Perjalanan ke Dodola, Potongan Surga dalam Sejarah Perang Pasifik

Perjalanan ke Dodola, Potongan Surga dalam Sejarah Perang Pasifik

coveragemagz.com

Siapa yang belum kenal dengan Morotai? Kabupaten Pulau Morotai atau Pulau Morotai merupakan salah satu kabupaten yang masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Maluku Utara. Kabupaten Pulau Morotai adalah kabupaten baru yang diresmikan oleh Kementerian Dalam Negeri sejak 2008.

Pulau Morotai dengan wilayah darat dan laut seluas 4.301,53 kilometer persegi ini memiliki potensi wisata yang mumpuni. Pulau yang juga dikenal sebagai “Mutiara di Bibir Pasifik” ini pun masuk dalam daftar 10 destinasi unggulan pariwisata nasional, dengan ± 80 lokasi obyek wisata bahari  dan wisata sejarah.

Membicarakan Pulau Morotai tak lengkap rasanya, jika tak mengenal salah satu pulau satelit yang ada di sekelilingnya. Ada sebuah idiom yang berkembang di antara para pelancong yang berbunyi, “Jangan bilang pernah ke Morotai, jika belum menginjakkan kaki di surga yang satu itu.” Saat berkesempatan mengunjungi Pulau Morotai, saya pun tertarik untuk membuktikan ungkapan tersebut.

Siang itu, dengan menyewa kapal motor milik seorang nelayan, saya ditemani beberapa orang kawan bertolak mengarungi laut sejauh 5 mil dari Daruba, ibukota Kabupaten Pulau Morotai. Kapal motor yang kami tumpangi bergerak menuju barat Pulau Morotai. Tak lama setelahnya, hamparan pulau-pulau kecil seperti muncul dari dalam lautan, bak mutiara yang keluar dari cangkangnya.

Baru setelah sekitar 30 menit kemudian, salah satu mutiara terbaik atau sepotong surga dari Morotai yang banyak dibicarakan itu muncul di hadapan kami. Adalah Pulau Dodola, sepotong surga dunia di ujung Maluku Utara.

pulaumorotaikab.go.id
pulaumorotaikab.go.id

Hamparan pasir putih yang lembut menyambut kedatangan kami. Semilir angin yang masuk melewati celah-celah cemara laut menggoda setiap pengunjung untuk segera bersantai. Desir irama ombak pun semakin menambah harmoni keindahan pantai Dodola. Suasana alam yang mewah, cocok sebagai pelepas penat dari hiruk-pikuk kehidupan di kota.

Pulau Dodola memiliki karakter yang unik. Pulau ini sendiri sebenarnya terdiri atas dua pulau kecil, Dodola Besar seluas 948.283 meter persegi dan Dodola Kecil dengan luas 121.653 meter persegi. Bagai sepasang kekasih yang tengah menjalani Long Distance Relationship (LDR), dua pulau ini dipisahkan oleh laut dengan jarak sekitar 500 meter.

Yang menarik, jika air laut sedang surut pada siang hingga sore hari, kedua pulau ini akan dihubungkan oleh sebuah jembatan pasir putih yang bisa dilalui pengunjung. Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit dengan berjalan kaki dari Dodola Besar untuk menuju Dodola Kecil. Pola guratan pasir hasil bentukan ombak pun semakin menambah nilai keindahan jembatan alami tersebut.

Selain sebagai tempat untuk sekedar berjemur bermandikan cahaya matahari, Pulau Dodola juga cocok untuk dijadikan lokasi snorkeling dan diving. Gradasi warna pasir putih yang menyatu dengan birunya laut selalu berhasil menggoda hati para pengunjungnya untuk segera menceburkan diri ke dalam air.

Jembatan pasir menuju Dodola kecil (Dokpri)

Dodola juga terkenal dengan potensi panorama di dalam lautnya yang menawan. Tercatat, sedikitnya ada 13 titik diving dan snorkeling yang bisa dijelajahi oleh para pecinta olahraga bawah laut. Di sana, para divers akan bertemu dengan banyaknya bangkai kapal, mobil jeep, pesawat tempur, sisa-sisa peninggalan pasukan sekutu yang karam saat Perang Dunia II di atas lautan Pasifik. Sedikitnya ada lima lokasi, yakni Wawama, Totodaku, Mira, Buhobuho, dan laut di antara Dodola dengan Kelerai.

Jaraknya yang cukup jauh dari pemukiman penduduk, membuat Dodola menjadi seperti surga yang tersembunyi. Para nelayan sekitar biasanya memanfaatkan Pulau Dodola sebagai tempat beristirahat sejenak  di sela-sela aktivitas melaut.

