Pesan Anak Metal untuk Joey dan Alay-alay

Pesan Anak Metal untuk Joey dan Alay-alay

jazz24.org

Sebagai anak metal kemarin sore yang cuma jago headbang sampe ketombe mencar ke mana-mana, saya pun salut dengan kemampuan Josiah Alexander Sila alias Joey Alexander, pianis Jazz kelahiran Bali, Indonesia. Liukan jari dan denting piano bocah berusia 12 tahun itu bikin saya berhenti headbang sesaat. Leher terasa kaku. Mata melotot. Mulut menganga.

Pianis cilik yang imut-imut itu bahkan bisa-bisanya menyalip Metallica dalam peringkat Billboard 200 atau tangga album terlaris di AS pada Januari lalu. Peringkat album ‘My Favorite Things’ milik Joey menyodok ke atas melewati album ‘Self-titled’ Metallica. Damn!

Yang bikin leher semakin kaku adalah penampilannya di panggung Grammy Awards 2016. Sampai-sampai penyanyi kelas dunia seperti Taylor Swift, Bruno Mars, Selena Gomez, dan Mark Ronson memberikan standing ovation untuk keponakan Nafa Urbach itu.

Tidak percuma Joey diperkenalkan langsung oleh Neil Portnow, president The National Academy of Recording Arts and Sciences (NARAS). Joey adalah fenomenal. Dia adalah nominee termuda dalam sejarah Grammy Awards. Joey berhasil masuk dua nominasi, yaitu ‘Best Improvised Jazz Solo’ dan ‘Best Jazz Instrumental Album’. Luar biasa.

Sekarang saatnya menjawab pertanyaan ini, “Hey Joey, where you goin’ with that gun in your hand? Saya tambahkan Y dari Joe menjadi Joey dari lirik lagunya Jimi Hendrix tersebut. Saya lebih setuju Joey tetap tinggal di New York, Amriki. Kalau perlu sampai tua. Harus total, apalagi sudah dikontrak oleh label di sana. Jangan pernah berpikir untuk bolak-balik ke Indonesia.

Nggak usah khawatir kalau ada yang bilang nggak nasionalis, karena nggak sering-sering perform di Indonesia. Asalkan nggak pindah kewarganegaraan. Lagipula negara berperan apa selama ini? Tapi, kalau sesekali, tak ada salahnya juga.

Saya, yang bukan siapa-siapa ini, hanya bisa berpesan, kalau perform di Indonesia, harus selektif. Sombong? Ah, nggak juga. Saya nggak kebayang aja, kalau Joey ngisi acara di program musik di TV yang pagi-pagi itu.

Bayangkan, ketika Joey memainkan komposisi milik Thelonius Monk berjudul ‘Well, You Needn’t”, lalu di belakangnya ada segerombolan alay-alay yang memaksakan diri mengikuti alunan Jazz dengan tarian ala pembantu rumah tangga, cuci-cuci, bilas-bilas, jemur-jemur. Apa kata dunia? thumbs down!

Nggak perlu maksain alay-alay untuk suka atau setidaknya mendengarkan musik Jazz. Sudah cukup mereka menikmati lagu-lagu, seperti ‘Cari Pacar Lagi’, ‘Lambaikan Tangan ke Kamera’, ‘Buka Dikit Joss’, ‘Buka Banyak Joss’, ‘Rokok Cinta ini Membunuhku’, dan kawan-kawannya itu.

Jangan pernah juga me-remake lagu-lagu alay dengan balutan komposisi Jazz yang megah nan mewah itu. Jadilah Joey sebenar-benarnya Joey, yang terkenal dengan improvisasinya sampai-sampai musisi dunia bertepuk tangan sambil berdiri.

Di negeri ini sungguh aneh, Joey… Musik tak lebih dari sekadar kemasan saja. Ada yang mengklaim dirinya rocker, musisi reggae, metal, punk, dan berbagai macam genre musik lainnya. Tapi apa? Mereka persis handphone Nokia jadul yang dipasangi casing ala smartphone.

Kalo sudah berambut gimbal, kupluk merah kuning hijau, dan hisap gele, anak reggae gitu? Begitu juga mereka yang pakai anting di sekujur tubuh, tato kodok, dan rambut mohawk, anak punk gitu?

Pantaslah kalau masyarakat Indonesia menilai kalau anak punk itu tak lebih dari sekumpulan gembel. Di luar negeri, orang-orang yang berdiri di jalur reggae, punk, rock, dan metal adalah para pemberontak yang menentang ketidakadilan, penindasan, perang, diskriminasi, dan lain-lainnya. Bukan angguk-angguk, geleng-geleng, sampe otak bergeser.

Belum lagi netizen di sini terkadang sering usil. Baru masuk nominasi Grammy Awards, Joey sudah diadu-adu sama mbak Anggun C Sasmi dan Agnez Mo. Sampai-sampai Anggun bilang tak adil kalau dirinya dibandingkan dengan Joey. Lalu, Agnez Mo disindir, “Agnez kapan ya?” Itu tak lebih ulah haters yang memanfaatkan kesuksesan Joey. Memang para haters bisa apa, selain bikin status?

Begitulah pernak-pernik di Tanah Air. Jadi bagaimana Joey? Where you goin’ with that gun in your hand? Ya sudah begitu saja pesannya. Saya mau lanjut headbang lagi. By the way, bisa diiringi sama musik Jazz nggak, Joey?