Ketika Kita Benar-benar Harus Pindah ke Bulan

Ketika Kita Benar-benar Harus Pindah ke Bulan

Ilustrasi (independent.co.uk)

“Ke bulan aja lo!” ujar seorang pemudi, sebut saja Bunga, ketika sedang bergurau kepada temannya. Sama halnya dengan Bunga, tentunya kita pernah menggunakan analogi bulan, laut, atau Timbuktu ketika dirundung sebel dalam bergurau.

Nah, kali ini ada kabar yang bisa dibilang lebih penting ketimbang guyonan soal bulan dan segala benda-benda langit lainnya. Belum lama ini, sebuah perusahan pribadi mengantongi izin untuk mendarat di bulan. Nama perusahaan tersebut adalah Moon Express atau MoonEx.

Selain itu, beberapa  perusahaan Amerika Serikat juga dikabarkan telah menandatangani perjanjian dengan NASA. Salah satunya Space Exploration Technologies Corporation atau SpaceX. Perusahaan transportasi luar angkasa yang didirikan oleh Elon Musk itu berencana menerbangkan dua manusia ke bulan pada akhir 2018.

Kabar tersebut tentunya seperti oase di tengah badai kengerian yang terjadi di dunia akhir-akhir ini. Terlebih, Amerika Serikat yang dikomandoi Donald Trump akhirnya menarik diri dari kesepakatan Paris, yang berisi persetujuan negara-negara di dunia untuk memerangi perubahan iklim.

Keputusan Trump yang fenomenal ini diyakini akan berperan besar dalam peningkatan suhu bumi secara drastis. Sebagai negara adikuasa yang juga negara terbesar kedua pengemisi CO2 dari bahan dasar fosil, pernyataan Trump menguncang para pemimpin dunia.

Di Indonesia, berita itu tentunya beberapa tingkat lebih menyedihkan dibanding hari patah hati nasional yang sempat melanda republik ini. Hanya sedikit kalah cetar dari isu agama yang selalu menghiasi linimasa.

Ya iyalah, Amerika kan masih bicara ke bulan, sedangkan kita sudah bicara ke surga. Beda level, uhuk…

Lagipula, kehidupan di dunia ini fana, jadi ngapain harus repot-repot memikirkan perubahan iklim yang disebabkan oleh efek rumah kaca? Ngapain pusing sama pelepasan gas-gas ke atmosfer dan membuat suhu bumi menjadi menghangat? Begitu kan, maksudmu?

Eh tapi, bukankah tanpa efek tersebut bumi bisa menjadi dingin dan mati? Iya betul. Sebenarnya bumi mirip-mirip manusia. Seumpama manusia hidup tanpa cinta, pastinya sunyi, sepi, hampa, beku. Namun, sama halnya dengan cinta, sesuatu yang berlebihan akan menyiksamu, bahkan membunuhmu. Ehm…

Nah, jumlah gas-gas yang berlebihan di atmosfer akan membuat bumi memanas dan es-es yang berada di kutub mencair, kekeringan panjang, atau justru hujan sepanjang hari. Kekacauan iklim.

Kondisi itu yang membuat para pemimpin dunia cemas, bumi bisa jatuh dan tak bisa bangkit lagi, terlepas bumi itu bulat atau datar, persegi atau jajaran genjang. Yawla, Om Donald, hidup kok gini-gini amat. Pantes di sini banyak orang berebut tiket ke surga…

Di tengah kegalauan, beruntung masih ada Emmanuel Macron. Itu lho, pemimpin kece dan paling romantis sedunia. Justin Trudeau aja sih lewat. Apalagi Justin Bieber, Justin Timberlake, dan Justin-justin yang lainnya.

Macron langsung berpidato dan mengundang para ilmuwan yang kecewa – semacam kekasih yang tak dianggap – untuk datang ke Prancis. Macron seolah ingin menyampaikan, “Jika dia tak mencintaimu, ada aku di sini dan siap menerimamu.” Aihh… Gimana saya Brigitte Macron gak klepak-klepek, coba?

Patah hati dan kecemasan ilmuwan beserta pemimpin dunia sebenarnya jauh lebih beralasan. Bagaimana tidak, faktanya rekor cuaca terpanas terus menerus melampaui rekor sebelumnya dan semakin meroket.

Hawa panasnya juga jauh melebihi perasaan kamu ketika menyaksikan pertunangan Raisa dan Hamish Daud. Itu baru sama Raisa, gimana kalau sama saya?

Maret tahun lalu adalah rekor terbaru untuk temperatur rata-rata bumi ~13,75 OC. Sebenarnya, jika suhu rata-rata bumi menunjukan 15oC, itu berarti bumi telah mengalami kenaikan sebesar 33 oC.

Itu tahun lalu, bagaimana dengan tahun ini? Atau, bagaimana kondisinya dalam 10 tahun ke depan saat kamu masih berjuang nyicil KPR yang pokok utangnya gak habis-habis itu?

Maka, tak ada salahnya kita mulai berpikir dan bersiap untuk menyambut dunia yang baru, bulan. Itu bukan suatu yang mustahil, jika kita terus menerus merusak bumi seperti sekarang.

Simpan dulu cibiranmu, karena dulu ada manusia saleh yang dicibir ketika membuat sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan kaumnya dan makhluk hidup lainnya dari terjangan air bah. Para pemeluk agama Abrahamik meyakini itu, bahkan bisa dijelaskan secara ilmiah.

Jika nanti benar-benar harus pindah ke bulan, apa yang harus kita persiapkan saat ini? Yang pertama, rajin-rajinlah berolahraga. Sebab, tak ada gravitasi di bulan. Keseimbangan tubuh sangat penting agar kita tidak terhempas ke Planet Mars atau Jupiter, atau Uranus.

Setelah tubuhmu terasa ideal, saatnya mengurangi ego. Ini lebih penting, karena keegoisan kita menjadi biang keladi kerusakan bumi. Ego ingin hidup seenak udel tanpa peduli kelestarian bumi dan keseimbangan ekosistem. Bisa jadi kita nggak pindah ke bulan, kalau kita tidak egois terhadap bumi.

Dan, persiapan terakhir yang tak kalah penting, mulailah bersahabat dengan kelinci. Konon, kelinci adalah hewan penghuni bulan. Belajarlah dari sekarang bagaimana memberi makanan yang terbaik untuk mereka. Sebab, kabarnya mereka sudah bosan dengan kangkung.

Ngomong-ngomong, di bulan bakal ada pilkada nggak ya?