Prediksi Pilihan Karir jika Mereka Gagal Jadi Gubernur Jakarta

Prediksi Pilihan Karir jika Mereka Gagal Jadi Gubernur Jakarta

tempo.co

Mari kita sepakati saja bahwa pilkada DKI Jakarta yang bakal berlangsung pada 15 Februari merupakan pilkada paling geger dalam sejarah. Penyebabnya ada dua. Pertama, ia mampu mengubah beranda Facebook siapapun menjadi serupa medan perang. Kedua, ia membuat perayaan Valentine tahun ini sesepi kuburan.

Maka, 15 Februari menjadi tanggal yang paling dinanti. Mereka yang bermukim di Jakarta tak sabar menunggu hasil akhir pemilihan yang akan menentukan nasib daerah mereka dalam lima tahun ke depan. Sementara mereka yang tinggal di daerah lain harap-harap cemas mengenai kegemparan apa lagi yang bakal disuguhkan oleh ibu kota.

Itulah masalahnya. Pilkada DKI Jakarta bukan lagi sekadar pemilihan kepala daerah, melainkan berubah menjadi tontonan yang luar biasa. Proses kampanyenya diikuti oleh orang-orang yang bahkan belum pernah ke Jakarta, dan siaran langsung debat antar pasangan calon bikin penggemar Anak Jalanan tak sadar bahwa sinetron kebanggaannya itu telah katam.

Namun, bukan efek kepopulerannya yang membuat saya cemas, melainkan nasib cagub DKI Jakarta setelah pilkada kelak. Seperti yang Anda tahu, pilkada bukanlah lomba cerdas-cermat atau adu jangkrik yang memungkinkan juara kedua dan ketiga untuk dikalungi medali. Hanya ada satu pemenang dalam pilkada, dan tak ada tepuk tangan untuk mereka yang kalah.

Karena itulah, pagi tadi saya berunding dengan anggota majelis warung kopi yang budiman untuk merumuskan profesi apa saja yang mungkin bisa digeluti oleh cagub DKI Jakarta yang tersisih nanti. Kami tidak mengikutsertakan cawagub dalam diskusi yang menyenangkan itu, karena, yah, orang kedua memang tak begitu menarik diperbincangkan.

Itu bisa menjadi tugas Anda di waktu senggang. Namun, sebelum Anda menerka-nerka profesi apa yang tepat untuk Sylvi, Djarot, dan Sandiaga Uno, alangkah eloknya bila Anda membaca dulu tulisan tentang tandem mereka di bawah ini.

Agus Harimurti Yudhoyono

Asalkan tinggal di Indonesia selama ayahnya menjabat sebagai presiden, seseorang yang tak mengikuti berita apapun mengenai pilkada DKI Jakarta akan langsung tahu bahwa ia punya hubungan darah dengan Sang Mantan. Dan, itu memang benar.

Terlahir sebagai putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono, pada awalnya sosok Agus tak banyak diketahui masyarakat, kecuali bahwa ia seorang tentara yang beristri seorang artis. Kepopulerannya kalah telak dibandingkan Edi Baskoro Yudhoyono, adiknya, membuat orang kadang lupa bahwa SBY memiliki dua putra.

Maka, ketika namanya santer disebut sebagai calon gubernur DKI Jakarta, orang-orang meremehkannya. Bagaimanapun, ia masih bayi merah di dunia politik, dan orang-orang menyayangkan keputusannya yang keluar dari dunia militer hanya untuk berjibaku di medan perang yang asing baginya.

Namun, waktulah yang membuktikan bahwa Agus tak sekacangan itu. Didukung oleh mesin yang sukses mengantarkan ayahnya menjadi kampiun selama dua periode, Agus menjelma dari anak bawang menjadi kuda hitam. Elektabilitasnya tinggi, tak peduli ia memiliki hobi loncat dari panggung atau gemar membuat lawan bicara bingung.

Dan itulah bekal terbesar untuk karir gemilangnya nanti bila kalah di pilkada: menjadi vokalis band death metal.

Aliran musik ini tak menuntut suara merdu atau paras rupawan. Sebaliknya, suara serak dan tampang garang menjadi modal utama. Aliran death metal juga tak meminta vokalisnya untuk memiliki kecakapan yang luar biasa dalam pelafalan lirik. Tak ada bedanya seseorang menyanyi dengan bahasa Indonesia atau Urdu atau Mesir Kuno, toh semuanya terdengar seperti gerundelan belaka.

Maka, kemampuan berkomunikasi Agus yang buruk semestinya tak bakal menjadi ganjalan. Ia bisa menghemat waktu yang seharusnya ia gunakan untuk ikut kursus bahasa bila menekuni bakatnya ini, dan alangkah baiknya bila ia mau menggondrongkan rambut dan belajar memakai eye liner.

