Rahasia & Kisah Bebek ‘Kuntilanak’, Gulai yang Diburu Petinggi dan Muda-mudi

Rahasia & Kisah Bebek ‘Kuntilanak’, Gulai yang Diburu Petinggi dan Muda-mudi

Gulai bebek 'kuntilanak'

Hujan turun rintik-rintik ketika saya dan dua orang teman menyusuri jalan setapak dengan semak di kiri dan kanannya. Tidak ada lampu jalan. Hanya seberkas cahaya lampu dari rumah penduduk sekitar yang menerangi.

Sepintas jalan setapak ini nyaris seperti jalan pekuburan, tempat di mana kuntilanak banyak bersarang. Situasi yang membuat bulu kuduk mau tidak mau naik berdiri.

Kami tiba ketika Pak Nasir baru saja selesai menjamu langganannya. Sebelum berangkat, teman saya yang sudah cukup pengalaman berhadapan dengan Pak Nasir, memilih terlebih dahulu meneleponnya. Perlu antisipasi, kata teman saya, biar nanti sampai ke rumah Pak Nasir bukan kekecewaan yang kami dapati.

“Untuk tiga orang ya pak,” kata teman saya sumringah di balik telepon genggamnya.

Sedikit butuh perjuangan agar sampai ke rumah pria yang bernama lengkap Muhammad Nasir tersebut. Dari jalan Pasar Lampeuneurut, rumah Pak Nasir yang terletak di kampung Turam, Kecamatan Pekan Biluy, Aceh Besar ini, bisa ditempuh. Menghabiskan waktu sekitar 25 menit dari kota Banda Aceh.

Setiba di halaman rumahnya, tujuh mobil Land Rover Defender yang sering dipakai menjajal rimba, tampak berjejer rapi. Mesin sebagian mobil yang terparkir itu sudah menyala. Beberapa orang bapak-bapak tampak saling bersalaman sebelum naik ke mobil masing-masing.

“Mainannya orang-orang berduit ini,” gumam saya.

Di Aceh, bisa dihitung dengan jari orang-orang yang punya mobil offroad. Apalagi mobil keluaran pabrikan Amerika tersebut.

“Baru turun dari Pentagon. Lapar, makan ke mari mereka,” kata Pak Nasir, yang melihat kami masih tertegun menatap mobil. Ah… Dasar orang udik, pandangan kami pun sedikit tercuri oleh mobil itu.

Di badan mobil tertempel stiker IOX, yang belakangan baru saya tahu itu singkatan dari Indonesia Offroad Xpedition. Bapak-bapak di balik kemudi mobil itu adalah tamu yang baru saja menyantap sajian pamungkas milik Pak Nasir.

Sembari melambaikan tangan pada tamunya yang berlalu pergi itu, Pak Nasir mempersilakan kami masuk. Rumahnya cuma berukuran 8×6 meter, beratapkan rumbiah, dan berdinding papan.

Di situlah, setiap malam, mulai pukul 19.00 hingga 03.00 (kadang juga sampai subuh), ia menerima para tamu yang ingin menyantap Sie Itek (gulai bebek) rintisannya sejak 22 tahun lalu. Untuk duduk pelanggan hanya disediakan alas tikar.

“Dua malam lalu ada petinggi militer dari Jakarta yang makan di sini,” goda Pak Nasir mengajak bercerita, seraya meletakkan tiga piring gulai bebek lengkap dengan nasi di hadapan kami.

Ia memang tidak pelit bicara. Bahkan kalau ada pembeli yang iseng bertanya resep apa yang digunakan hingga membuat gulai bebeknya terasa senikmat ini, dengan muka polos ia akan bercerita dari A sampai Z kepada si penanya. Satu pun tidak ia simpan-simpan. “Edan benar orang ini,” kata saya dalam hati.

Dua malam sebelum saya datang, Pak Nasir disambangi petinggi militer dari Jakarta. Saya yakin itu bukan omong kosong belaka. Tamu-tamunya memang bukan orang sembarangan.

