Perempuan Pakai ‘Pink’, Laki-laki Merah, Harus Gitu Ya?

Perempuan Pakai ‘Pink’, Laki-laki Merah, Harus Gitu Ya?

Ilustrasi (Ian Dooley/unsplash.com)

Masalah kesetaraan gender memang selalu menjadi perdebatan panas, walau terkadang muncul perdebatan yang nggak penting dan hanya buang waktu. Kenapa? Karena seringkali tidak menyodorkan solusi yang jelas.

Padahal, masalah ini begitu pelik karena merupakan warisan dari para orang tua, yang sampai saat ini terus dipelihara. Bukankah sejak kecil kita terbiasa membedakan dan dibedakan antara pilihan laki-laki dan perempuan?

Lihatlah katalog bayi-bayi yang ada di sekitar kita. Untuk bayi perempuan, mereka terbiasa disodorkan warna pink. Mulai dari warna baju, handuk, hingga bungkus sabun – lengkap dengan wangi-wangian yang manis seperti bunga.

Sementara untuk bayi laki-laki ‘berbungkus’ warna merah, biru, atau hijau sebagai lambang kegagahan. Mulai dari sabun, sampo, hingga wangi-wangian dengan aroma yang lebih keras.

Sangat jarang sekali ada warna terutama pink yang terkesan unisex. Warna tersebut seolah diklaim sepihak untuk menunjukkan bahwa perempuan itu selalu manis dan lembut, sementara laki-laki yang dominan merah atau biru digambarkan kalem dan gentle.

Belum lagi di sekolah. Pada awal-awal sekolah, kita selalu diajarkan dengan kalimat: “Bapak pergi kerja, ibu belanja ke pasar, kakak berangkat ke sekolah.” Atau, “Bapak membaca koran di ruang tengah, ibu memasak di dapur, adik bermain di halaman.”

See… doktrin ‘bapak membaca koran dan berangkat kerja, sedangkan ibu harus ke pasar dan memasak’ seolah menjadi legitimasi bahwa tanggung jawab seorang laki-laki ya sebatas mencari nafkah, sementara perempuan ya mengurus rumah.

Lantas, apa jadinya kalau dibalik? Ibu pergi bekerja, bapak pergi ke pasar, dan kakak berangkat ke sekolah?

Toh, bukankah pada era sekarang sudah ghalib para perempuan bekerja di luar rumah, sedangkan tak sedikit pula laki-laki yang mengambil peran untuk mengurus rumah saat istrinya kerja kantoran? Bukankah rezeki bisa dicari di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja?

Jadi, masih mau menyangkal bahwa kita memang secara tidak langsung didoktrin bias gender sejak masih imut-imut?

Hal ini kemudian ditegaskan pula oleh industri fesyen lewat produk-produk yang mereka sodorkan. Parfum, misalnya. Sudah biasa tho kita melihat ada botol parfum dengan tulisan eu de toilette for women dengan botol lucu, imut, menggemaskan, dengan warna-warna manis seperti pink, pastel, dan ungu?

Belum lagi wangi-wangian yang ditawarkan, dengan tone manis seperti permen, segar seperti buah, dan harum seperti bunga, yang biasa dilabelkan pada perempuan. Sementara laki-laki disodorkan cologne dengan ‘pilihan’ aroma alam, kopi, dan bau-bau yang spicy seperti cendana, kayu manis, dan lainnya.

Padahal, apa salahnya jika perempuan lebih nyaman dengan bau kopi sebagai parfum, alih-alih bau wangi bunga yang menyengat dan membuat pusing kepala?

The theory about parfume is for women, while cologne are for men, is an archaic mindset. That’s just perfume marketing for you, that’s it.” Begitu kira-kira penjelasan dari Sue Phillips, pemilik serta pendiri Scenterprises, yang juga seorang ahli parfum.

Sama halnya saat perempuan disodorkan untuk memakai baju dengan warna-warna pastel yang imut dan menggemaskan, sementara laki-laki lebih akrab dengan warna-warna gelap.

Apakah itu tak lebih dari sebuah legitimasi bahwa perempuan harus manis, cantik, good looking, sedangkan laki-laki harus kuat, kudu steady dalam hidup ini?

Jujur sajalah, bukankah kita seringkali tertawa saat ada laki-laki memakai baju berwarna pink pastel? Namun, reaksi kita biasa saja saat melihat perempuan memakai kaos berwarna hitam.

Jadi, masih mau menyangkal bahwa kita sendiri sebenarnya bias gender?

Persoalan perempuan dan laki-laki memang sangat luas dijabarkan, harus ditelaah satu-persatu jika kita bicara gender. Tak hanya terbatas soal pembagian kerja secara seksual, tapi juga ego-ego dimana semua merasa jumawa harus ditempatkan sebagai yang ‘paling’.

Kalau sudah begitu, apa komunikasi bisa terjalin, jika pembenaran dipaksakan menjadi sebuah titik temu?

Konsep penis envy ala Freud sudah tak lagi berlaku. Tuduhan bahwa perempuan berlaku tomboy hanya karena perempuan merasa kalah dari laki-laki dibantah dengan kenyataan bahwa di antara maskulinitas laki-laki, toh kita menemui tak sedikit laki-laki yang rela melepas alat vitalnya untuk berganti kelamin menjadi perempuan.

Sementara, di sisi lain, jarang sekali lesbian yang mau mengganti organ vitalnya dengan organ vital laki-laki, hanya karena ia berlaku tomboy layaknya laki-laki.

Ah ya, pada akhirnya, pembicaraan tentang gender tak akan pernah menemukan titik temu, jika ego yang dikedepankan. Masing-masing pihak seolah memiliki agenda tersendiri. Sebagaimana kata manusiawi disematkan pada makhluk yang mampu berpikir ini, tapi juga memiliki ego yang luar biasa.

Mungkin benar apa kata Kate Millet. Pada akhirnya, hubungan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat hanyalah sebuah hubungan politik. Hubungan tersebut berdasarkan struktur kekuasaan, dimana satu kelompok manusia dikendalikan oleh yang lainnya.

So, wahai para lelaki, mau nggak pakai warna pink?