Berpikir Ulang tentang Apa yang Kamu Perjuangkan

Berpikir Ulang tentang Apa yang Kamu Perjuangkan

Ilustrasi (zastavki.com)

Kanjeng Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk tidak usil dan mencurigai keimanan orang lain. Ia melakukan itu tak hanya secara lisan dengan menganjurkan kita menjauhi ghibah dan dengki, tapi juga melalui perbuatan terutama saat ia menegur Usamah bin Zaid.

Usamah adalah seorang pasukan Muslim yang ikut berperang melawan Bani Huraqah. Saat pasukan Muslim di atas angin, banyak pasukan musuh yang melarikan diri. Usamah tidak sendiri saat mengejar pasukan musuh itu, ia bersama seorang pemuda Anshor.

Maka, saat ia bertemu dengan seorang Bani Huraqah ketika terkepung dan tersudut, si musuh ini mengucapkan syahadat. Si pemuda Anshor kemudian menghentikan pedangnya, sementara Usamah membunuhnya.

Saat tiba di Madinah, berita tersebut sampai ke Kanjeng Nabi. Lalu, beliau bertanya kepada Usamah, “Wahai Usamah, apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa ilaaha illallah?”

Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekadar untuk melindungi dirinya.”

Banyak kisah yang menceritakan bahwa Nabi menegur Usamah dengan kata-kata, “Apakah kau tidak membelah dadanya dan melihat sendiri ia bersyahadat karena takut padamu atau karena ingin masuk Islam?”

Kita tahu bahwa Nabi tidak membenci Usamah karena ia membunuh saat perang, tapi karena ia menghakimi orang lain yang telah menyatakan diri masuk Islam.

Nabi Muhammad membiarkan orang lain untuk menjalankan keyakinannya bahkan setelah ia menguasai Mekkah. Ia tidak membalas perlakuan jahat dengan perlakuan yang lebih jahat.

Meski saat berdakwah di Mekkah ia kerap di-sweeping dan didatangi kaum Kafir yang membencinya karena menyebarkan ajaran Islam, ia tidak membalas perilaku itu saat berkuasa.

Sebab, ia tidak sedang membela dirinya sendiri atau menunjukkan bahwa ia benar. Ia sedang menyampaikan ajaran Islam yang teduh lagi damai.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berhenti mengayunkan pedangnya saat perang, karena si calon korban meludah kepadanya. Ia mengambil jeda dan memutuskan tak membunuh si calon korban.

Belakangan kita tahu, ia menolak membunuh karena merasa berperang demi Allah. Jika ia menebas leher orang yang meludah kepadanya, berarti ia membunuh atas nama amarah.

Ini tidak sekali ditunjukkan Imam Ali. Pada pengujung ajalnya, ia menolak menghukum langsung orang yang hendak membunuhnya.

Imam Ali, di hadapan anak-anaknya, memerintahkan si pembunuh untuk diperlakukan adil. Ia hanya boleh dihukum mati, jika Imam Ali telah benar-benar meninggal.

Tak hanya menolak menghukum langsung, tapi Imam Ali meminta Ibnu Muljam, teroris yang pandai mengaji dan rajin ibadah itu, untuk dikendurkan ikatannya dan diberi air minum. Ia juga memaafkan perbuatan biadab yang membuatnya sekarat.

Imam Ali tahu, menghukum karena hukum Allah dan menghukum karena amarah pribadi adalah dua hal yang berbeda.

Kualitas terbaik umat tidak hanya berhenti pada Imam Ali. Keturunannya, semoga Allah memuliakan Nabi Muhammad dan keturunannya, memang menunjukkan kualitas iman yang demikian indah.

Dalam sebuah kisah diceritakan, usai pembantaian di Karbala dan berkuasanya Yazid bin Muawiyah, para jenderal yang bertanggung jawab atas pembantaian Imam Husain, diburu oleh Yazid.

Seorang jenderal yang membunuh kerabat Nabi itu lantas bersembunyi di rumah seseorang yang disebut As-Sajjad’ (orang yang banyak bersujud).

Selama tiga hari, AsSajjad menjamu dan merawat jenderal pembunuh itu dengan baik. Pada hari ketiga, As-Sajjad memenuhi seluruh kantung-kantung di unta milik jenderal itu dengan makanan.

Ia pun memberi tamunya air minum dan bekal untuk melanjutkan perjalanan dan mendoakan kebaikannya.

Si jenderal pembunuh ini tahu As-Sajjad adalah keturunan Imam Husein yang kerabatnya dibunuh saat perang di Karbala. Ia bertanya pada AsSajjad, “Apakah kau tidak mengenaliku?”

AsSajjad berkata, “Aku mengenalimu sejak Karbala.”

Si jenderal balik bertanya, “Lantas mengapa kamu merawatku?”

As-Sajjad pun menjawab: “Itu (pembantaian di Karbala) adalah akhlakmu. Sedangkan ini (keramahan) adalah akhlak kami. Itulah kalian, dan inilah kami.”

AsSajjad adalah Imam Zainal Abidin yang mahsyur karena kebaikan hatinya. Saya pun teringat bagaimana semestinya kemarahan pribadi dan tanggung jawab dipisahkan.

Kamu bisa saja sangat membenci perilaku FPI, tapi jika kemudian mereka dibubarkan tanpa proses pengadilan yang adil, apakah kamu akan membela?

Ujian terbesar adalah bagaimana kita bersikap adil saat marah. Seseorang yang marah – apalagi berkuasa – bisa melakukan dan membenarkan apapun. Seolah tindakan yang dilakukan saat marah bisa dilepaskan dari kesalahan. Tapi benarkah demikian?

Demokrasi, agama, kehormatan diri, dan kebenaran merupakan perkara bagaimana kita memandang sebuah ide. Sejauh mana kita akan bersetia pada ide yang kita percayai.

Saat kamu percaya dengan demokrasi, apakah kamu akan membela orang yang membencimu saat haknya direbut?

Jika kamu meyakini keimanan, apakah kamu akan menolong mereka yang menghina agamamu?

Dan, jika kehormatan atau hakmu diinjak, apakah kamu akan menolong orang lain yang telah menginjakmu?

Kita tahu bahwa saat kita disakiti, kita berhak melawan balik. Itu adalah hal yang wajar dan diperbolehkan.

Tapi, sejauh mana kamu akan memisahkan kebencian pribadimu dengan ajaran Tuhan yang maha suci? Sudahkah niat baikmu membela Tuhan dan ajarannya terlepas dari amarah pribadimu?

  • jauhari mahardhika

    Ya gak lah, masa belain orang yang membenci kita meski haknya direbut. Gak banget, begitu bukan? Hehe…

  • Zig Ziglar

    wah harus dimatangin dulu..