Beberapa kali ketika menyantap gulai bebek Pak Nasir, saya pernah berpapasan dengan orang-orang penting dari pemerintahan ataupun militer. Tapi banyak juga muda-mudi berkantong cekak seperti kami bertiga ini.

Setiap hari demi melayani pelanggannya, Pak Nasir biasa menggulai tujuh sampai delapan ekor bebek. Beragam bumbu khas Aceh masuk ke dalam gulainya. Salah satunya Asam Sunti.

Itu belimbing wuluh yang banyak tumbuh di pinggir-pinggir pagar rumah orang Aceh. Sebelum jadi Asam Sunti, belimbing wuluh yang masih hijau atau sudah kekuningan direndam dalam air yang sudah diberi garam.

Setelah melisut, lalu dijemur di terik matahari selama beberapa hari. Kalau warnanya sudah kecoklatan, barulah ia disebut Asam Sunti, rempah yang wajib ada bagi kebanyakan masakan khas Aceh.

Soal menggulai bebek, bagi saya, Pak Nasir adalah sufi-nya. Ia tidak mau main-main soal rasa. Haram baginya menambahkan penyedap pada gulai bebek yang ia masak. Bahkan untuk mengempukkan gulai, ia rela berjibaku selama dua jam lebih memastikan kayu terbakar sempurna di tungku.

Gulai bebek buatannya pun tidak gampang basi. Bisa tahan sampai dua hari. Itu tidak lain karena Pak Nasir tidak menggunakan santan di gulai bebeknya, beda dengan gulai-gulai bebek khas Aceh lainnya. Namun, untuk menghadirkan sensasi rasa kelapa, kuncinya ia membubuhkan kelapa yang telah digongseng halus.

Pak Nasir bukan jenis pengusaha kuliner yang mengejar untung sebanyak-banyaknya. Seporsi gulai bebeknya cuma dipatok harga Rp 12 ribu. Kalau pembeli ingin nambah nasi atau kuah gulai, ia gratiskan dengan ikhlas. Berbeda kalau minta nambah daging gulai, pembeli harus bayar lebih. Tapi terserah mau bayar berapa, ia tidak mematok.

Nasib manusia memang sangat menarik. Tak selalu hitam atau putih. Kaya atau miskin. Pejabat atau pengangguran. Petinggi militer atau petani. Bagaimana pun di hadapan nasib, itu semua bisa luruh. Gulai bebek pak Nasir ini contohnya. Semua dikotomi yang saya sebutkan tadi tidak berlaku di sini.

Pak Nasir dan keluarga
Pak Nasir dan keluarga

Sekalipun rumah tempat Pak Nasir berjualan dan tinggal itu tampak reyot, lantai tidak berkeramik, atapnya cuma dilapisi daun rumbiah, dinding cuma ditambal papan, toh berkat masakan yang ia sajikan membuat semua orang, apapun jenis status sosialnya, dibuat bertekuk lutut oleh sepiring gulai bebek Pak Nasir.

Tapi Pak Nasir tidak jumawa dengan nasib baik yang ia genggam. Setiap orang dia layani dengan sama. Tidak ada beda. Katanya, “Siapapun pembelinya, dia tetap adalah raja.” Sebuah prinsip yang sudah diikrarkannya sejak dulu.

Begitu juga saat Aceh masih dilanda konflik. Pak Nasir cerita, di ujung kampungnya ada bukit-bukit kecil yang oleh orang GAM dulu dijadikan markas. Mungkin biar terlihat keren, markas itu pun diberi nama layaknya pusat pertahanan Amerika, Pentagon.

Kabar tidak sedap itu sampai ke telinga militer Indonesia. Jadilah para tentara turun menyisir seluruh kampung. Saat beberapa kali operasi digelar, banyak tentara yang lapar dan memilih mampir mengisi perut ke rumah Pak Nasir. Kadang dari pihak GAM juga demikian. Kalau sudah lapar mereka turun gunung untuk makan gulai bebek sajiannya.

“Saya layani keduanya. Kalau TNI sudah turun, baru nanti naik orang GAM. Kadang ada juga mereka duduk makan bersama. Tidak ribut-ribut. Tidak sampai tahu para komandannya,” kenang Pak Nasir sambil tergelak. Kami ikut tertawa mendengarnya.

