Pintu Masih Terbuka, Penganut ‘Untung Gue Nggak Milih’ Segeralah Bertobat

Pintu Masih Terbuka, Penganut ‘Untung Gue Nggak Milih’ Segeralah Bertobat

Mari membuka percakapan dengan melontarkan pertanyaan kunci: “Siapa masyarakat di Voxpop ini yang tidak menggunakan hak pilih pada Pemilihan Umum Anggota Legislatif (Pileg) 9 April 2014?

Siapa masyarakat di sini yang begitu betenya dengan DPR sebelumnya, dengan anggota-anggota yang tertangkap korupsi tapi dengan tekun dan saksama menyesali diri senyam-senyum di depan KPK, hingga yang tertangkap kamera canggih wartawan sedang tidak sengaja ketahuan buka gambar porno, lantas dengan bangga menyatakan diri di linimasa untuk tidak menyoblos di Pileg?

Kalau ditanya, saya adalah salah satunya. Dan, menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), saya adalah bagian dari 24,89% manusia Indonesia dengan hak pilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Kalau Anda, bagaimana?

Mungkin, karena hak pilih tidak setara dengan hak hidup maupun hak hidup bahagia dengan pasangan orang lain, pastinya kamu juga satu golongan dengan saya, kan? Iya, kamu. Kamu yang buat aku tertipu, membuatku malu-malu…

Kita mungkin terlalu eneg dan menganggap kinerja DPR periode 2009-2014 itu adalah yang paling buruk. Lucunya, karena eneg dengan DPR yang itu, kita melepaskan hak untuk memilih anggota DPR berikutnya kepada 124.972.491 rakyat Indonesia lainnya.

Lantas bagaimana jika DPR pilihan 75,11% pemilih itu kemudian menjadi sebuah institusi yang begitu kerennya hingga perlu memanggil seorang ahli bahasa hanya untuk menerjemahkan kata ‘dapat’ yang tertera pada Undang-Undang yang notabene mereka sahkan sendiri?

Itu tadi baru sebatas kata ‘dapat’, tidak perlulah kita berpanjang-panjang dengan kisah selfie, yes highly, berduaan di kamar hotel, sampai urusan Pak Jokowi yang kena semprot Bu Mega.

Memangnya itu lantas jadi salahnya 120-an juta masyarakat yang memilih? Politik memang sudah terlalu keji, sampai-sampai orang yang terlibat dalam politik itu tampak mengerikan.

Anies Baswedan sampai merasa perlu mengirim surel kepada banyak orang yang terlibat dalam Gerakan Indonesia Mengajar dan turunannya, ketika beliau memutuskan untuk mengikuti konvensi Partai Demokrat. Sebuah partai yang sekarang anteng seperti tuna asmara yang sedang berkontemplasi, namun kala itu begitu ternama bin terkemuka di layar kaca bersama Nazar dan Anas, seperti layaknya suami Angel Karamoy saat ini.

Dalam surelnya, Anies Baswedan menyebut bahwa duit yang kita bayarkan lewat pajak itu dikelola, ya sama orang-orang politik. APBN itu utak-utiknya Pemerintah dan DPR. Pemerintah itu ya Presiden, ya Menteri, sama-sama kental bau politik. Apalagi DPR. Sekarang, jika dua-duanya berkelakuan tiada bisa dipercaya seperti halnya lelaki pada umumnya, bayangkan saja dampaknya.

Sebagai gambaran lagi, pada 2004, APBN Indonesia bernilai Rp 584 triliun. Tahun 2016 mendatang? Diajukan hampir Rp 2.200 triliun. Duit segitu bisa digunakan untuk 147 juta kali naik Gojek. Duit segitu juga bisa menggaji 61 juta pegawai dengan UMR. Duit tersebut juga dapat dipakai sebagai sinamot untuk anak gadis berpendidikan S1 pada umumnya sejumlah penduduk Jakarta.

Sekarang bayangkan duit pajak yang kita bayar sama-sama itu diatur penggunaannya sama lembaga yang untuk mengartikan kata ‘dapat’ dalam peraturan yang dibuat sendiri saja perlu panggil ahli bahasa? Ngeri? Lah, siapa suruh nggak milih?

