Pesan Balasan untuk Joey dan Kaum Nasionalis Sambalado

Pesan Balasan untuk Joey dan Kaum Nasionalis Sambalado

tenpens.wordpress.com

Jari-jemarinya begitu anggun menari di atas tuts-tuts piano. Alunan nada-nada indah nan elegan sontak membuat hadirin ajang Grammy Awards 2016 terkagum-kagum. Bahkan Taylor Swift harus rela mengangkat bokong indahnya dari tempat duduk dan memberikan standing ovation.

Bakat Joey Alexander tidak tiba-tiba jatuh dari langit. Bakat yang dimiliki datang dari orang tuanya. Dalam sebuah wawancara dengan media, peraih dua nominasi Grammy Awards itu pernah menceritakan pengalaman belajar musik jazz secara otodidak dari orang tuanya, Denny Sila dan Fara.

Sejak Joey masih bayi, sang ayah yang begitu menyukai jazz selalu memperdengarkan lagu-lagu, salah satunya yang dipopulerkan Louis Armstrong. Lalu, pada usia enam tahun, ia mulai main piano milik ayahnya. Sungguh beruntung Joey memiliki keluarga penggemar jazz, sehingga ia tak kesulitan untuk belajar menjadi musisi jazz.

Lalu apa sulitnya menjadi musisi jazz, ketika anda berada di tengah-tengah keluarga yang mencintai jazz juga? Joey itu seperti buah yang jatuh tak jauh dari kebunnya. Kalau saya yang di posisi Joey, mungkin yang akan tampil di Grammy bukan Joey tetapi saya.

Andaikata Joey dilahirkan dari keluarga petani. Sehari-hari, ia hanya akan menemui hamparan sawah berikut kerbau dekil. Boro-boro meminta piano, untuk makan aja susah. Satu-satunya alat musik yang mungkin bisa dikuasainya paling cuma suling. Itupun kalo Joey sering memainkannya saat menjaga sawah dari ancaman burung-burung perusak.

Lantas apalah artinya bakat, jika tak dikombinasikan dengan peran orang-orang di sekitarnya? Bayangkan, apa jadinya Lionel Messi, jika dulu tak ditemukan oleh pemandu bakat Barcelona? Bakat Messi hanya akan membusuk di klub semenjana di Argentina bernama Newell’s Old Boys.

Joey sekali lagi sangat beruntung bertemu dan sempat dilatih oleh Indra Lesmana, musisi jazz kawakan Indonesia. Ayah dari Eva Celia itu menjadi gurunya selama kurang lebih 2 tahun. Indra Lesmana lah yang menjadi pintu gerbang bagi Joey untuk menceburkan diri di pusaran musisi-musisi jazz kenamaan dunia.

Tanpa butuh waktu lama, pada usia delapan tahun, Joey mendapat kesempatan berharga ber-jam session dengan pianis legendaris Herbie Hancock di Jakarta, juga tampil di Java Jazz. Menuliskan keberuntungan-keberuntungan Joey seperti menguras samudera. Tak akan ada habisnya.

Joey dinilai sebagai musisi sukses dan jadi kebanggaan Indonesia. Betapa bangganya kita melihat Joey tampil di penggung yang sama dengan Bruno Mars dan Taylor Swift. Lantas bagaimana dengan musisi atau putera-puteri Indonesia lain yang juga mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional?

Bagaimana dengan White Shoes and The Couples Company yang sukses mondar-mandir manggung di Jerman, Finlandia, Swedia, Perancis, Denmark, Italia, dan Belanda? Lalu bagaimana dengan model cantik asal Indonesia bernama Ayu Gani? Ia berhasil menjadi pemenang di Asia’s Next Top Model pada 2015, sebuah ajang model bergengsi di Asia.

Apakah kadar kesuksesan hanya bisa diukur dari tampil dan menjadi nominee di ajang Grammy? Saya tahu kalau Grammy itu ajang penghargaan musik bergengsi, tapi mengklaim sebagai ajang terbaik itu salah besar. Grammy itu seperti ajang-ajang lainnya. Hanya konsepnya saja yang ‘dunia’ versi Amerika Serikat tentunya. Hanya di Grammy, musik rap mendapat tempat yang nyaman. Rap yang notabene adalah musik yang tumbuh subur di Amerika.

Lantas apakah sebagai warga Indonesia harus terlalu bangga kepada Joey? Apakah bagi orang yang bersikap biasa saja seperti saya akan dicap sebagai anti nasionalis? Jujur saya kagum dengan Joey, tapi saya menolak bangga yang overdosis seperti orang-orang yang berkoar-koar bangga dengan Joey yang seakan-akan birahi nasionalisnya sudah tak tertahankan.

