Pledoi Lelaki yang Mencuci dan Menjemur Baju Sendiri

Pledoi Lelaki yang Mencuci dan Menjemur Baju Sendiri

Ilustrasi (nytimes.com)

Seorang teman perempuan sempat protes karena saya masih mencuci sendiri baju-baju yang saya kenakan. “Kelihatan gimana gitu,” kata dia. Saya pun terhenyak beberapa saat. Mengernyitkan dahi.

“Meskipun kenyataannya kamu mencuci baju betulan, seharusnya kamu bisa beralibi kalau pakaian-pakaianmu masih dicucikan sama orang tuamu. Pengakuan semacam itu justru menghilangkan sisi maskulinmu sebagai seorang cowok,” lanjutnya.

Ah, jujur saja, itu jawaban paling absurd yang pernah saya dengar dari seorang perempuan. Selain tentu saja “kamu terlalu baik buat aku, kita kakak adek-an aja, ya.” Ehm…

Saya tidak bisa bohong, kenyataan bahwa saya masih mencuci pakaian sendiri memang betul. Selain lantaran jomlo, tentu saja sedikit uang yang saya punya tampaknya lebih berfaedah ditabung untuk modal nikah ketimbang harus dipakai bayar ongkos laundry.

Tidak masalah, meskipun kadang di lemari tinggal beberapa potong pakaian yang siap pakai, karena untuk mencuci pakaian kotor kalah oleh rasa malas yang menyergap.

Awalnya, ketika saya menceritakan perihal mencuci sendiri pakaian, saya kira teman perempuanku itu akan menyanjungku sebagai lelaki yang mandiri, tapi apa yang saya terima justru respon sebaliknya.

Saya membalas menanyakan cita-cita apa yang ingin ia capai? Ia pun bermimpi menjadi pengusaha sukses.

Saya bisa saja menjawab balik bahwa profesi yang ia cita-citakan itu menghilangkan sisi femininnya dan alangkah baiknya perempuan mengkhidmati prinsip 3 UR (Kasur, Sumur, Dapur) yang melegenda itu.

Tapi tentu saja tidak saya katakan, sebab saya berusaha untuk tidak menjadi patriarkis dan kita memang tidak sedang hidup di jaman old nan kolot, seperti era Siti Nurbaya.

Saat ini telah banyak perempuan yang sudah mengisi pos-pos dan melakukan hal-hal yang dulu katanya cuma dapat dilakukan oleh laki-laki. Meskipun pada praktiknya, di beberapa tempat masih banyak yang memperlakukan perempuan tidak sebagai manusia seutuhnya.

Pada kajian feminisme, betul perempuan menjadi pihak paling dirugikan dalam sistem hierarki dan patriarki yang telah mengakar dalam budaya masyarakat kita. Sementara posisi lelaki diidentifikasi sebagai pelaku.

Dengan privilege dan sikap permisif dari masyarakat, laki-laki seolah bebas untuk bertindak semena-mena, mendominasi, melakukan pelecehan, dan kekerasan. Lelaki menjadi sosok manusia super di atas perempuan di segala aspek.

Namun, yang jarang kita sadari ialah label ‘super’ justru berpotensi menjadi bumerang dan justru meletakkan posisi lelaki sebagai pelaku dan korban sekaligus.

Bahwa laki-laki harus kuat. Laki-laki harus pintar. Laki-laki harus bekerja. Laki-laki tidak boleh mencuci. Lelaki tidak boleh menangis. Lelaki harus begini, lelaki harus begitu, dan semacamnya.

Tapi, pada kenyataannya tidak begitu, laki-laki tidak selalu kuat. Laki-laki sebagaimana sifat umum manusia, juga mempunyai kelemahan dan kekurangan.

Sampai di sini jelas bahwa budaya patriarki sebetulnya tidak hanya menempatkan perempuan sebagai korban tunggal. Budaya ini turut menyeret laki-laki di bawah tuntutan-tuntutan dan batasan-batasan yang kadang tidak rasional.

Saya mengamini bahwa setiap manusia diciptakan sama. Tidak ada lelaki diciptakan lebih superior dibanding wanita atau sebaliknya. Sistem dan tafsir demi kepentingan-kepentingan lah yang membentuk demikian, yang kemudian menjadi habitual lalu mengakar sebagai budaya.

Apa salahnya, jika lelaki mencuci pakaiannya sendiri atau mengemong anak di rumah, misalnya? Atau perempuan yang seharian bertungkus lumus mencari nafkah hidup keluarga? Saya pikir tidak ada yang keliru.

Mencari nafkah keluarga bukan dibentuk atas dasar jenis kelamin. Namun, atas dasar kesepakatan kedua pihak dengan melihat kesempatan dan kemampuan masing-masing.

Pelabelan seperti yang dilakukan seorang teman perempuan terhadap saya, mungkin dialami oleh anda semua. Sikap demikian ada di mana-mana dan menjadi salah satu faktor yang membuat perempuan tidak sejajar dengan laki-laki dalam masyarakat saat ini.

Saban 21 April, aktivis feminisme menyuarakan emansipasi, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Tapi anehnya, di sisi lain banyak perempuan terkadang menempatkan diri mereka sendiri – secara sadar atau tidak – beberapa tingkat lebih rendah dari laki-laki.

Mengutuk habis-habisan budaya patriarki, namun masih banyak yang terjebak dalam zona nyaman sebagai perempuan yang mau dikendalikan, ya apalah kalau begitu, je

Sepanjang sejarahnya, feminisme mampu bertahan dari berbagai macam persoalan. Ia berusaha melawan subordinasi dan vandalisme.

Gerakan ini berjuang dari problem kesenjangan gaji hingga marginalisasi perempuan pada era industri. Pantang mundur melawan diskriminasi dominasi patriakal dalam budaya pingitan melalui RA  Kartini.

Dan, sudah seharusnya para feminis terus melawan terhadap berbagai macam permasalahan diskriminasi saat ini. Termasuk memutus standar-standar yang diberikan masyarakat pada perempuan maupun laki-laki.

Perempuan tidak harus melulu membebek dan berlindung di bawah ketiak laki-laki. Sementara lelaki memiliki kebebasan untuk mencari hidup di luar batas-batas kaku maskulinitas.

Persis seperti Nick Fulchano, seorang pria feminis, katakan, “Feminisme bukan cuma tentang membantu perempuan, ia juga tentang membantu para lelaki.”

Sudah ya, saya cuci baju dulu…