Pilkada yang Mencerdaskan Banyak Orang

Pilkada yang Mencerdaskan Banyak Orang

pelonkey.com

“Kejahatan merajalela,” kata Anies Baswedan, “Bukan semata-mata karena orang jahat jumlahnya banyak, tapi karena orang baik memilih diam dan mendiamkan.” Tapi kalau boleh mengoreksi mas Anies, orang jahat memang jumlahnya banyak, karena orang baik memilih untuk ikut-ikutan jahat. Dan celakanya – menyitir kata-kata Joker – dia seperti gravitasi, cuma butuh sedikit dorongan.

Tentu ini bukan untuk menyinggung mas Anies yang berpindah kubu – dari pak Jokowi ke pak Prabowo – ketika sekarang mencalonkan diri sebagai gubernur ibukota. Cuma fansboy yang kalap saja yang berpikir bahwa kubu pak Prabowo melulu berisi orang jahat, dan hanya cheerleader yang buta saja yang berpikir bahwa kubu pak Jokowi bandit semua. Kalau kedengarannya ramai, itu karena keduanya jumlahnya kebetulan sama: nyaris separuh penduduk Indonesia.

Kalau kesempurnaan hanya milik Allah dan Andra and the Backbone, maka mungkin yang hitam-putih cuma Deddy Corbuzier dan Chika Jessica.

Contoh orang baik yang ikut-ikutan jahat itu, misalnya, sebel karena tampang Jokowi disebut kampungan lalu membalas dengan menyebarkan foto Sandiaga yang onderdilnya nyelip. Atau, tidak suka karena Nusron dirisak gara-gara melotot-melotot di tivi padahal itu bawaan oroknya, lalu membalas dengan beramai-ramai membuat video mewek untuk menyindir Yusuf Mansyur.

Benarlah ujaran orang bahwa yang memisahkan kita sebenarnya bukan ras, agama, dan pilihan politik, tapi kebodohan.

Hanya ada satu cara untuk membasmi akar semua keributan itu. Apalagi kalau bukan: sekolah sehari penuh. Pada titik ini, saya rasa kita semua sepakat kalau tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kementerian yang sekarang dipimpin pak Muhadjir Effendy, menjadi sangat penting.

Kabarnya Kemendikbud baru kebagian APBN sebesar Rp 39,8 triliun, cuma urutan ke-8 di bawah beberapa kementerian dan lembaga seperti Kementerian Pertahanan, Pekerjaan Umum, Kepolisian, bahkan Kementerian Agama.

Ini seharusnya bisa dipahami, lha siapa suruh menolak usul sekolah seharian pak Muhadjir? Kalau tidak, bukan tidak mungkin anggaran buat Kemendikbud itu akan jadi dua kalinya dari yang sekarang.

Pak Muhadjir, yang sebelum jadi menteri lebih banyak menulis soal pertahanan daripada pendidikan, bukannya tidak berusaha. Usul sekolah sehari penuh – yang sudah dibatalkan itu – bukan satu-satunya gebrakan pak menteri.

Beberapa waktu yang lalu, beliau juga mengusulkan penghapusan pekerjaan rumah sekolah. Beberapa orang lalu bingung, orang yang ingin menambah beban siswa dengan sekolah seharian tiba-tiba mau meringankannya dengan menghapus pekerjaan rumah.

Sebenarnya ide untuk menghapus PR itu sinergis dengan program dahsyat usulan pak menteri yang sebelumnya seandainya tidak buru-buru dibatalkan. Lha wong sudah sekolah sehari penuh, kok masih ditambah pekerjaan rumah. Itu sekolah apa kerja rodi?