Satu-satunya yang saya kagumi dari Joey adalah ia bisa melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan. Ia bisa main piano dengan alunan musik jazz, sedangkan saya tidak.

Saya jadi teringat sebuah quote dari karakter antagonis di film Whiplash, Terence Fletcher. ‘There are no two words in English language more harmful than ‘good job’. Seorang Charlie Parker tidak akan pernah menjadi Charlie Parker, jika Jo Jones tidak melempar simbal kepadanya. Setelah kejadian itu, Charlie Parker berlatih keras dan jadilah Charlie Parker sebagai peniup saxofon jazz handal  dunia.

Begitu berbahayanya sebuah pujian yang datang dengan cepat dan bertubi-tubi kepada musisi hingga dianggap sebagai teror. Terkadang bagi musisi, kritik itu lebih baik ketimbang pujian. Seorang musisi akan terpacu untuk membuktikan kemampuannya guna menjawab kritikan tadi.

Puja-puji untuk Joey bisa jadi menjadi momok menakutkan baginya. Joey bisa saja terlena dengan sanjungan-sanjungan dan merasa puas dengan apa yang diraihnya saat ini. Rasa bangga yang berlebihan dari kaum nasionalis dadakan itu bisa menjadi belenggu yang akan membuat karir Joey mandek.

Kemudian Joey hanya akan dikenang sebagai musisi jazz Indonesia yang hanya pernah tampil di Grammy. Setelah itu, Joey akan terkubur bersama kebanggaan yang telah dialamatkan kepadanya. Joey hanya akan mudik ke Indonesia dan tampil mengisi acara musik pagi-pagi yang banyak alay-alaynya.

Masyarakat Indonesia memang mempunyai kecenderungan reaktif, kalau berkaitan dengan urusan produk-produk dari Indonesia ketika diapresiasi oleh dunia. Rasa bangga atas Tanah Air sontak menggebu-gebu, tatkala ada produk dari dalam negeri diakui oleh pihak luar negeri.

Joey merupakan salah satu contoh produk dari Indonesia juga yang diklaim sebagai produk terbaik dari bumi pertiwi yang menaklukkan dunia. Mereka yang reaktif ini yang saya sebut sebagai nasionalis dadakan.

Akan tetapi rasa bangga dan jiwa nasionalis dadakan tadi akan surut seiring jalannya waktu. Kebanggaan yang tadinya menguap akan meredup begitu saja. Bisa dibilang kebanggaan dan jiwa nasionalis tadi sama seperti sambalado yang cuma pedas di bibir saja.

Dulu sekali, salah satu budaya Indonesia yaitu Reog Ponorogo mendadak diklaim dan diapresiasi oleh negeri tetangga, Malaysia. Mendengar kabar tersebut, jiwa nasionalis yang selama ini terkubur bersama mimpi Indonesia terbebas dari korupsi mendadak bangkit. Bangun dari tidur lamanya. Lantas seluruh warga Indonesia pun berlomba-lomba mengutuk sikap Malaysia dan mengklaim dengan penuh bangga bahwa Reog itu asli Indonesia.

Kemudian setelah pertunjukan birahi nasionalis tadi selesai, Reog kembali hanya menjadi budaya lokal yang kuno yang kini makin terpinggirkan di negeri sendiri, karena laju budaya modern yang datang bertubi-tubi ke bumi pertiwi. Para nasionalis dadakan tadi pun bungkam dan kembali mengacuhkan Reog lagi. Mereka kembali menyembah budaya modern yang lebih menarik ketimbang Reog.

Entah sampai kapan mereka acuh terhadap Reog atau budaya lainnya yang terancam tersingkir. Mungkin sampai ada negara lain yang mencoba kembali mengklaim dan mengapresiasi budaya Indonesia lainnya seperti wayang atau batik misalnya.

Setelah memuaskan birahi nasionalis untuk Joey, lalu apa setelah itu? Apakah kalian akan tetap bangga kepada Joey dengan mencoba menikmati karya-karyanya atau kembali memuja-muja Justin Bieber dan One Direction? Saya yakin anda lebih memilih menyimpan album Rihanna di playlist ketimbang album milik Joey Alexander.

Apakah mereka yang bangga overdosis itu akan tetap bangga andai Joey tidak tampil dan masuk nominasi di Grammy? Bagaimana jika Joey hanya sekedar musisi jazz yang hanya tampil di kafe-kafe di pinggiran Amerika? Lantas apakah harus menunggu Joey diklaim dan diapresiasi dulu oleh negara lain baru dibanggakan mati-matian?