Profesor dan Doktor Nyebarin Hoax, lalu Kita Mau Nyebarin Apa Lagi?
CEPIKA-CEPIKI

Profesor dan Doktor Nyebarin Hoax, lalu Kita Mau Nyebarin Apa Lagi?

Ilustrasi (plohoy-zyalt.livejournal.com)

Tidak peduli Anda penganut kepercayaan bumi datar atau pemegang teguh keyakinan bahwa bumi itu bulat, saya kira Anda harus sepakat bahwa dunia selalu berusaha untuk mencapai titik keseimbangan.

Ketika jumlah singa sedikit, kijang-kijang bertambah banyak dan menari dengan riang di savana. Ketika kijang banyak, makanan banyak, populasi singa meningkat. Dan, ketika singa banyak, jumlah kijang menurun – karena dimakanin singa – lalu jumlah singa kembali sedikit. Begitu seterusnya.

Tapi, maaf, ilustrasi itu tidak berlaku untuk para jomblo. Ketika jumlah jomblo sedikit, KUA sepi. Ketika jumlah jomblo melimpah ruah, KUA tetap saja sepi. Entah ada kaitan apa antara jomblo dan KUA. Mereka seperti dua hal yang tidak akan pernah bisa bersatu. Mungkin di antara keduanya memang dibutuhkan rekonsiliasi.

Tapi saya tidak sedang ingin menulis soal jomblo, saya mau membahas soal pilkada (lagi), terutama dampaknya setelah hajatan itu selesai.

Dulu, ketika pilkada baru dimulai, saya pernah menulis bahwa pilkada bisa mencerdaskan bangsa. Pilkada Jakarta, misalnya, mampu melahirkan ahli tafsir kitab suci dan ahli linguistik. Belum lagi ahli-ahli numerologi dan cocoklogi.

Saya bahkan pernah berharap pilkada juga mampu memunculkan para ahli nuklir yang bisa mengirim roket untuk meledakkan Uranus. Sebab, waktu itu, Jakarta tidak sendiri, ada 100 daerah lain yang juga memilih kepala daerahnya.

Tapi mungkin harapan saya terlalu ambisius, terlalu muluk-muluk. Pilkada sudah selesai dan ahli nuklir yang saya tunggu-tunggu tidak pernah muncul. Mungkin saya mengabaikan fakta bahwa dunia selalu berusaha membuat dirinya seimbang.

Orang-orang yang bertambah pintar pasca pilkada memang banyak, minimal kemampuan photoshop-nya meningkat. Kalau dulu cuma bisa mempermak wajah buat dijadikan foto profil yang mulus kinyis-kinyis, sekarang sudah banyak yang bisa mengubah judul dan isi berita media ternama.

Kalau dulu cuma bisa membuat teori konspirasi abal-abal, sekarang sudah bisa menemukan bahwa pesawat televisi di tangkapan gambar chatting Bu Firza dan Pak Rizieq sama persis dengan televisi yang disita polisi.

Tapi yang kecerdasannya menurun ternyata juga tidak sedikit.

Misalnya Eep Saefulloh Fatah yang pernah membantu Pak Jokowi jadi gubernur Jakarta. Dulu, beliau bertarung melawan orang-orang yang menggunakan isu agama dan komunis sebagai senjata, dan menang. Sekarang, masih di pilkada Jakarta, justru beliau yang disebut-sebut memakai isu agama. Eh tapi dibantu sama Pak Ahok juga sih yang keceplosan di Pulau Seribu. Mungkin memang begitulah politik.

Tapi kita mau bilang bahwa beliau sudah tidak pintar lagi, bahwa caranya tidak etis, bisa memecah-belah bangsa, dan lain-lain, kenyataannya beliau memenangi pertempuran di medan laga pilkada. Toh, semua itu bisa diselesaikan dengan satu kata: rekonsiliasi. Jangan cengeng.

Ya sudah, kita tinggalkan saja Pak Eep. Contoh yang lain adalah Boni Hargens. Dulu, beliau pernah mengunggah foto pernikahan ketua MUI yang menuai kontroversi, karena memang tak ada yang salah dengan pernikahan orang. Apalagi di tengah jaman susah akurnya para jomblo dengan KUA tadi.

Seolah belum jera, mungkin karena gemas jagoannya kalah, beliau menggunakan kata autis sebagai olok-olok. Ini juga kontroversial, dan pasti kecerdasan Pak Boni sedang menurun drastis ketika melakukan itu. Mungkin ini yang di masa depan akan disebut orang sebagai ‘efek pilkada’.

Yang lebih luar biasa, Sumanto Al Qurtuby yang bergelar profesor, dan status-status di media sosialnya mencerahkan, sempat menyebarkan hoax soal penyataan Munarman, juru bicara FPI.

Dan, ini belum selesai, Marissa Haque, artis cantik, terkenal, ngetop, mantan anggota DPR, pintar, bahkan bergelar doktor, juga melakukan hal yang sama, menyebarkan hoax. Kali ini soal karangan bunga buat Pak Ahok yang belum dibayar. Mungkin biar seimbang sama Pak Sumanto tadi. Biar 0-0 lagi.

Kalau profesor dan doktor menyebarkan hoax, lalu kita-kita yang ngambil es satu (S1) sampai pilek begini, mau nyebarin apa lagi?

Mungkin inilah penyebab sebenarnya kenapa negara kita gak maju-maju. Bukan karena kita tidak bisa atau dijajah negara lain, tapi karena faktor keseimbangan tadi. Ketika yang tidak pintar berusaha mengejar ketinggalannya, yang pintar-pintar – mungkin karena gak enak hati – justru menurunkan kadar kepintarannya. Jadi imbang, sejajar.

Kita yang tidak atau kurang pintar ini tidak perlu merasa minder lagi. Membagikan hoax terus di-bully? Tidak memeriksa lagi kebenaran atau sumber berita, lalu diketawain? Gak apa-apa… lha, yang profesor dan doktor aja gitu.

Lalu apa penyebab semua itu? Mau tidak mau kita akan menuding pilkada, politik, sebagai biang keladinya.

Pada titik ini, saya jadi ingat lirik lagunya Iwan Fals. Bukan, bukan yang judulnya ‘Sumbang’, yang liriknya: “Apakah selamanya politik itu memang kejam? Apakah selamanya dia datang ‘tuk menghantam?”

Saya malah ingat lagu beliau yang lain, lagu yang sebenarnya sudah dinyanyikan terlebih dulu oleh duet kakak-beradik Franky dan Jane Sahilatua, ‘Kemesraan’, yang liriknya: “Kemesraan ini janganlah cepat berlalu…”

Lagu itu terngiang-ngiang di kepala saya, karena bisa saja lima atau sepuluh tahun lagi kalau kita bertemu lagi, minimal di media sosial, kita sudah gak bisa mesra lagi seperti sekarang. Lima atau sepuluh tahun lagi kita gak bisa berkomentar dengan santai di status orang.

Sebab, bisa saja pada saat itu kita sudah berubah menjadi Pak Eep, Pak Boni, Pak Sumanto, atau Tante Marissa. Seperti yang sudah terjadi pada kita hari-hari belakangan ini: berubah menjadi Jonru atau Denny Siregar.

“Suatu hari… di kala kita duduk di tepi pantai…”