PKI Itu Sudah Cukup Bahagia

PKI Itu Sudah Cukup Bahagia

Tanggal 1 Oktober adalah sakral. Camkan itu, kawan. Tidak hanya bagi negara, tentara, atau masyarakat seperti kita, tapi bagi seluruh dunia. Di Indonesia, tanggal 1 Oktober biasa diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila.

Di dunia, sebutlah 1 Oktober 1949, Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Bagi penggemar sepakbola, khususnya timnas Brasil, Pele pensiun dari pemain sepakbola pada 1 Oktober, tepatnya pada 1977.

Jadi begitu banyak peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober di seluruh dunia. Dan, inilah yang termutakhir. Baru-baru ini, berdasarkan kesepakatan internasional melalui International Coffee Organization (ICO), 1 Oktober dinyatakan sebagai Hari Kopi Internasional.

Satu hal yang cukup menggembirakan dan membahagiakan para pecinta kopi termasuk Penikmat Kopi Item alias PKI.

Akhirnya perayaan hari kopi yang sebelumnya dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda di setiap negara, memiliki satu tanggal yang sama bagi seluruh penikmat kopi.

Ini artinya, tanggal 1 Oktober kembali menjadi sebuah hari dan tanggal yang sakral. Riuh peringatan Hari Kopi Internasional untuk pertama kalinya pada tahun 2015 ini.

Di Indonesia diperingati dan diinisiasi langsung oleh Kemenperin, Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, yang bekerja sama dengan beberapa asosiasi kopi. Acara minum kopi gratis jadi salah satu sajiannya.

Berbahagialah para penikmat kopi dan petani kopi, termasuk PKI. Maksudnya PKI di sini ya para Penikmat Kopi Item, hehe…

Dengan dicanangkannya 1 Oktober sebagai Hari Kopi Internasional, banyak hal positif yang bisa diharapkan. Serta yang pasti, wabil khusus Indonesia, 1 Oktober yang biasanya diperingati dengan raut muram durja mengingat peristiwa penculikan sejumlah jenderal, akhirnya memiliki tandingannya, hari kopi.

Ya, hari kopi, kawan… Kopi yang mampu memberikan energi positif bagi tubuh, tentunya memiliki efek membahagiakan dibandingkan ingatan terhadap sebuah peristiwa 50 tahun lalu.

Sudah menjadi catatan sejarah bahwa pada 1 Oktober 1965 terjadi peristiwa mahadahsyat, yang telah mengubah arah perjalanan bangsa ini. Soekarno selesai, PKI dihabisi, dan Soeharto naik tahta 3 tahun setelahnya. Dalam konteks ini, PKI itu ya Partai Komunis Indonesia.

Gestok, Gestapu, G/30S, atau apapun istilahnya adalah tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah dialami bangsa ini. Sampai hari ini selubung misteri mengenai kebenarannya sulit terungkap.

Berbagai studi yang dilakukan oleh berbagai akademisi baik dari dalam dan luar negeri, tak juga mampu membuka kenyataan yang terjadi.

Inilah sejatinya problem kita bersama. Di tengah kemeriahan perayaan Hari Kopi Internasional, nada-nada miring penuh ketakutan alias paranoia terhadap komunisme masih keras terdengar. Siapakah komunisme? Apa itu Komunisme? Benarkah mereka adalah ancaman bagi negara?

Sebuah media massa pernah memberitakan, sang pimpinan PKI Aidit pun mati dieksekusi ketika sedang ngopi-ngopi. Apakah ngopinya Aidit seberbahaya itu, sehingga eksekusi dilakukan saat ia tengah menikmati kopi?

Kopi bisa jadi identik dengan gambaran PKI selain rokok kretek yang selalu hampir tak pernah padam dalam gambaran film G/30S ala Orde Baru. Namun, dari kopi pulalah benih-benih obrolan pemberontakan bisa dan mungkin terjadi.

Mari ngopi sodara-sodari, jangan lupa rokok kreteknya juga, yang persoalannya hampir sama peliknya menyangkut keberadaannya. Itulah kopi dan kenyataan yang terjadi di sekitar kita pada 1 Oktober.

Demi kopi dan demi sebuah kebenaran. Penikmat kopi seluruh dunia bersatulah…

Foto: acornfinancialservices.com.au