Petani Tomat dan Jomblo Yang Selalu Salah

Petani Tomat dan Jomblo Yang Selalu Salah

Beberapa hari lalu beredar foto tomat yang dibuang petani di jalanan dan selokan. Harga Tomat di level petani hancur lebur hingga di bawah Rp 500/kg. Nasib petani sungguh buruk.

Di tengah suramnya harga tomat, saya membaca sebuah berita. Seorang pejabat tinggi kementerian menyayangkan petani membuang tomat di jalan.

Menurut dia, petani harus kreatif mengolah berlebihnya panenan tomat agar tidak terbuang percuma. Entahlah, beliau ini sebenarnya pejabat kementerian atau motivator kewirausahaan.

Nasib petani tomat ini sungguh senada seirama dengan nasib jomblo, selalu salah. Apapun yang dilakukan, usaha keras dilakukan, hasilnya nabrak tembok: kamu salah. Tak percaya? Berikut akan saya bedah satu per satu dengan analisis yang mendalam:

1. Usaha Keras tapi Ditolak

Siapa sih yang ingin menjomblo selamanya? Rasanya pasti orang ingin punya pasangan untuk mencurahkan kasih sayang. Siapa sih petani yang ingin rugi? Rasanya semua petani menanam untuk cari duit, bukan cari penyakit. Namun kadang usaha keras kerap bertolak belakang.

Anda bisa bayangkan sendiri, menanam tomat dalam ancaman El Nino seperti beberapa waktu terakhir. Kerasnya luar biasa. Mengolah tanahnya, mencari airnya, hingga melawan Gemini Virus yang ganas menyerang tomat. Sudah susah payah seperti itu ternyata harga saat panen buruk sekali.

Mirip kan dengan nasib jomblo yang sudah pedekate dengan segala cara. Sering ke salon demi memperbaiki tampilan, memberi perhatian calon gebetan sampai jadi PBSI (Pacar Bukan, Sopir Iya).

Di saat sudah dekat dan merasa timingnya pas, kalimat sakti dikeluarkan, “Maukah kamu jadi cinta sejatiku?” Jawabnya singkat, “Kita berteman saja ya. Yaelah…” Friendzone forever.

2. Kirim Kode tapi Gagal

Petani Tomat di Indonesia memiliki total luas lahan panenan per tahun sekitar 60 ribu hektare (ha) dengan total panen sebesar 900-950 ribu ton. Jumlah ini naik turun dengan deviasi yang tak terlalu tinggi.

Luas lahan terbesar ada di Provinsi Jabar yakni seluas 12 ribu ha. Disusul Sumatera Utara, Jateng, dan Jatim, yang memiliki luas lahan tomat 4 ribuan ha.

Jabar memiliki total panenan tomat per tahun sebesar 300-350 ribu ton. Sekitar 30% dari total produksi tomat nasional ada di Jabar. Yang lebih spesial lagi, 35% total produksi tomat Jabar dihasilkan oleh satu daerah hebat: Garut.

Iya, daerah yang kemarin petaninya sempat protes membuang tomat ke jalanan karena harga tomat hancur lebur.

Dengan data sederhana ini seharusnya dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan khusus terkait tomat. Kode sederhana yang seharusnya ditanggapi cermat oleh pemerintah.

Tentu dengan sederhana pula bisa disiasati insentif semisal memberikan fasilitas-fasilitas khusus bagi usaha manufaktur besar dengan bahan utama tomat, serta menyediakan sarana transportasi dan pergudangan di sentra-sentra penghasil tomat.

Transportasi tersebut berguna untuk mengirim tomat produksi ke daerah yang membutuhkan banyak produk hortikultura. Sedangkan gudang khusus tomat dapat memperpanjang usia penyimpanan tomat saat panen berlebih. Namun, tidak ada yang terealisasi.