Mungkin inilah saatnya pak Muhadjir untuk berpikir di luar kotak. Sekolah bukan segala-galanya, revolusi tidak dimulai dari sekolah. Toh di akun-akun media sosial orang lebih sering menulis Sekolah Alam Semesta di kolom pendidikannya (biasanya diikuti dengan PT Mencari Cinta Sejati di kolom tempat kerjanya). Kalau boleh membantu memberi ide, pak Muhadjir mungkin bisa membuat terobosan baru dengan mengusulkan pemilihan umum sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Saya tidak sedang bercanda. Sejak pemilihan presiden paling panas di Indonesia digelar pada 2014, banyak orang yang bertambah cerdas sekarang. Mulai dari soal remeh-temeh seperti busana, fotografi, protokoler acara-acara kenegaraan, sampai yang ruwet seperti algoritma mesin pencari Google.

Tanya Abangnda Jonru kalau tidak percaya, bagaimana beliau sekarang jadi tahu aturan mengancingkan jas atau memotret langsung menghadap matahari tidak otomatis menghasilkan foto siluet. Atau, boleh juga tanya mantan menteri metada kita, Roy Suryo, yang akhirnya sadar bahwa tidak perlu menunggu gerhana matahari total untuk pakai kacamata kalau mau menatap matahari.

Itu belum kalau kita juga menghitung orang-orang yang kemampuan photoshop-nya meningkat, orang yang bisa memanipulasi kicauan orang di Twitter, orang yang kemudian menyebut dirinya pakar mantan, dan banyak hal ajaib lain yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Yang paling baru dan dekat tentu saja pemilihan kepala daerah, terutama Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, heboh video pidato Ahok di Kepulauan Seribu langsung melahirkan ahli tafsir kitab suci di satu sisi dan ahli linguistik di sisi yang lain. Padahal, pilkadanya sendiri belum mulai.

Dan setelah mulai, baru sehari sehabis pengundian nomor urut pasangan calon, kontan ahli-ahli numerologi bermunculan di mana-mana seperti panu yang tidak diolesi salep. Orang mulai rajin mengamalkan ilmu kuno Jawa utak-atik gathuk atau bahasa kerennya cocoklogi.

Padahal soal angka ini tidak sama pada setiap kebudayaan. Di satu tempat satu angka mungkin dianggap angka keberuntungan, sementara di tempat lain dia dianggap angka sial. Cuma Honda HRV Rp 300 jutaan dan arloji Rp 4 miliar saja yang di mana-mana dianggap sebagai angka keberuntungan.

Yang lebih parah, beberapa pakar numerologi dadakan itu mengambil sumbernya dari kitab suci. Kitab yang, seperti namanya, seharusnya diperlakukan dengan suci, justru diperlakukan seperti erek-erek, buku tafsir mimpi pegangan para penggemar porkas dan toto gelap. Mulai dari angka ganjil yang lebih disukai Tuhan sampai nama calon kepala daerah yang dinomori lalu ditafsirkan – lagi-lagi – seenak udelnya sendiri.

Ironisnya lagi, hal itu dilakukan oleh orang-orang yang kemarin tersinggung karena merasa kitab sucinya dinista, yang tanggal 4 November (kok gak ganjil ya?) berencana menggelar demo besar-besaran. Tidak terbayangkan ahli dan pakar apa lagi yang akan muncul selama empat bulan ke depan seiring dengan berlangsungnya kampanye dari masing-masing calon. Mungkin mendekati hari pencoblosan kita akan punya ahli nuklir yang bisa mengirim roket untuk meledakkan Uranus.

Jadi tidak usah berkecil hati, kalau anggaran untuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak terlalu besar. Tidak usah gemas kalau masih banyak gedung sekolah yang rusak, dan sebagainya. Pemilihan umum termasuk pilkada terbukti mampu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau bisa setiap bulan kepala daerah diganti supaya setiap hari ada pilkada dan kampanye.

Dan jangan takut juga untuk tetap mencoblos sesuai pilihan hati, lha wong ahli-ahli numerologi spesialis pemilu itu ilmunya cuma utak-atik gathuk kok. Kalau suka pasangan nomor 1 atau 3 ya coblos saja. Begitu juga kalau suka pasangan nomor 2. Yang penting, jangan biarkan orang jahat bertambah banyak dengan ikut-ikutan jadi jahat.