Beberapa Profesi yang Ngehits, meski Berpenghasilan Pas-pasan

Beberapa Profesi yang Ngehits, meski Berpenghasilan Pas-pasan

Ilustrasi (instagram/nadinealexandradewi)

Sudah tahu berpenghasilan pas-pasan, lho kok malah digandrungi banyak orang? Mengapa nggak milih jadi PNS saja sih? Atau selebtwit, selebgram, youtuber, buzzer, eh…

Ya kita semua tahu saat hati sudah berbicara, jangankan uang dan pekerjaan, perbedaan status sosial, umur, warna kulit, bahkan gender pun tak lagi jadi masalah. Bukan begitu my love?

Berikut ini tiga profesi yang ngehits, meski berpenghasilan pas-pasan. Tiga profesi yang dijalani dengan passion dan memiliki pesona yang tak terjelaskan. Sebab, kata orang bijak, bekerja tanpa passion sama saja hidup tanpa kamu jiwa.

Yuk disimak…

1. Barista

Beberapa tahun terakhir, industri perkopian di Indonesia sedang panas-panasnya. Ibarat berbulan madu, dunia kopi sedang raisa-raisanya. Begitu bahagia, harmonis, belum pusing mikirin bagaimana bayar cicilan. Lho, jadi curhat.

Kita bisa saksikan dengan mata telanjang tanpa diblur maraknya kedai-kedai kopi di ruas jalan protokoler, pinggiran kota, hingga jalan desa yang rusak parah meski dana alokasi umum (DAU) besar.

Kedai kopi telah tersebar ke mana-mana seperti jamur, yang semakin digaruk semakin gatal. Mulai dari kedai kopi asing, aseng, lokal, besar, terkenal, sedikit terkenal, sampai gurem.

Seiring dengan itu, pekerjaan sebagai peracik kopi ala barista pun ikut-ikutan jadi ngehits. Barista menjelma menjadi pekerjaan impian bagi sebagian anak muda. Mereka seolah melupakan cita-cita jadi PNS, tak peduli seberapa penting pekerjaan itu bagi calon mertua.

Aroma kopi menjadi parfum mereka setiap hari. Mereka menikmati berada di belakang deretan mesin kopi dengan harga selangit, meski bertolak belakang dengan penghasilannya yang pas-pasan.

Bukan apa-apa, tentu saja ada barista profesional yang bergaji delapan digit. Namun, menurut survei Indeed, salah satu website pencari kerja, rata-rata gaji barista pemula di Indonesia hanya Rp 2,15 juta per bulan!

Angka ini tentunya di bawah upah minimum yang ditawarkan kota-kota besar, sebut saja Bandung yang memiliki UMK sebesar Rp 2,8 juta pada 2017. Apalagi dibanding Jakarta, dengan UMP 2017 yang sebesar Rp 3,35 juta.

Lalu apa yang menarik dari seorang barista?

Kata sebagian dari mereka sih, pengalaman. Dan, siapa tahu, bisa ketemu jodoh di kedai kopi. Betul, pengakuan itu senyata cerita yang baru-baru ini kembali disadur menjadi film layar lebar, Filosofi Kopi.

Jadi, apakah kamu tertarik menjadi barista? Ya tentu tidak mudah, lha kamu saja masih suka ngopi sasetan…

2. Penulis

Buku Filosofi Kopi yang ditulis oleh Dewi Lestari memang menjadi salah satu medali emas yang diidam-idamkan semua penulis. Itu sekaligus menjadi semacam penanda, betapa luar biasanya kehebatan penulis dengan kata-katanya.

Teteh Dee menjadi salah satu panutan yang menggambarkan tentang penulis sukses. Menjadi mimpi dan penyemangat para penulis-penulis lain, yang sedang meniti karir dari antara tumpukan tagihan dan hidup yang begini-begini saja.

Iya, mimpi semua penulis tentunya menorehkan nama mereka di sampul sebuah buku yang kemudian terjual habis di pasaran. Terkenal, meski banyak yang hidup pas-pasan. Tersohor, meski entah bagaimana bayar kontrakan dan cicilan ini-itu.

