Playboy Insyaf dan Penampakan Sang ‘Juggernaut’

Playboy Insyaf dan Penampakan Sang ‘Juggernaut’

Ada yang masih nyimpen majalah Playboy? Majalah yang ada foto bugil cewek pesohor itu lho? Kalau ada saya beli satu dong. Bukan, bukan buat itu, tapi untuk koleksi. Bisa saja nantinya majalah Playboy jadi barang antik legit yang harganya selangit.

Ini masalah investasi, bukan esek-esek. Buy low sell high, kalau bahasanya trader saham. Beli murah, jual mahal. #ngeles

Jadi begini, kenapa majalah berlogo kelinci bertuksedo itu bakal jadi barang antik? Karena per Maret 2016, majalah Playboy tidak akan memuat lagi foto-foto wanita tanpa busana. Bahkan mulai Agustus lalu, situs Playboy sudah menyetop penerbitan online foto vulgar.

Playboy insyaf? Silakan saja kalau mau dibilang begitu. Sebagai gantinya, majalah milik Hugh Hefner itu bakal menghadirkan gambar-gambar sensual yang artistik dan konten soal kehidupan masyarakat modern.

Playboy juga bakal menyajikan wawancara eksklusif dengan tokoh-tokoh dunia. Sebenarnya itu sudah dilakukan selama ini, tapi tetap saja kalah pamor dengan konten porno. Setidaknya Playboy pernah mewawancarai Fidel Castro, Martin Luther King Jr, Malcolm X, dan John Lennon.

Lalu apa alasan Playboy membuat keputusan yang radikal itu? Kepala Eksekutif Playboy Enterprise, Scott Flanders mengakui kalau mereka kalah sama internet. Mereka juga mempertimbangkan masa depan anak-anak dan remaja, serta melancarkan akses ke media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Bagaimana tidak kalah sama internet, sekarang hanya dengan satu klik saja, orang bisa menikmati konten porno dengan cepat dan gratis. Paling banter ngabisin paket data doang. Makanya pakai paket internet yang lagi promo, tapi risikonya lemot abis. Ya sudahlah.

Majalah Playboy sebenarnya tidak sendirian. Sebelumnya beberapa media cetak juga menjadi korban internet. Sebut saja Newsweek. Salah satu majalah mingguan terbesar di Amerika Serikat itu harus pamit dari dunia cetak pada 24 Desember 2012.

Di Indonesia juga demikian. Harian Bola terpaksa menghentikan penerbitan edisi cetak hariannya sejak akhir Oktober 2015, dan kemudian hanya menerbitkan edisi Bola Sabtu. Sekarang ini memang mudah sekali mengakses informasi seputar olahraga khususnya sepakbola via internet. Harian Bola terbit pada 7 Juni 2013. Itu berarti hanya bertahan lebih dari 2 tahun.

Kabar terkini datang dari koran Sinar Harapan. Koran sore itu akan tutup mulai 1 Januari 2016. Tidak hanya edisi cetak, tapi juga online-nya. Alasan utamanya adalah masalah global dalam dunia penerbitan dan ditinggal investor. Masalah global itu mungkin saja tergilas oleh banyaknya media digital.

Sinar Harapan terbit sejak Juli 2001, setelah dibredel pemerintah Orde Baru pada 1986. Sinar Harapan  termasuk koran tua. Mereka terbit perdana pada 27 April 1961.

Apakah ini tanda-tanda kalau kiamat media cetak sudah dekat? Pada 1990, Bill Gates, pendiri Microsoft, pernah meramalkan kematian era media cetak pada tahun 2000. Memang ramalan itu meleset sih tahunnya, tapi setidaknya indikasi menuju itu sudah ada.

Philip Meyer, penulis buku ‘The Vanishing Newspaper: Saving Journalism in the Information Age (2004)’, juga pernah meramalkan kalau kiamat media cetak bakal terjadi pada 2040.

Perusahaan informasi global AC Nielsen bahkan menyebutkan kalau oplah media cetak mulai turun, sedangkan media digital justru naik. Oplah koran turun 4%, majalah 24%, dan tabloid 12%.

Mungkin ada benarnya kata Anthony Giddens bahwa modernitas itu ibarat ‘Juggernaut’ atau panser raksasa yang lepas kontrol dan akan menggilas apapun yang ada di hadapannya. Sosiolog ternama itu menggambarkan kehidupan modern sebagai sebuah ‘dunia yang tak terkendali’ (runaway world).

Sosok ‘Juggernaut’ juga dikenal dalam komik Marvel. ‘Juggernaut’ (Cain Marko) adalah karakter fiksi yang pertama muncul di X-Men #12 pada Juli 1965. Sang ‘Juggernaut’ memiliki kekuatan yang tak bisa dihentikan.

Dalam film X-Men: The Last Stand, ‘Juggernaut’ digambarkan sebagai seorang mutan, bukan manusia berkekuatan magis. Kekuatan sang ‘Juggernaut’ bisa disamakan dengan Thor dan Hulk.

Di era digital serba modern sekarang ini, sang ‘Juggernaut’ sudah memulai penampakannya. Dia akan menabrak apapun yang tidak siap dengan modernisasi, lalu berlari kencang tanpa bisa dihentikan. Selamat datang sang ‘Juggernaut’!

Foto: fashionpluslifestyle.wordpress.com