Hanya itukah alasan saya menganjurkannya menjadi penyanyi? Tidak. Fakta bahwa Agus berasal dari keluarga yang berdarah seni menjadi pertimbangan utama.

Ayahnya seorang musikus luar biasa yang mampu menelurkan beberapa album bahkan ketika ia menjabat sebagai presiden – tidak ada kepala negara manapun yang bisa menyamai pencapaian itu hingga hari ini. Istrinya sendiri dulunya juga seorang artis, dan ibunya memiliki bakat terpendam menjadi fotografer.

Jadi, andai Agus menolak berambut gondrong dan melupakan peluangnya untuk menjadi vokalis death metal, ia bisa memilih karir lain di bidang seni asalkan tak berhubungan dengan kata-kata.

Basuki Tjahaja Purnama

Bila ada warga negara Indonesia yang tak tahu siapa itu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, maka kemungkinannya cuma ada tiga. Pertama, ia bermukim jauh, jauh sekali dari peradaban. Kedua, ia adalah seseorang yang sering berteriak panik pada pagi dan siang hari, bercakap-cakap dengan bintang dan lampu jalanan pada malam hari. Ketiga, ia sudah tak bermukim di Indonesia, bahkan di daerah manapun yang tercantum di peta.

Ahok, mau tidak mau kita mengakui, adalah gubernur Jakarta terpopuler sepanjang masa. Ia adalah gubernur Jakarta pertama beretnis Tionghoa, gubernur Jakarta pertama yang beragama Kristen, juga gubernur Jakarta yang paling sering mendapat ancaman pembunuhan. Cukup mengherankan hingga hari ini MURI tak mencantumkan namanya di buku rekor.

Di luar segala pencapaiannya sebagai gubernur dan elektabilitasnya yang juga tinggi, saya mengkhawatirkan keselamatan dirinya, bila ia benar-benar terpilih kembali nanti. Penolakan masyarakat atas dirinya sebesar dukungan orang-orang kepadanya. Andai ia menang, bukan tak mungkin ia mendapat rekor baru sebagai gubernur yang paling sering didemo.

Oleh sebab itu, saya benar-benar menyarankan kepadanya agar mempertimbangkan karir lain, jika tak jadi gubernur lagi. Menjadi pedagang seperti seumumnya orang Tionghoa, misalnya, atau berternak lele dumbo dan ayam horen sekaligus praktisi bonsai, atau apa pun asal tak menjadi politisi.

Tapi, bila panggilan hatinya memang di dunia politik, sebaiknya ia terus menguatkan hati bahwa menjadi minoritas di Indonesia tak pernah mudah.

Anies Baswedan

Mantan rektor, mantan menteri, dan bisa saja menjadi mantan calon gubernur. Beberapa survei menempatkannya di posisi buncit, sementara beberapa yang lain mengganjarnya dengan posisi runner up. Kalau mau dibaca secara lebih mendalam, hasil berbagai survei itu mengatakan bahwa peluangnya untuk menang terbilang berat.

Meskipun begitu, setelah melihat sepak terjangnya selama ini, saya yakin bahwa Anies memiliki bakat politik. Anda barangkali juga menyadari bahwa politisi yang sukses selama ini adalah politisi yang mengutamakan kepentingannya, bukannya hal lain seperti ideologi atau idealisme, apalagi kebenaran.

Di situlah bakat Anies terendus. Ia mau diusung oleh Partai Gerindra sembari melupakan perseteruannya dengan Prabowo pada masa pilpres lalu. Ia juga merapat ke kubu manapun yang bersitegang dengan lawan politiknya. Dan, ia mau melakukan apa pun yang ia pikir bisa meningkatkan elektabilitasnya. Suap-suapan dengan Raffi Ahmad, contohnya.

Maka, tak susah menyarankan karir apa yang sebaiknya Anies tempuh andai ia kalah di pilkada nanti. Ia tak perlu berpindah haluan, karena ia memang berbakat di sana. Tak akan ada tujuh juta orang yang mendemo dirinya.

Tapi, bila ia kapok berpolitik oleh sebab entah apa, ia bisa merintis karir di bidang apa pun termasuk kembali ke dunia pendidikan. Bagaimanapun, mutu pendidikan kita sudah sedemikian remuk dengan sistem dan kebijakan yang merundungnya, sehingga menambah satu sumber keruwetan yang hampir tak ada bedanya.

Itulah pilihan-pilihan karir bagi ketiga cagub DKI Jakarta, jika kalah dalam pilkada. Bagaimanapun juga seperti yang sudah menjadi komitmen bersama, para kandidat harus siap menang dan siap kalah. Jadi lemesin aja…

  • Yura Andrea

    Ralat yaaa.. Henk Ngatung merupakan Gubernur Jakarta ke-7 pada periode 1964-1965 asal Manado yg beragama Kristen heheh