Untuk para pengunjung yang ingin bermalam, Dinas Pariwisata setempat kini telah menyediakan pondok-pondok yang bisa disewa seharga Rp 400-600 ribu per malam. Pondok bagi para pengunjung itu dibangun di Dodola Besar, sedangkan di Dodola Kecil sendiri belum ada sentuhan manusia.

Banyak penduduk lokal atau wisatawan asing yang memilih menghabiskan waktu akhir pekannya di Pulau Dodola. Untuk urusan transportasi, selain bisa menyewa perahu nelayan, pengunjung juga bisa menyewa speedboat dari Pelabuhan Daruba, dengan harga Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, relatif bisa ditawar.

Senja datang di Pulau Dodola, meski tersedia pondok bagi para pengunjung, saya dan kawan-kawan memilih untuk mendirikan tenda di bibir pantainya. “Biar lebih terasa menyatu dengan alam,” ujar seorang kawan.

Hari itu, Dodola masih sepi dari pengunjung, hanya ada kelompok kami dan beberapa petugas yang menjaga pulau. Jika Anda juga berminat untuk bermalam dan mendirikan tenda di Pulau Dodola, ada sebuah kantin yang dibuka untuk memenuhi kebutuhan makanan, namun hanya menjual makanan ringan saja. Saya sarankan untuk menyiapkan logistik yang cukup saat berada di Daruba, ibukota Pulau Morotai.

Keindahan Pulau Dodola hadir sepanjang hari, jangan lupa untuk berhemat baterai ponsel dan kamera Anda. Sebab di surga kecil ini, listrik hanya hadir di waktu-waktu tertentu. Ironi, memang.

Sisa Perang Pasifik (morotaiparadise.com)
Sisa Perang Pasifik (morotaiparadise.com)

Dodola dalam Sejarah

Pada 15 September 1944, pasukan sekutu di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur mendarat di Pulau Morotai. Letaknya yang strategis di bibir Laut Pasifik menjadikan Morotai sebagai pusat konsolidasi pasukan Divisi VII Angkatan Perang Amerika Serikat. Jenderal MacArthur dipercaya mengurus pendudukan Jepang di sana sejak 1945 hingga 1955. Salah satu misi besarnya adalah menaklukkan Jepang melalui Filipina serta Hindia Belanda.

Semasa itu pula, Jenderal MacArthur sempat memilih Pulau Zum Zum, salah satu pulau satelit Morotai – yang juga tak kalah indahnya – untuk dijadikan basis pertahanan pasukan sekutu di pasifik. Kelak, pada masa sekarang, di pulau itu telah dibangun Monumen Jenderal MacArthur, sebagai upaya untuk mengenang keberadaan dan peran si jenderal besar sebagai pimpinan militer.

Sebagai lokasi yang terlibat dalam perang Pasifik, Morotai penuh dengan ‘sampah’ sisa perang. Warga sekitar bahkan sering menemukan peluru, botol, kendaraan amfibi, hingga pesawat terbang, baik di darat maupun di laut. Penemuan-penemuan sisa perang ini sebagian dikumpulkan dan masuk dalam Museum Perang Dunia II Morotai.

Jenderal MacArthur (ww2db.com)
Jenderal MacArthur (ww2db.com)

Semasa Indonesia baru merdeka, Pulau Morotai pun tak kehilangan perannya. Pulau ini juga menjadi salah satu basis Angkatan Darat dalam peristiwa Trikora, merebut kembali Irian Jaya.

Lantas, bagaimana hubungannya dengan Pulau Dodola?

Nah, ketika memimpin tentara sekutu di Morotai, Jenderal MacArthur hanya punya satu tempat yang sering dikunjungi, yaitu Pulau Dodola. Pulau ini dijadikan oleh sang jenderal dan pasukan sekutu sebagai tempat berlibur dan berekreasi, bila mendapatkan cuti semasa perang.

Menurut cerita warga, sang jenderal sering berjalan di jembatan pasir yang ada di antara dua Pulau Dodola. Sementara para serdadu lainnya menghabiskan waktu dengan berjemur di pasir putih pantai Dodola yang halus nan lembut.

Berangkat dari kisah-kisah sejarah yang menyelimuti Morotai dan Dodola, hal itu seperti membuktikan bahwa sekeras apapun perjuangan hidup – entah ketika perang atau bekerja di kota besar – manusia adalah selemah-lemahnya makhluk yang tetap membutuhkan liburan.

Sudahkah Anda berlibur?