Kesedihan yang sama dialami jomblo. Sudah memberikan perhatian luar biasa dari level rendah semisal jadi follower di twitter, meski tidak difolbek, tapi tetap setia mention dan rituit.

Sampai level yang lebih kompleks seperti sering  traktir makan, nonton bahkan membelikan hadiah. Ternyata kode yang dikirim tidak tersambung sempurna. Dikira target, wah, ini ada rezeki nomplok. Cuma itu.

3. Kena Efek Bumerang karena Dikira Caper

Foto-foto tomat segar hasil panenan yang dibuang di jalan dan selokan menjadi viral kemana-mana. Aksi protes petani yang kesal karena pemerintah tidak hadir saat petani merugi bergema di sosial media. Semua berseru, “Pemerintah tak bertanggung jawab.”

Sampai kemudian saya membaca di sebuah situs berita mainstream (maaf, referensi saya media mainstream, bukan abal-abal) bahwa seorang dirjen di Kementerian Pertanian menyesalkan petani yang membuang tomat ke jalan.

Menurut dia, petani tomat harus kreatif mengolah hasil panenan yang berlebih. Dia mencontohkan ditambahkan gula dan diolah menjadi makanan seperti Torakur (Tomat Rasa Kurma) atau diproses dengan cara lain yang memberikan nilai tambah.

Sungguh luar biasa statemen pejabat Kementan ini. Petani yang tengah tertimpa kemalangan karena harga Tomat jatuh, justru diarahkan untuk keluar modal lebih banyak agar tomatnya bisa dimanufaktur. Modal darimana?

Petani sudah rugi karena biaya tanam yang mereka keluarkan tidak kembali saat harga panen buruk. Disuruh berutangkah petani untuk mengolah tomatnya?

Lalu siapa yang memikul risiko operasi, marketing, distribusi penjualan produk tersebut? Petani jugakah?

Kalau produknya tidak laku padahal petani sudah terlanjur pinjam uang untuk membuat pengolahan tomat, siapa yang menanggung beban bunga utang? Petani lagi?

Menyedihkan sekali level pejabat hari ini. Tak punya empati dan ngomong seenaknya sendiri. Bukannya hadir membantu atau empati, malah mengira petani tomat caper.

Petani dipersalahkan karena sedikit protes kaitan harga buruk entah karena apa. Yang mempersalahkan mungkin tak tahu beratnya mengayun cangkul dan berebut air serta merawat tanaman. Petani bekerja keras untuk itu. Orang dengan level kerja pinter goblok terima gaji sama akan sulit memahaminya.

Ini yang sama dialami dengan jomblo yang sudah lama perhatian serius namun ditolak. Lalu mencoba ‘sedikit’ curhat di sosial media. Menulis status sedih karena ditolak. Tentunya semuanya dilakukan dengan cara #nomention.

Lalu satu per satu kawan menghibur dan mendukung agar tidak menyerah. Sembari mengingatkan mungkin gebetan yang diincar itu bukan tipe yang cocok. Tuhan masih menyembunyikan sosok terbaik untuk jomblo tersebut.

Eh, ternyata yang nolak jomblo tersebut membaca. Lalu membalas dengan marah-marah di wall FB dan mention via twitter bahwa mengapa cinta jomblo ditolak karena usaha yang kurang keras, pengorbanan yang kurang banyak, dan lain sebagainya.

Padahal, sang jomblo sudah habis banyak uang untuk pendekatan, limit kartu kredit pun sudah jebol untuk biaya pendekatan. Life.

Perlu diingat, rasa cinta yang diabaikan, lama kelamaan dapat menjadi benci. Rasanya pemerintah perlu memperhatikan hal ini ke petani tomat.

Demikian juga gebetan harus sensitif terhadap apa yang sudah dilakukan jomblo. Jangan di-friendzone terlalu lama. Apalagi cuma di cieciezone doang. Duh… Kasihan…

Foto utama: vividscreen.info