap dibandingkan dengan John Mayer, apalagi kak Raisa dan kak Isyana, pasti sama-sama nggak nyaman.

Membanding-bandingkannya juga kadang aneh. Ketika menjadi salah satu penyanyi dalam acara 30 tahun Kahitna, kak Isyana tak sengaja tersandung kala sedang manggung. Bukannya khawatir dengan idolanya, para fans malah membandingkan insiden tersebut kalau saja yang tersandung adalah kak Raisa.

Uniknya, itu mirip-mirip sama situasi politik yang saya sebut tadi. Kak Raisa dan kak Isyana masing-masing punya pengikut yang kerap terlibat perdebatan, sampai untuk hal-hal yang aneh sekalipun. Sama saja dengan dunia politik kekinian. Orang-orang berdebat tiada habisnya, saling membela junjungannya.

Tapi, ketika para pendukung hobi berantem, kak Raisa dan kak Isyana malah asik bermesraan. Politisi juga kadang begitu. Rakyat di bawah gontok-gontokan, eh elit politik kongkow bareng. Tapi tentu kakak beda banget sama politisi. Nanti saya jelaskan deh, setelah kemesraan yang satu ini…

Nah, soal kemesraan, konser duet kak Raisa dan kak Isyana cukup membuktikan. Konser itu memang sengaja ditujukan untuk para fans, ya? Seolah ingin menyampaikan pesan bahwa kakak berdua baik-baik saja, walau masing-masing fans sering berantem. Harus diakui, untuk pertama kalinya, fans kakak bisa akur. Saya berharap ada kali kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kak Raisa dan kak Isyana mampu mendinginkan suasana masing-masing fans yang selama ini kurang asyik. Kalau begini kan jadinya mendidik, bukan mendidih. Beda dengan politisi yang beberapa malah terus memanaskan lantai dansa politik dengan manuver yang akrobatik.

Walau saya yakin duet itu adalah strategi promosi, tapi toh hasilnya adalah kolaborasi yang menyenangkan, mendinginkan suasana, dan memecah kebuntuan. Ini yang seharusnya disadari oleh banyak orang agar bisa menjalani demokrasi dengan cara yang menyenangkan. Tak sekadar basa-basi, apalagi hanya jadi komoditi.

Oh ya kak Raisa, katanya kakak yang pertama kali mengirim pesan singkat kepada kak Isyana, ya? Pecah banget pesannya. Kak Isyana sampai kaget begitu. “Hai Isyana, ini Raisa”. Lalu kak Isyana membalas, “Raisa Andriana?”

Mungkin kak Isyana nggak nyangka yang senior – ya meski gak senior-senior amat sih – legowo merangkul lebih dulu. Sesuatu yang langka di negeri ini, ketika senior malah menggebuki juniornya saat orientasi di sekolah.

“Tenang saja, jangan takut untuk berkarya, jangan dengerin omongan orang, jadi sendiri.” Warbiyasa kak Raisa… Saya lagi-lagi terbayang situasi di Tanah Air, ketika orang-orang mengimpor ideologi dari luar, kemudian secara terstruktur, sistematis, dan masif berupaya menerapkannya. Tidak mau jadi diri sendiri, malah bangga dengan paham dari luar, yang pastinya tak akan cocok di negeri yang sangat majemuk ini.

Penerapan apalagi pemaksaan ideologi, meski itu dari Planet Namek sekalipun, hanya akan mendidihkan situasi. Perdebatan tiada habisnya, bahkan rawan konflik. Seperti teman-teman saya tadi yang hubungannya renggang gara-gara beda pilihan dalam pilkada.

Nah, supaya suasananya bisa kembali cair, tak ada salahnya saya hadirkan lirik-lirik apik nan megah dari single terbaru hasil kolaborasi kak Raisa dan kak Isyana. Judulnya ‘Anganku Anganmu’.

Tiada berbeda apa yang ku rasakan, tajam menusuk tak beralasan, kita sudah dingin hati.

Dulu kita pernah saling memahami, sekian merasa telah menyakiti, kita telah lupa rasa.

Setiap katamu cerminan hatimu, jadikan berarti, jangan sia-siakan waktumu tuk membenci.

Satu jadikan tujuan kita, hilangkan segala perdebatan yang sia-sia, berlari ke arah yang sama bukan masalah, semua punya ruang lukis yang kau mau, karena ceritamu milikmu.

Kutahu celamu tak sengaja berjiwa, amarah dan benci beri kesempatan, kita telah lupa rasa.

Kelar kan?!

  • Ery Trinanto

    lebih cantik Raisa….ha ha