Aktivitas yang Menyenangkan selain Tamasya saat Pilkada

Aktivitas yang Menyenangkan selain Tamasya saat Pilkada

Ilustrasi (ronijayasaputra.wordpress.com)

Suara, suara apa yang perolehannya mencapai 100% dalam Pilkada DKI Jakarta?

Ya betul, suara kegembiraan hati para pekerja di ibukota yang mengetahui bahwa tanggal 19 April – hari pemilihan gubernur dan wakil gubernur – dinyatakan sebagai hari libur. Rasanya sulit menemukan orang yang menolak kebijakan tersebut. Wong, warga di luar Jakarta saja banyak yang ngarep bisa ikutan libur.

Ibu saya, seorang pekerja di Jakarta yang hampir setiap hari menghabiskan waktunya bergelut dengan segala urusan kantor cukup merasa bahagia, ketika tahu bahwa 19 April adalah hari libur provinsi, meski pilkadanya rasa nasional. Baginya, hari libur berarti waktunya main Zuma selama berjam-jam di depan laptop.

Meski hanya satu hari, tetap saja kegembiraan para pekerja seperti musafir yang menemukan pasir di tengah oase, mukjizat! Namun, salah besar, kalau ada yang berpikir bahwa hari libur pilkada adalah waktunya untuk tamasya sejak pagi. Bagaimana mau tamasya, kan harus ke TPS? Kalau tamasya itu ke Monas, Ancol, TMII, atau kalau mau agak jauh ke Puncak, Anyer, atau Bandung. Bukan ke TPS!

Pilkada Jakarta justru mencapai klimaks pada 19 April. Bagi warga Jakarta yang menghabiskan hari libur dengan berbaring seharian di kamar, tampaknya perayaan kemalasan itu sedikit terganggu. Anda ‘dipaksa’ untuk bangun dari mimpi indah dan bergegas menuju TPS untuk melubangi gambar salah satu pasangan kandidat, sekalipun itu memilih yang buruk dari yang terburuk.

Memang sih, tak ada yang lebih nikmat dari menghabiskan banyak waktu dengan menonton TV saat libur. Banyak yang berharap TV menyuguhkan acara-acara hiburan menyenangkan yang bisa bikin tertawa. Berharap ada tayangan yang bisa mengendurkan urat syaraf yang menegang. Tapi, bagaimana bisa mengendur, yang ada malah tambah tegang. Isinya perhitungan cepat (quick count) melulu.

Quick count membuat dua kubu harap-harap cemas. Angka demi angka disuguhkan. Itu semua adalah sesuatu yang jarang saya dapatkan ketika menyaksikan acara olahraga yang sering kali komentatornya mengucapkan kata-kata ‘liar’, semisal jebrett atau ahayy

Tapi tenang, tenang… Masih ada kegiatan alternatif yang lain untuk menikmati hari libur. Konon mendengarkan musik adalah medium relaksasi cukup ampuh menenangkan pikiran. Tidak ada salahnya, jika Anda sedikit menghabiskan waktu untuk menikmati beberapa tembang dari musisi idola sambil bersantai di rumah.

Mendengarkan musik pada momen yang tepat adalah kunci. Lupakan dulu semua lagu dari Calvin Harris atau singkirkan sejenak tembang dari The Chainsmokers, karena saya punya lagu yang membuat hari libur lebih terasa. Coba dengarkan lagu terbaru dari Ahmad Dhani yang berjudul ‘Sajak Sang Penista’.

Tanpa harus menjadi Bens Leo pun, Anda seharusnya tahu bahwa lagu itu didedikasikan untuk salah satu kontestan Pilkada Jakarta. Jika musisi lain punya tradisi membuat lagu religi setiap Ramadan, Ahmad Dhani punya kebiasaan merilis lagu pada momen pemilihan umum. Terakhir kali, ia merilis lagu pada Pilpres 2014.

Tapi, setelah saya pikir-pikir, apa iya lagu tersebut bisa mengendurkan urat syaraf? Yakin bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan saat hari libur pilkada? Serius nih bisa mendukung pelaksanaan pesta demokrasi yang gembira?

Pilkada Jakarta memang mencapai puncaknya pada 19 April, tapi segala tetek-bengek soal pemimpin ibukota masih akan mewarnai hingga beberapa hari ke depan. Tapi setidaknya, media sosial bisa mulai tenang. Segala caci-maki, fitnah, dan ujaran kebencian bisa berkurang. Ya semoga saja, media sosial kembali menjadi medium interaksi yang menyenangkan, bukan makin memuakkan.

Sebab, setelah pilkada, persoalan besar menahun yang dihadapi warga Jakarta jauh lebih besar, menyangkut hajat hidup orang banyak, dari masyarakat miskin kota hingga horang-horang kaya di ibukota. Apakah gubernur nantinya mampu membenahi kesemrawutan semudah yang dicuapkan saat kampanye?

Saya pribadi tak peduli siapa yang menang. Tapi untuk menjalankan mandat warga yang sebenarnya agak pesimis soal pembenahan Jakarta, sikap sportivitas dari dua kubu setelah pemilihan menjadi sangat penting. Jika tidak, akan mengganggu gubernur dalam menjalankan pemerintahan nantinya. Program-program untuk masyarakat bisa tersandera.

Kalau itu terjadi, asumsi yang mengatakan bahwa Pilkada Jakarta adalah sekuel dari Pilpres 2014 memang benar adanya. Kekisruhan yang sama kemungkinan besar akan berlanjut hingga Pilpres 2019. Jika demikian, sejarah bangsa ini akan mencatat peristiwa tersebut sebagai ‘Trilogi Kekisruhan Demokrasi’.

Jangan ada lagi ujaran kebencian, sentimen rasial, dan agama yang diumbar vulgar. Pun omong kosong yang berlindung di balik keberagaman. Mari ucapkan sayonara kepada huru-hara Pilkada Jakarta, sebab kita ingin menjalani demokrasi dengan cara yang menyenangkan. Kekisruhan hanya akan mengancam demokrasi itu sendiri.

Jadi, apa aktivitas menyenangkan Anda hari ini? Percayalah, itu akan menyelamatkan negeri ini…