Loh..? Sudah punya buku karangan sendiri masih tetap kere juga? Ya iya… Penulis yang punya buku puluhan dengan pembaca fanatik saja masih semaput dan kalang kabut menghadapi pajak.

Sebagai ilustrasi, jika sebuah buku seharga Rp 50 ribu terjual, penulis akan memperoleh Rp 5.000-6.500. Betul, royalti untuk penulis itu hanya 10-15% dari harga buku. Lalu, penghasilan sebesar 10-15% yang tak seberapa dari royalti itu masuk ke dalam penghasilan kena pajak alias dipajaki.

Masalah ini dihadapi oleh para penulis kelas kakap yang penghasilan per tahun melebihi pendatapan tidak kena pajak tahuhan yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 54 juta. Buat bayangan, itu setara dengan menjual buku sebanyak 10.800 eksemplar.

Belakangan, penulis Tere Liye yang senewen hingga menarik semua bukunya dari toko dan memilih menjualnya di halaman media sosial. Teteh Dee juga ikut mengeluhkan persoalan yang sama. Ini tentu pukulan telak untuk para pembuat kebijakan, di tengah rendahnya minat baca di negeri ini.

Lalu, bagaimana nasib penulis yang lain? Kalau lagi menulis terus sadar nggak punya uang, ingat saja kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer ini, “Menulis itu bekerja untuk keabadian!”

3. Jurnalis

Profesi memang nggak ada matinya. Meski banyak media cetak yang tutup karena beralih ke media daring, tetap saja digandrungi oleh banyak orang, terutama anak muda. Padahal, ya itu tadi, penghasilannya juga pas-pasan.

Menurut survei yang dilakukan AJI pada 2016, gaji wartawan pemula baik media cetak maupun online di Jakarta berkisar Rp 3 juta per bulan.

Bahkan, papih Prabowo yang belum pernah menjadi presiden – kelihatan dari mukanya – sempat nyeletuk, “Kita belain para wartawan. Gaji kalian juga kecil, kan? Kelihatan dari muka kalian. Muka kalian kelihatan enggak belanja di mal. Betul ya? Jujur, jujur…”

Omongan papih Prabs memang benar adanya. Banyak wartawan pemula di Jakarta yang gajinya masih di bawah UMP 2017 yang sebesar Rp 3,35 juta.

Ini tentu tak sebanding dengan padatnya jadwal liputan yang sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia. Belum lagi dikejar deadline yang begitu ketat, seketat pengeluaran belanja bulanan.

Tapi… tapi… Kok tetap ngehits? Bahkan sekarang banyak aktivitas turunannya, misalnya apa yang disebut dengan jurnalisme warga.

Kapan kamu terakhir kali ke acara publik? Acaranya nggak perlu seheboh karnaval atau pembukaan event yang sampai didatangi personel SNSD, cukup acara super lumrah seperti kondangan teman, arisan, atau reunian saja.

Coba deh hitung, berapa orang yang sibuk motret? Berapa banyak yang bikin video waktu weddingkiss? Duh, baper. Lalu, hasil jepretan dan video itu diunggah ke media sosial dan menuai ribuan like dan love dari netizen Indonesia yang terkenal haus tayangan dan tahan banting.

Mereka ini bisa jadi adalah calon-calon jurnalis harapan bangsa nantinya. Yah, meski sekarang bikin videonya hanya untuk eksis-eksisan di grup wasap dan fotonya buat foto profil.

Jadi, kamu tertarik menjadi jurnalis? Seperti yang dikatakan papih Prabs tadi, gajinya kecil. Kamu mau mukamu terlihat seperti orang yang nggak pernah belanja di mal?

  • Marilyn Jhoni Akbar Zoldick

    Barista keren tuch..ada yang mau ngajarin ya..hehe

  • Vian Kamaruddin

    gaji segitu udah banyak di surakarta gan

  • Luthfi Anshori

    Nomor tiga bikin bangga