Purnama Menyapa Sumba Paradise

Purnama Menyapa Sumba Paradise

Perempuan itu mengangkat wadah lilin dengan kuncup api kecil yang menyala. Ia menuang lelehan lilin itu ke kulit tangannya yang eksotis mulus. Sengaja. Ia tetap tersenyum.

“Kamu tahu kawan, saya tidak merasakan apapun. Saya mengendalikan rasa sakit itu dengan ini,” Ia menunjuk kepalanya dengan rambut legam, setengah bergelombang.

Dekat perempuan itu, duduk laki-laki ekspatriat. Berbadan tegap dengan perut sedikit tambun. Sekilas, ia tampak membiarkan janggut tipis didagunya tercukur tidak merata. Selintas, ia menampakan diri sebagai sosok dengan mata lelah, lalu menemukan rumah.

Malam itu, tepat pada akhir Mei 2015. Bulan purnama sedang menyapa. Di antara serakan botol bir dengan isi tinggal setengah, laki-laki itu menenggak wine Tiongkok, yang rasanya mirip perasan tape. Laki-laki ini adalah sahabat sekaligus kekasih perempuan asli Sumba itu. Seorang mantan penembak jarak jauh. Bekas tentara.

“Jangan bertanya tentang Irak. Dan jangan bayangkan snipper seperti di film-film,” kata dia dengan nada enteng, seperti membaca arah pembicaraan kami bertiga. Ya, bertiga, karena ada saya, yang duduk di sofa, persis di tengah mereka.

Perempuan itu menantang kekasihnya untuk bermain-main menuangkan lelehan lilin. Jelas, dia menolak. Bukan cuma soal ego, tapi ada yang lebih subtansial dari sekedar permainan ecek-ecek ini.

“Untuk apa lilin, ini seperti di taman kanak-kanak, kalau mau beri saya batubara, dan saya bisa mengenggam benda panas itu di tangan, tanpa merasakan sedikit pun,” kata dia, mulai serius.

“DD, saya bisa membunuh kamu, kalau saya mau. Caranya dengan menembak langsung ke bagian jantung, atau tepat di bagian kepala, dengan sekali tembakan. Kamu tahu, saya mampu berbuat begitu” kali ini kata-kata perempuan itu yang mulai bemain-main.

“I can do the same thing. Tapi buat apa? Demi siapa?” balas kekasihnya.

Saya tahu, perdebatan semacam ini bisa terjadi setiap hari di antara mereka. Saya menebak, ke arah mana ‘kemesraan’ mereka itu akan berakhir. Tebakan saya benar. Mereka berciuman. Sebentar. Tepat di depan saya, yang setia mendengarkan cerita gelap, soal kegilaan hidup.

jalan2liburan.com
jalan2liburan.com

Percakapan ini terjadi, setelah tiga jam pertama, rombongan tur dari Jakarta menghabiskan waktu dengan tawa dan satu botol Jagermeister.

Seluruh listrik padam di atas jam 10 malam. Bagi warga urban, tanpa listrik, berarti tidak ada smartphone yang bisa diisi dayanya. Demi hemat baterai, berarti tidak ada hal mendesak yang perlu diunggah di Path ataupun instagram.

Satu per satu rombongan itu mulai meninggalkan balkon kabin utama. Yang saya ingat, mereka mulai meninggalkan kabin di tengah pembicaraan soal seks dan agama.

Yosni Suruk, tentu yang meramaikan diskusi itu. Perempuan dengan aura unik. Jiwanya bebas, berani, terkadang sulit juga dipahami. Yosni pernah menikah dua kali.

Sumba Paradise, kabarnya nama resort itu diganti dari semula Peter Magic Paradise. Yosni dan Dr Peter Kersten, mantan suaminya yang asal Jerman, merupakan pendiri resort tersebut. Ketika sudah bercerai, yang saya dengar, seluruh benda, bahkan buku-buku milik Peter tidak bersisa di resort tersebut.

Hampir enam bulan, Sumba Paradise sempat vakum lantaran Yosni yang mengurus perceraiannya. Saya tidak tahu seberapa dalam perpisahan mereka, atau seberapa jauh konflik Yosni dengan Peter. Tapi Yosni sudah menemukan kekasih baru, DD. Sahabat yang ia sudah kenal lama.

Resort ini berada di atas Teluk Tarimbang, Sumba Barat Daya. Jika menggunakan kendaraan roda empat dari Sumba Barat, perjalanannya memakan waktu sekitar empat sampai lima jam. Sumba Paradise kemungkinan satu dari sedikit sekali resort (atau mungkin tidak ada) yang dibangun di Teluk Tarimbang.

Desain Sumba Paradise ramah lingkungan, satu kabin terdiri dari kamar tidur di bagian atas, dan kamar mandi tanpa pintu, alias langsung menghadap alam langsung. Mungkin jadi tempat terbaik untuk buang air besar. Hitungan saya, ada delapan kabin.

Perjalanan menuju teluk ini, satu kata : Juara. Karena gundukan bukit yang saya pikir tadinya tandus, ternyata berwara hijau segar.

arilliapkurniarsih.blogspot.com
arilliapkurniarsih.blogspot.com

Dan, pemandangan resort ini yang menghadap pantai Tarimbang, sekali lagi, menyejukan bukan main. Matahari terbenam akan memberikan gradasi warna oranye yang tegas namun perlahan hilang disapu biru, untuk kemudian menjadi gelap.

Malam itu, saya tidur dekat jendela. Ini adalah spot terbaik memandang purnama dengan lautan bintang.

Saya pikir, ada baiknya juga semua lampu padam malam itu. Sebab, cahaya purnama lebih kentara, lebih bisa dinikmati. Malam itu, Yosni dan DD bilang, kemungkinan mereka terjaga semalaman.

Saya pikir ada benarnya. Kenapa harus tidur dan berharap mimpi indah, kalau ternyata mimpi berbaring di bawah taburan bintang itu sudah terjad dalam realita.

Tapi mata saya mengalah terlelap sebentar. Sampai pagi harinya, setelah matahari terbit, mimpi kembali terjadi. Someone knows what happen in the morning!