Saya bertanya apakah dia tidak takut dengan situasi yang demikian? Jawabannya malah membuat tawa saya kembali berderai. “Dijamin keselamatan oleh dua pihak itu. Jadi untuk apa saya takut? Saya malah takut kalau tidak jualan. Karena nanti dimarahi mereka.” Senyumnya mengembang mengingat peristiwa yang ganjil tersebut.

Dari sikapnya yang melayani tanpa pandang bulu itulah Pak Nasir sering dipanggil ‘ayah’ oleh banyak pembelinya. Selain gulai bebeknya yang memang enak, para pelanggannya dibuat betah oleh sikap ramah tersebut. Keluarganya pun juga demikian. Malam itu istrinya, Zarimah, dan anaknya, Muzakkir, turut duduk bercengkerama bersama kami.

Muzakkir, anak bungsu Pak Nasir yang turut menemani kami makan malam itu, baru beberapa bulan mengikuti jejak abang dan kakaknya untuk berumah tangga. “Dia akan buka warung makan dengan menu utama gulai bebek di kota. Bukanya siang sampai sore,” kata Pak Nasir menjelaskan usaha yang ingin dirintis anaknya.

“Malam tetap jualan di rumah. Di sini saya bisa sekalian sambil berzikir,” lanjutnya. Seketika suaranya terhenti. Memberi jeda untuk melanjutkan kalimat, “Apa yang kita cari lagi umur sudah segini kalau bukan hanya mempersiapkan mati?” ujar Pak Nasir. Nada keteguhan terpancar jelas dalam perkataannya itu.

Beberapa saat ia terdiam. Anak dan istrinya pun sama. Kami bertiga juga tidak ada ubahnya. Malah buruknya, kami terdiam sambil menandaskan sisa-sisa daging bebek yang masih menempel di tulang.

Kadung diserang hening, saya coba mengalihkan pembicaraan. “Ayah, kok gulai ayah ini sering disebut sama orang-orang bebek kuntilanak?” tanya saya, masih terus mengunyah.

Pak Nasir tergelak disosor pertanyaan itu. “Entah siapa yang memulai,” jawabnya terkekeh. “Tapi mungkin ada benarnya juga. Karena saya jualan abis maghrib sampai subuh. Jamnya kuntilanak keluar itu,” sambungnya. Tawanya berderai ketika menjelaskan ikhwal sematan ‘bebek kuntilanak’ pada masakannya itu.

Istrinya pun ikut-ikutan memberi jawaban, “Mungkin karena jalan menuju ke sini yang gelap. Tidak ada lampu. Persis kayak di kuburan,” timpalnya ikut tertawa. Kami semua juga ikut tertawa.

Malam itu ada kenikmatan lain yang saya rasa dari sepiring gulai bebek Pak Nasir. Kenikmatan itu adalah hal yang sering dirindui oleh banyak orang; keluarga.

Cukup lama kami berbicara sambil sesekali diselingi tawa, sebelum terhenti oleh dering suara ponsel Pak Nasir. Ada orang yang menelepon. Dari cara Pak Nasir menjawab, saya langsung tahu bahwa itu adalah telepon dari pelanggan yang ingin datang, namun memastikan dulu apakah gulai masih tersisa atau tidak. Hal yang sama seperti tadi kami lakukan.

Di luar hujan sudah reda. Langit malam kembali ditaburi bintang. Isi di piring gulai bebek kami sudah tandas. Rasa kenyang pun telah bersekutu dengan perut. Sebelum pamit, di ingatan saya terlintas pepatah yang sering dikutip banyak orang: ‘Jangan menilai sesuatu dari tampilannya saja’.

Benar, jangan pernah menilai sesuatu dari luar sebelum tahu isi dalamnya. Gulai bebek ‘kuntilanak’ Pak Nasir ini semakin membuktikan kebenaran pepatah tersebut.

Bolehlah gubuk tempat ia berjualan tampak reyot, tetapi kalau sudah masuk ke dalam dan menyantap sepiring gulai bebeknya, kemewahan seketika muncul menggantikan segalanya.