Masih kata Anies Baswedan bahwa permasalahan negeri ini bukan pada banyaknya orang-orang jahat, tapi karena orang-orang baik lebih memilih untuk diam dan mendiamkan. Eh, ini termasuk Pak Setya Novanto yang kemaren dibilangin sama istrinya supaya jangan jadi orang yang terlalu baik.

Ketika masa-masa berebut jadi caleg, orang-orang baik tersingkir sama orang berduit, lalu diam. Melengganglah calon-calon keren mulai dari artis (kau khianati hati ini, kau curangi aku), kolektor barang antik, pengunjung makam Karl Marx, hingga pelatih sepakbola.

Mereka menjadi pilihan pada 9 April tahun lalu, tanggal ketika sebagian orang memilih tidak peduli pada haknya sendiri. Bagi yang suaranya cukup, duduklah mereka di Senayan. Begitu duduk, ya sah-sah saja mereka memasukkan anggaran bikin gedung baru dan bebas jalan-jalan ke Mamarika tanpa perlu dikata-katai pro-asing dan aseng.

Lantas bagaimana dengan kita-kita yang tidak memilih? Paling cuma nge-share keresahan berupa meme gedung DPR dan kemiskinan di Pesbuk. Begitulah, karena awalnya diam, tidak peduli, kita akhirnya hanya bisa bangga berkata, “Untung gue nggak milih mereka!”.

Sambil kita berkata begitu, duit dua ribuan triliun tidak akan berpindah ke dalam pengelolaan kita. Yang berhak mengesahkan penggunaannya tetaplah manusia yang sama dengan yang ber-haha-hihi membahas Papua, sementara puluhan balita meninggal misterius nun jauh di sana.

Kini, sembari mengeruk rupiah, menggerutu pada bos yang tidak kompeten, dan nge-share meme sambil gelantungan di KRL serta melakukan segala niat-niat baik kita, mari sempatkan diri berpikir untuk peduli pada negeri ini.

Siapa tahu nanti diajak sama Bang Rhoma, Kakak Grace atau Om HT ke partai barunya. Kita sudah berkali-kali ditabok kenyataan bahwa ketidakpedulian pada politik itu hasilnya suram, bak jomblo ditelan jaman. Memangnya ada yang bisa jamin DPR tahun 2019 nanti tidak lebih buruk dari sebelum-sebelumnya?

Ketidakpedulian pada politik itu ujungnya panjang. Bahkan lebih panjang daripada durasi mengenang mantan yang pertama kali dicium.

Lihatlah Pilkada langsung pada 9 Desember 2015. Bagaimana bisa muncul calon yang notabene dinyatakan sebagai koruptor, atau muncul kondisi bahwa calon yang ada membuat kita harus memilih secara minus mallum, terbaik dari yang terburuk?

Undang-Undangnya siapa yang buat? DPR. Siapa yang milih DPR? Siapa yang nggak milih orang-orang yang kayaknya baik hingga akhirnya mereka tersingkir dari panggung? Ya kita-kita juga toh.

Ya, sudahlah.. Kalau memang calon yang tersedia memang suram-suram, setidaknya mari ber-minus mallum. Ingat, duit yang tidak dengan cukup rela kita setorkan ke Dirjen Pajak maupun ke retribusi daerah itu akan dikelola oleh mereka.

Mau dipakai untuk bikin jalan di desa tertinggal atau bikin jalan di desa tempat dia punya tanah banyak, ya pada akhirnya mereka juga yang tanda-tangan pencairan dananya.

Maka, pedulilah, kawan! Masak kita kagak tobat melihat SS dan MS dikeroyok pertanyaan yang serupa pelajaran geometri – panjang kali lebar sama dengan luas – yang dilontarkan oleh orang-orang yang dipilih sama rakyat? Masak kita hanya pintar bikin hestek TTWW #PertanyaanMKD, tapi tidak bertanya pada diri sendiri kenapa negara ini begini?

Begitulah, karena pada akhirnya pernyataan ‘Untung gue nggak milih’ terbukti tidak memberi nilai tambah untuk negeri ini…

Foto: voiceofrevival.org