Perkenalkan… Godot, Musuh Terbesar Gojek

Perkenalkan… Godot, Musuh Terbesar Gojek

gr-pro.com

Menemukan driver gojek yang mau pick up orderan itu rasanya seperti Vladimir dan Estragon yang sedang menunggu Godot, dalam naskah klasik karya sastrawan Irlandia, Samuel Beckett.

Naskah berjudul ‘Waiting for Godot’ atau ‘Menunggu Godot’ bercerita tentang dua sahabat karib, Vladimir dan Estragon. Mereka menunggu sesuatu yang tak pasti alias Godot.

Sama halnya dengan pengguna Gojek saat ini, menunggu lama dan tak pasti. Entah itu karena takut sama ojek pangkalan atau mulai kalah bersaing dengan Grab Bike.

Ojek pangkalan dan Grab Bike sebenarnya bukan musuh maupun saingan utama Gojek. Musuh terbesar ya Godot itu. Kalau pelanggan dibiarkan terus menerus menunggu lama dan tak jelas, pasti bakal kecewa dan bisa berpindah ke lain hati.

Bagaimana tidak kecewa? Padahal, saat itu, ada banyak driver Gojek yang standby. Tapi, dari sekian banyak driver yang terlihat di map, tidak ada satupun yang mau menerima order.

Sebagai manusia modern yang tidak bisa lepas dari gawai, hampir setiap hari orang tercekoki cerita tentang layanan Gojek yang inovatif. Mulai dari cerita tentang drivernya yang santun, tidak ugal-ugalan, masker gratis, penutup kepala, harga yang fair, hingga promo Rp 10 ribu yang batas waktunya diperpanjang terus.

Cerita-cerita seperti inilah yang membuat sebagian orang terjebak dalam penantian panjang menunggu Godot. Saya sendiri pernah berkali-kali mencoba order, tapi tetap saja gagal.

Ujung-ujungnya pakai jasa ojek pangkalan. Ah…memang dasar nasib. Mau ikutan nge-hits seperti orang-orang kok susah bener!

Eh.. tapi apa yang saya alami ternyata bukan sesuatu yang spesial. Seperti yang dikatakan Rendra dalam salah satu sajaknya, “Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita.”

Setelah saya melakukan riset kecil-kecilan di beberapa media sosial, saya jadi tahu bahwa masalah menunggu driver gojek ini juga dialami oleh banyak orang.

Di Path, salah seorang teman menuliskan keluhannya – sambil curi-curi curhat tentang kehidupan asmaranya – “Aku mah apa atuh… finding driver gojek aja susah, gimana mau finding lover?”

Lalu, di Twitter, saya menemukan tweet seperti ini, “Gojek susah di-order. Finding driver terus statusnya. PHP! Lelah.”

Bahkan, sudah ada yang putus asa sampai-sampai berani mengadukan hal ini kepada Tuhan, “Ya Allah, Gojek susah bener. Sudah 8 kali order gak dapet-dapet.”

Keluhan-keluhan itu tentu cuma contoh kecil saja. Coba saja tulis di menu pencarian Twitter seperti ini, “Susah cari driver gojek.” Niscaya, kamu akan menemukan beragam jenis keluhan kepada Gojek terkait susahnya melakukan order.

Seperti Vladimir dan Estragon yang terlibat perbincangan seru sembari menunggu Godot. Para penunggu driver gojek ini juga terlibat perbincangan seru di media sosial.

Ada yang memberikan saran untuk coba layanan lain, ada yang mendukung keluhan tersebut dengan menceritakan kisah yang sama, ada yang coba menganalisis, ada juga yang mention ke akun Twitter resmi Gojek lalu mendapat balasan dengan diawali kata sapa ‘Hi’.

Ada Harapan?

Di balik lama dan sulitnya melakukan order gojek ini, sebenarnya tersimpan harapan bagi abang-abang ojek pangkalan. Coba kita lihat tagline dari aplikasi Gojek yang terpampang di play store, “The ultimate time-saving app.” Bagaimana mau menghemat waktu? Mendapatkan drivernya saja lama bener.

Nah, inilah peluang bagi abang-abang ojek pangkalan untuk kembali memikat konsumen yang konon kabarnya sudah pindah ke lain hati.

Jalanan yang padatnya minta ampun seperti Jakarta, ditambah lagi ancaman waktu yang selalu terasa mendesak, membuat layanan ojek menjadi alternatif yang menjanjikan. Sebelum layanan Gojek booming, harapan untuk mengatasi itu semua ada di pundak abang-abang ojek pangkalan.

Lalu, gojek datang dan tiba-tiba saja ojek pangkalan menjadi gambaran semua keburukan layanan ojek. Percayalah, setiap pengguna layanan ojek sebenarnya punya satu tujuan, yaitu mengejar waktu.

Ketika aplikasi Gojek memiliki kelemahan berupa sulitnya melakukan order sehingga menghabiskan waktu, pelanggan bisa saja merasa kehilangan tujuan dalam menggunakan layanan. Akhirnya, kecewa.

Kekecewaan ini mulai saya rasakan. Untungnya masih ada abang-abang ojek pangkalan yang kehadirannya terasa sangat membantu untuk melewati kepadatan jalan di Jakarta dan tiba tepat waktu di tempat tujuan.

Ketika abang-abang ojek pangkalan terus diintimidasi karakternya sehingga menjadi tampak sebagai pusat segala keburukan layanan ojek, ternyata abang-abang masih bisa diharapkan.

Menggunakan layanan ojek pangkalan sangat mudah, tinggal datang ke pangkalan lalu panggil tukang ojeknya, naik, dan berangkat. Tidak perlu menghabiskan waktu sambil menatap layar gawai yang hanya menampilkan tulisan ‘finding driver’ terus menerus.

Ketimbang membuat spanduk bertuliskan “Ojek pangkalan Kawasan A menolak kehadiran Gojek di wilayah kami!” Saran saya lebih baik abang-abang ojek pangkalan bikin spanduk dengan tulisan seperti ini, “Bosen nyariin driver Gojek? Sama abang saja, gak pake lama langsung gas.”

Percaya deh, langganan-langganan abang akan tercerahkan dan kembali kepada abang. Setelah langganan kembali, abang juga pasti ikut tercerahkan dan jadi percaya bahwa yang namanya rezeki memang sudah ada yang ngatur.

  • Oche

    Iyaaaa kmrn juga gegara finding tp ga ada yaa akhirnya cancel booking deh

  • Tree

    Bang ojek

  • Ah, setuju.
    Pada dasarnya balik lagi ke kebijakan user.
    Saya pribadi menggunakan Gojek karena percaya layanan mereka dan tarif yang reliable. Tapi jika mengharapkan “saat itu booking, saat itu di-pick up” tidaklah bijak. Karena biar gimana pun juga sistem aplikasi akan terikat sistem yang mengaturnya.
    Saat buru-buru dan memang harus segera berangkat, saya beralih ke ojek pangkalan yang kebetulan di seberang kantor. Saat yang dituju bisa menunggu, kenapa tidak menggunakan Gojek untuk menikmati tarif reliablenya?

    Btw, itu yang di Path saya ya? Haha

    Sukses terus. Tulisannya menginspirasi.