Pilkada & Kontes Dangdut Ala Nassar dan Dewi Perssik
CEPIKA-CEPIKI

Pilkada & Kontes Dangdut Ala Nassar dan Dewi Perssik

tribunnews.com

Wahai rakyatnya Mas Ibas, apa kabar?

Boleh kan saya nanya kabar, gak harus nanya jagonya menang apa kalah? Atau, untuk nanya kabar pun saya mesti bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri?

Ya sudah, pilkada memang telah digelar serentak. Kita harus syukuri, karena selain berlangsung tertib dan damai, hari pemungutan suara ditetapkan sebagai hari libur nasional sama Pak Presiden.

Jadi habis nyoblos kita bisa selfie-selfie, terus pamer jari yang biru kecelup tinta pemilu. Bukan buru-buru balik kantor menghadapi kerjaan dan bos yang tetap galak gak peduli mau ada pilkada apa gak. Bahagia kan?

Yang di daerahnya gak ada pilkada apalagi, sudah gak harus masuk kantor, gak harus ke TPS pula. Tahu kayak gitu, mestinya tiap hari ada pilkada. Tapi tenang, di beberapa daerah – termasuk Jakarta yang dibahas orang se-Indonesia Raya – pilkadanya akan berlangsung dua putaran. Mudah-mudahan liburnya juga jadi dua kali.

Yang sudah pasti bully-bully-annya akan jadi dua putaran juga. Yang gak bisa dua kali cuma unfriend-unfriend-annya. Kan udah gak temenan…

Soal hasil pilkada, seperti kata Mas Agus, dalam setiap kompetisi pasti ada yang menang dan kalah. Walaupun yang keluar baru hasil hitung cepat, tapi buat beberapa pasangan calon dan tim suksesnya, ada yang merasa hasilnya oke oce. Sebaliknya, ada juga yang merasa hasilnya ya Allah ya Tuhan YME.

Itu wajar, masak semua pesertanya mau menang? Yang gak wajar itu kalau dalam satu kompetisi yang bersaing malah juri dengan pembawa acaranya, seperti yang terjadi di kontes dangdut di televisi. Pesertanya bengong, apalagi penontonnya.

Kalau di pilkada yang ditakutkan adalah perolehan suara yang rendah, kalau di kompetisi dangdut, Dewi Perssik sama Nassar malah sempat ngeributin suara yang terlalu tinggi. Seharusnya Ira Koesno dikirim juga untuk jadi moderator di kompetisi dangdut debat Dewi Perssik vs Nassar tersebut.

Saya yakin, kalau waktu itu ada program rumah tanpa DP, siapa yang beli duluan? Ya Nassar… Tapi katanya mereka sudah berdamai. Mbak Dewi Perssik sudah minta maaf secara ksatria, lho kok?

Balik lagi soal pilkada… Pengakuan Mas Agus memang harus diacungi jempol. Kalah bersaing, mengakuinya, lalu menelepon dan mengucapkan selamat secara ksatria kepada para pesaingnya. Kalau ada yang bilang itu soal biasa dan begitulah seharusnya, coba saya tanya, waktu gebetanmu memutuskan memilih orang lain, kalian mengucapkan selamat kepada pacarnya atau malah nyari alamat dukun pelet?

Berat, Bro… Kalah itu berat, tapi mengakuinya dua kali lebih berat. Pakai mengucapkan selamat pula. Rasanya pasti sama kayak salaman dengan suami atau istri mantan di resepsi perkawinan mereka.

Yang jelas pilkada di ibu kota – menurut hasil hitung cepat – akan digelar dua putaran. Nyoblos lagi, dua bulan lagi. Masih ada waktu untuk misuh-misuh sama orang di media sosial selama dua bulan lagi. Masih ada waktu buat nambah dosa….

Saya berpikir, mengingat tensinya yang begitu tinggi, seharusnya pilkada di Jakarta dibedakan dengan pilkada di daerah-daerah lain. Seharusnya, pilkada di Jakarta dibuat seperti pemilihan ketua kelas saja: juara satu jadi ketua, juara dua jadi wakilnya, cewek paling cakep jadi sekretaris, cewek paling pintar jadi bendahara, dan cowok paling gak berguna jadi ketua seksi keamanan. Atau dibuat ketua I, ketua II, dan ketua III kalau perlu. Kayak panitia tujuh belasan gitu.

Toh, Jakarta sudah punya pengalaman soal itu. Selama ini, Jakarta gubernurnya kan ada dua dan semuanya masih baik-baik saja, tuh. Malah sempat tiga gubernurnya: yang satu cuti, satunya gak – gak dianggap maksudnya – , plus satu plt.

Tapi pilkada bukan cuma digelar di Jakarta saja, banyak. Namanya juga pilkada serentak. Yang absurd menurut saya adalah sembilan daerah yang pasangan calonnya cuma satu, tapi pilkadanya tetap digelar. Pasangan calon tunggal tadi melawan kotak kosong.

Ini KPU kurang kerjaan atau biar ramai ada pilkada aja ya? Biar gak iri sama daerah-daerah lain. Kalau kalah, pilkadanya akan diulang. Coba bayangkan, calon macam apa itu yang melawan kotak kosong saja kalah?

Ini pasti jadi pilkada paling damai se-Indonesia, karena gak ada bully-bully-an antar pendukung pasangan calon. Lha, yang mau jadi tim suksesnya kotak kosong siapa? Dan, gak ada debat pasangan calon juga. Masak kotak kosong mau ditanyain program-programnya?

Kalau saya jadi warga di daerah yang calonnya cuma satu tapi pilkadanya tetap digelar, saya akan galang dukungan untuk kotak kosongnya. Ya supaya ada pilkada lagi, supaya ada libur lagi. Gak ada yang bisa menang melawan janji hari libur.

Namun sayang, di daerah saya gak ada pilkada. Tapi di kota tetangga, Kota Batu, warga akhirnya dipastikan bakal punya wali kota baru, karena wali kota sebelumnya sudah menjabat dua kali dan tidak boleh mencalonkan kembali. Dan berdasarkan hasil hitung cepat, kemungkinan Kota Batu akan dipimpin oleh wali kota perempuan! Kebetulan dia adalah istri Pak Wali Kota yang sudah menjabat selama dua periode tadi.

Lain Batu, lain Bekasi. Iya, saya tahu Bekasi itu jauh. Tapi percaya deh, di sana juga ada pilkada. Malah Mas Ahmad Dhani sempat unggul di hitung cepat. Saya jadi ingat janji beliau – bukan, bukan janji yang itu! – mau beli rumah di Bekasi kalau menang. Itu sih gampang, beliau kan seleb, beli rumah pasti semudah membeli tahu bulat yang digoreng dadakan.

Yang kedua adalah janjinya untuk menggelar konser Red Hot Chili Peppers. Dan plis ya, wahai warga Bekasi, Red Hot Chili Peppers itu bukan nama rasa baru martabak Markobar. Tapi sayang, hasil akhir hitung cepat menyebut kalau Mas Dhani gak jadi menang, gak jadi moshing-moshing deh kita di Jakarta, eh di Bekasi.