Kendeng dan Hal-hal ‘Gendeng’ yang Perlu Kita Sadari

Kendeng dan Hal-hal ‘Gendeng’ yang Perlu Kita Sadari

Petani Kendeng (aktual.com)

Saya sempat membaca berita di media online ternama soal perkembangan terakhir aksi petani di Istana Negara, yang menolak operasional pabrik semen di Kendeng, Rembang, Jawa Tengah.

Isi beritanya tentang petani yang tetap kecewa, meski kepala Staf Presiden memastikan bahwa PT Semen Indonesia Tbk – salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) – telah menghentikan sementara aktivitasnya di sana.

Para petani Kendeng yang melakukan aksi memasung kaki dengan semen itu ingin izin operasi pabrik semen dicabut, karena warga setempat terancam kehilangan lahan pertanian, kerusakan lingkungan, hingga pencemaran. Lalu, apa reaksi pembaca atas berita tersebut?

Tepat di bawah paragraf akhir, tersedia beragam emoji yang bisa dipilih untuk mewakili perasaan pembaca. Ada emoji senang, terhibur, terinspirasi, tidak peduli, terganggu, sedih, takut, dan marah. Ayo tebak, emoji mana yang dapat suara terbanyak? Siapa yang jawabannya benar, silakan ambil sepedanya…

Ya, jawaban dulur-dulur semuanya ternyata salah!

Jawaban yang benar: Tidak peduli…

Mau tahu berapa persen pembaca yang memilih emoji tidak peduli?

100%!

Itu artinya, reaksi pembaca yang sedih atas nasib petani Kendeng 0%. Yang marah juga 0%. Begitu juga dengan pembaca yang merasa senang. Semuanya 0%, kecuali reaksi tidak peduli yang mendapat suara mutlak.

Mari bandingkan dengan berita video ‘mandi kucing’ Nikita Mirzani. Pembaca berita tersebut lebih banyak yang senang, dengan suara mencapai 43%. Sedangkan emoji reaksi lainnya di bawah itu. Atau, coba lihat reaksi publik tentang berita Nikita Mirzani yang katanya tanpa BH usai mendatangi Polda Metro Jaya.

Saya bukannya ingin sok idealis-moralis atau apa, sebab itu memang fakta bahwa selera pasar, modal, dan tuan kapital masih sangat menentukan sampai hari ini. Saya pun tidak bermaksud ingin melemahkan perjuangan para petani Kendeng, karena saya yakin perjuangan mereka itu tanpa batas, tuntas!

Mahkamah Agung (MA) sebenarnya sudah mengabulkan gugatan petani Kendeng terkait izin lingkungan pabrik semen. Tapi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo malah menerbitkan izin baru. Kalaupun petani kembali menggugat dan misalnya menang lagi, mau dikasih izin baru lagi gitu? Terus saja begitu sampai Arsenal juara Liga Inggris.

Lokasi pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara, Rembang. (Tempo)
Lokasi pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara, Rembang. (Tempo)

Memang susah bagi orang untuk memahami itu semua, jika belum merasakan hidup berdampingan dengan pabrik. Saya tinggal di salah satu desa di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di dekat rumah saya, ada pabrik pembuatan asbes.

Saya tahu rasanya bagaimana lingkungan yang mulai rusak ekosistemnya, karena keberadaan industri. Meski baru sekitar lima tahun pabrik itu berdiri, saya bisa merasakan getirnya kebisingan akibat polusi suara ataupun pengapnya udara yang keluar dari cerobong asap pabrik. Itu baru pabrik asbes, bagaimana pabrik semen?

Yang miris, kini mulai muncul pabrik dan industri besar yang merambah ke desa-desa. Bahkan, di desa sebelah, areal persawahan sudah hampir habis, karena tanahnya mulai diuruk, termasuk untuk perumahan. Mungkin ini hanya sedikit rengekan dibandingkan kerasnya tuntutan dulur-dulur di Kendeng. Atau, di Papua?

Sodara-sodara di Papua sudah berpuluh tahun kehilangan tanah adat dan lingkungannya rusak akibat aktivitas tambang dan perkebunan. Kaum fatalis memang tidak terusik dengan perusakan alam oleh industri besar. Namun tidak bagi petani. Sawah adalah ruh kehidupan. Dan, para petani tidak bisa begitu saja beralih profesi menjadi buruh pabrik, seperti yang dikehendaki pemilik modal maupun kelas menengah.

Dengan nyamannya, mereka meminta para petani untuk merelakan tanahnya demi pendirian pabrik. Petani akan lebih sejahtera, kalau menjadi buruh. Sebab, setiap bulan akan mendapat kepastian gaji dari pabrik. Lha, ini yang namanya cacat pikir.

Ibarat ekosistem, ada yang namanya keseimbangan. Kalau yang satu rusak, yang lain ikut rusak. Ekosistem akan terganggu. Petani adalah saudara kandung kaum buruh. Tidak semestinya hubungan mereka dirusak demi kepentingan pemilik modal.

Bagi pemilik modal ataupun kelas menengah tidak akan peduli dengan tanah yang rusak, sehingga tidak bisa lagi ditanami. Mereka hanya mengeluh bagaimana polusi udara karena asap rokok, kemacetan di jalan, ataupun meragukan nasionalisme pemain bola yang bermain di luar negeri karena tidak mau membela tim nasional.

Mereka begitu santainya karena tidak mengalami langsung dampak kerusakan lingkungan, apalagi bagaimana caranya menanam komoditas pangan. Mereka hidup di ruangan berhawa sejuk di kantor-kantor, sehingga hidupnya hanya berpikir gajian saat tanggal-tanggal tua. Gaji itu dibutuhkan untuk membeli bahan pangan.

Mereka pun hanya tahu bahan makanan yang sudah tersedia di toko. Kemudian lupa bahwa para petani menanam itu untuk isi perut mereka. Namun, ketika bahan pangan mulai langka dan harga mulai melambung karena ketiadaan maupun kerusakan lahan untuk bercocok tanam, mereka juga yang cerewet mengkritik pemerintah tidak becus menjaga kestabilan bahan pokok.

Lalu, ketika pemerintah mengimpor bahan pangan untuk menstabilkan harga, dengan dalih nasionalisme mereka akan berseru bahwa pemerintah tidak peduli nasib petani yang menanam bahan pangan.

‘Gendeng’ kan?

Ibarat dunia persilatan, butuh orang-orang seperti Sinto Gendeng dan muridnya, Wiro Sableng, beserta kapak Naga Geni 212 dan jurus-jurusnya semacam ‘kunyuk melempar buah’ hingga ‘pukulan sinar matahari’ untuk hal-hal semacam itu. Atau, kita memang sudah ‘gendeng’ karena lebih doyan semen pecel daripada nasi pecel?