Pergi ke Bukit Percintaan Adalah Cara Paling Asyik Menertawakan Jakarta

Pergi ke Bukit Percintaan Adalah Cara Paling Asyik Menertawakan Jakarta

Wisata perbukitan di Lombok (wisatalombokyes.com)

“Jakarta itu terlalu angkuh dengan segala polemiknya.” Begitu kira-kira ungkapan sepupu saya, si Oca, ketika saya selesai menyeduh dua cangkir kopi hitam yang tampak begitu nikmatnya. Jujur, mendengar kekesalan tersebut saya tidak terlalu kaget. Saudara saya ini memang tipe orang yang langsung nyerocos, jika sedang kesal. Saat itu, ia lagi kesal dengan layar televisi di depannya.

Si Oca bisa dibilang seorang backpacker. Ia begitu tertarik pada perjalanan yang jauh. Beberapa jam yang lalu, ia baru saja selesai dengan aktivitas petualangannya. Ia bisa terdampar di Jakarta saat ini pun cukup mengherankan buat saya. Sebab, ia adalah orang yang entah kenapa begitu sinis dalam memandang Jakarta.

“Kenapa ya, Jakarta selalu memaksa orang-orang untuk memperhatikannya,” ujar dia dengan nada ketus. “Padahal, Jakarta ini selalu memproduksi masalah,” cerocosnya.

Ia pun terus bicara dan tentu saja saya tak ingin diceramahi. Saya kemudian memotong omongannya, “Gimana perjalanan ke Lombok?” Ia tampak nggak nyaman saat saya memotong bacotannya. Tapi akhirnya dia melunak. “Ya daripada kita ngobrol soal sejuta masalah Kota Jakarta, mendingan kita bahas yang asyik-asyik aja,” katanya sambil menyeruput kopi.

Ia lalu mulai menceritakan perjalanannya ke Lombok, tepatnya ke Mataram. Oca ini memang pencerita yang baik. Ia begitu apik dalam menjelaskan setiap perjalanannya. Saya yang belum pernah ke Lombok pun dibikin penasaran dengan apa yang ia lakukan di sana.

Si Oca bercerita bagaimana indahnya Lombok Barat. “Kau mau wisata alam? Budaya? Sejarah? Berburu barang unik? Semuanya ada. Dari pantai sampai pegunungan selalu menyimpan keindahan,” tuturnya. Saya pun hanya bisa menyimak. Daripada dia nyerocos soal Jakarta lagi, yang kita semua tahulah problemnya kayak apa. Lagipula, saya juga penasaran dengan cerita-ceritanya. Sudah jenuh juga tiap hari disuguhkan berita-berita pro-kontra basian pilpres.

“Kau pasti pernah dengar Pantai Senggigi kan? Itu pantai keren sekali. Sepanjang mata hanya perpaduan tiga warna yang memanjakan, yaitu luasnya hamparan pasir putih yang diapit oleh warna hijau perbukitan dan birunya laut. Tapi jangan salah, fasilitasnya lengkap,” jelasnya berlagak macam pengamat pariwisata saja.

Wisata pantai (wisatamu.com)
Wisata pantai (wisatamu.com)

Dia pun terus bercerita. “Pantai Senggigi yang sudah terkenal saja masih sepi, apalagi gili-gili yang tersebar di Gita Nada. Sangat pas, kalau kau mau bebas dari kehidupan yang bising seperti di Jakarta. Lagian ngapain kau di Jakarta terus!”

Ah, bedebah. Di tengah cerita tentang keindahan pun si Oca masih sempat meledek saya. Tapi saya nggak mau menanggapinya. Apalagi deskripsinya itu mengingatkan saya kepada salah satu film yang diperankan Leonardo DiCaprio, The Beach, film yang bercerita tentang sebuah pantai yang sangat tersembunyi dan begitu indah. Sampai-sampai pantai tersebut hampir menjadi mitos, karena keberadaannya sangat dirahasiakan.

Tak putus sampai di situ, si Oca kemudian melanjutkan ocehannya. “Salah satu yang membuatku suka travelling adalah bisa ketawain semua persoalan yang terjadi di Jakarta. Termasuk perjalanan kemarin ke Lombok,” kata Oca sambil tertawa lebar. Ah, ia mulai coba-coba lagi dengan bacotannya soal Jakarta.

Saya yang sedang tinggal di Jakarta tentu saja tersinggung. “Lho, apa alasanmu ngomong begitu?” protes saya agak kesal. “Ya kasihan banget. Tiap hari bergulat dengan macet. Tiap tahun was-was kalau hujan deras. Yang lebih kasihan lagi, sibuk berantem soal keyakinan si gubernur,” pungkasnya. Saya pun terdiam. Kampret.

Gunung Rinjani (panduanwisata.id)
Gunung Rinjani (panduanwisata.id)

Si Oca ini terus saja nyelonong omongannya tanpa permisi. “Oh ya, yang saya suka dari Lombok Barat adalah Bukit Percintaannya,” katanya tampak bersemangat. “Wah itu bukit indah sekali. Dari atasnya, kau bisa memandang lapisan bukit yang seakan muncul begitu saja dari perut bumi. Kalau kau mau ke sana, kau coba pas sore hari biar bisa menikmati sunset. Suasananya sangat romantis. Kau ingat film The Secret Life of Walter Mitty? Pemandangan Bukit Percintaan persis di film itu,” ucapnya dengan mantap.

Tentu saja saya ingat film itu. Film yang betul-betul bangsat sinematografinya. Menampilkan pemandangan Greenland hingga Islandia yang begitu memukau. Dan, ada yang seperti itu di Lombok Barat? Saya tak mau mengajukan pertanyaan tersebut ke Oca. Saya sudah tahu jawaban dia paling seperti ini, “Kau terlalu lama dihisap Jakarta. Terserah mau percaya atau tidak!” Membayangkan ia ngomong begitu saja saya sudah kesal.

Setelah perbincangan itu, saya lalu bertanya kepada om Google. Lalu mencari artikel yang membahas tentang Bukit Percintaan di Lombok Barat itu. Tak lama, saya pun paham bagaimana si Oca bisa sebegitu semangatnya waktu menceritakan tentang bukit ini. Dari gambar yang saya temukan melihatkan bahwa pemandangan di bukit tersebut memang menakjubkan.

Semakin penasaran dengan alam Lombok Barat, saya pun mulai mencari artikel-artikel tentang kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut. Dan, saya akhirnya bersepakat dengan Oca bahwa Lombok Barat memang menyuguhkan destinasi wisata yang lengkap. Saya pun setuju dengannya bahwa pergi ke Lombok, apalagi menyambangi Bukit Percintaan, adalah salah satu cara paling asyik untuk menertawakan semua masalah yang ada di Jakarta.