Berharap Poseidon Menyelamatkan Jakarta dari Serbuan Banjir

Berharap Poseidon Menyelamatkan Jakarta dari Serbuan Banjir

Ilustrasi (intographics/pixabay.com)

Jakarta banjir. Sejatinya itu sudah menjadi ritual tiap tahun. Tak ada yang spesial. Tak ada yang perlu diributkan. Namun, masalahnya menjadi spesial karena banjir dikaitkan dengan politik di Jakarta.

Anies-Sandi dihujani hujatan bahwa mereka tak becus menangani banjir, meski pasangan itu baru dua bulan menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Mereka dianggap tak mampu bergerak cepat dan sigap seperti pendahulunya. Siapa lagi kalau bukan Ahok?

Anies-Sandi selalu dibanding-bandingkan dengan gaya Ahok. Mungkin karena jengah, mereka pun memberikan respon bahwa sejatinya Anies-Sandi juga telah mengurangi dampak banjir.

Tapi banjir adalah banjir. Mau diributkan apapun, dia tetap akan berupaya menenggelamkan Jakarta. Tidak hanya menjadi genangan, melainkan juga berakhir dalam kenangan.

Respon pertama adalah mengenai pohon. Siapa bilang pernyataan Sandi yang menyalahkan komunitas pencinta pohon itu tidak benar? Pohon yang sudah sedemikian tua dan rapuh memang sudah seharusnya ditebang.

Omong kosong dengan pelestarian alam ya, Pak Sandi? Pohon yang tak layak memang sudah seharusnya disingkirkan. Bukan malah dipertahankan. Apalagi dipindah ke tempat yang lebih baik.

Hanya Singapura yang punya teknologi memindahkan pohon ke tempat yang lebih lapang. Tapi apa Jakarta punya lahan? Eh, sebenarnya ada deh. Lah itu di kawasan reklamasi Teluk Jakarta. Area yang membutuhkan lahan penghijauan. Tapi apa berani?

Respon kedua adalah proyek Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT). Anies mengatakan bahwa dua proyek tersebut penghambat aliran air. Tali air yang berserakan dan cukup serampangan akhirnya air menjadi menggenang di jalan raya.

Saya yakin Anies telah memperhitungkan secara matematis bahwa banjir seharusnya tak separah ini. Artinya, banjir atau genangan atau apapun itu namanya bisa ditekan.

Tapi uniknya, Kepala BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa saat banjir mengepung Jakarta pada 11 Desember 2017, curah hujan hanya 83 mm/hari.

Bandingkan dengan hujan di Pasar Minggu pada 10 Februari 1996 yang menghasilkan curah hujan sampai 300 mm/hari. Atau, saat banjir Jakarta pada 2007, dimana curah hujan sampai 340 mm/hari.

Nah, kalo begini siapa yang salah? Salah banjirnya? Sudah tahu Jakarta adalah kota yang sangat rentan terhadap air, ngapain itu banjir selalu datang tiap tahun?

Atau, jangan-jangan, banjir datang ke Jakarta karena memang diundang. Masih ingat janji kampanye Anies-Sandi? Bahwa jika Ahok menyediakan kail, maka Anies menyediakan kolam?

Makanya, tak heran air dari langit tak segan-segan memenuhi undangan dari sang penguasa. Hingga akhirnya memenuhi ruang-ruang kosong di wilayah perkantoran Jakarta.

Respon ketiga adalah pompa air yang tidak berjalan. Padahal, ada 145 rumah pompa, 152 pompa stationer, dan 150 pompa bergerak. Tapi memang ada beberapa yang tak jalan. Makanya susah juga menyedot air yang menggenang di jalan.

Akan tetapi, dasar netizen. Pompa-pompa tersebut sebenarnya bisa aja jalan. Tapi sayangnya tak digunakan semestinya. Cuma satu yang tak bisa jalan langsung dianggap penyebab banjir. Lantas ratusan lainnya ke mana? Tak berfungsi juga?

Atau, pompa-pompanya bisa saja dipakai untuk menyerap air yang menggenang di apartemen? Jalanan boleh banjir, tapi apartemen apalagi hotel jangan sampai banjir dong…

Lantas bagaimana seharusnya mengatasi banjir? Sebenarnya warga Jakarta sudah tahu. Misal, buang sampah pada tempatnya. Apartemen atau hotel yang kian masif seharusnya dibatasi. Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang minim seharusnya diperbanyak.

Dan, masih banyak lagi, silakan anda ingat kembali janji-janji kampanye saat pilkada.

Tapi apa daya, kita kadang memang diciptakan untuk lebih meresapi peribahasa “nasi sudah menjadi bubur” daripada pernyataan “mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Jadi ya jangan heran, banjir akan tetap ada dan berlipat ganda. Perilaku warganya seperti itu kok. Warga di daerah sekitar Jakarta juga beda-beda tipis. Mereka kadang tak peduli dengan kondisi lingkungan.

Namun, jika Jakarta ingin benar-benar bebas dari banjir, maka hanya ada satu jalan. Mengundang Poseidon, sang dewa penguasa laut, sungai, dan danau dalam mitologi Romawi.

Mengapa harus Poseidon? Karena Poseidon memiliki trisula yang bisa menyebabkan banjir. Andaikan beliau mau menumpulkan atau tidak menggunakan trisula tersebut, saya yakin banjir tak akan menggenangi Jakarta.

Alangkah lebih baik, Pemerintah Provinsi Jakarta mengundang Poseidon sekarang juga. Cuma masalahnya begini. Kalau mengundang Poseidon, nanti keimanan pemerintah bisa jadi terkikis.

Kan ya ndak lucu. Repot-repot cari gubernur seiman, eh malah meminta tolong dewa laut. Tapi demi Jakarta yang ‘Maju Kotanya, Bahagia Warganya” mengapa tidak?

Sesungguhnya hanya Poseidon yang dalam sekejab mampu menghilangkan banjir di Jakarta. Sebab, untuk mengatasi banjir secara instan, maka diperlukan cara instan pula. Begitu kan maunya?

Manusia lupa bahwa sejatinya banjir disebabkan oleh ulah manusianya sendiri, para pejabat maupun warganya.

Berharap persoalan banjir selesai dalam sekejab, sementara pejabatnya cari aman dan warganya tidak disiplin, ya sama saja berharap pada Poseidon. Hanya mitos…

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN